Lukas Jayadi, dari kain beralih ke otomotif

Lukas Jayadi (JIBI/SOLOPOS/Dina Ananti Sawitri S)Lukas Jayadi (JIBI/SOLOPOS/Dina Ananti Sawitri S)

Dari berbisnis kain, akhirnya merambah dan besar di dunia otomotif, itulah Lukas Jayadi, pemilik PT Dayang Motor Indonesia. Dijumpai di ruang pamer perusahaannya di Jl Kol Sutarto No 100 Jebres, Solo, awalnya dia malu-malu menceritakan awal mulanya kiprahnya di dunia otomotif. Usahanya itu adalah bagian mimpi dan cita-citanya. Hal-hal berbau perbengkelan bukan bidang baru baginya.

Lukas Jayadi (JIBI/SOLOPOS/Dina Ananti Sawitri S)

Di bidang ini, Lukas mengawalinya pada 1967. Kala itu, dia bekerja sama dengan importir sepeda motor Jepang dan berkantor di Jakarta. Sebelumnya, Lukas penjual benang tenun dan tekstil di Pasar Klewer. Dia yang sehari-hari menempati kios EE 45-48, tak memiliki pengalaman khusus tentang otomotif. “Saat itu, motor Jepang baru masuk Indonesia, bersaing dengan motor Eropa, Italia dan Jerman seperti Vespa, Zundapp dan Lambretta. Rasanya penasaran ingin mengotak-atiknya sendiri,” kenang Lukas saat ditanya awal mula perjalanan kariernya.

Pada awalnya, penjualan motor Jepang boleh dibilang seret jika dibandingkan produk Eropa yang lebih dulu menguasai pasar. Seiring dengan pengembangan produk-produk inovasi baru yang masuk Indonesia, permintaan komoditas ini terus bertambah. Saat permintaan motor Jepang melonjak, dirinya pun harus putar otak lantaran pasokannya kurang. Meski demikian, Dewi Fortuna berpihak kepada dirinya. Lukas justru bisa berjualan motor tanpa modal. Caranya, pembeli menitipkan uang untuk inden sepeda motor tersebut.

Padahal rentang waktu antara inden dan barang datang itu kurang lebih tiga bulan. Para pembeli malah menitipkan uang sebagai jaminan tanda jadi. Karena yang dijual sepeda motor Yamaha dan Honda yang tengah laku di pasaran, masyarakat pun percaya menitipkan uang dan menunggu tiga bulan lamanya. “Saya tinggal menunggu barang datang dan mengirimnya kepada pelanggan. Saat itu, saya merasa bekerja hanya mengandalkan jaringan tanpa ada modal,” ulasnya.

Mengembangkan bisnis ini memang pasang-surut. Untuk menguatkan sisi finansial, dia dan keluarga besarnya bersama mengembangkan bisnis ini. Alhasil, hingga kini beberapa saudaranya membuka dealer sepeda motor yang bermula dari bisnis patungan ini. Kebutuhan onderdil misalnya, melibatkan saudaranya dan tidak menggunakan teknisi
asing. Keputusannya ini tak lain agar bisa memanfaatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) dari dalam negeri.
“Jika semua masih bisa ditangani tenaga kerja Indonesia, kenapa harus cari ahli dari luar negeri,” ungkapnya.

Saat itu, Lukas tidak langsung menjadi pembuat motor, tapi mengembangkan usaha di bidang perakitan. Setelah merasa kuat di sektor perakitan dan memungkinkan untuk mengepakkan sayap untuk membuat motor, Lukas yang hobi melahap buku-buku kisah sukses para tokoh ini mengajukan izin untuk membuka industri pembuatan motor. “Yang menjadi Menteri Perindustrian masih Pak BJ Habibie. Saat itu, pemerintah memang getol-getolnya menggeliatkan industri dalam negeri,” ulasnya.

Setelah membuka bisnis pembuatan motor pada 1998, Kota Bengawan bergejolak. Situasi kota yang kala itu tak menentu justru menjadi berkah bagi usahanya. Dia bisa menjual semua produknya. Saat itu, seluruh stok kendaraan roda dua terjual. Dalam sehari saja, dia sempat mendapat laba bersih hingga Rp 1 juta. “Meski beberapa waktu lalu bisnis motor sempat menurun tapi saya yakin permintaan moda motor niaga masih bagus,” jelas dia.

Dayang berani bersaing dengan produsen motor asal Jepang. Produk-produknya antara lain sepeda motor, skuter, bemo untuk pariwisata maupun niaga, becak motor untuk berbagai fungsi dari mulai perpustakaan keliling, laundry, air minum isi ulang hingga untuk warung. Selain itu, dia mengembangkan produk otopet, hingga skuter air. Kini, produksinya mencapai 500 hingga 3.000 unit/bulan, dengan pangsa pasar delapan negara meliputi Afrika, Mesir, Bangladesh, India, Pakistan, Nigeria dan Peru. Dia juga memasok sepeda motor dan motor niaga hingga pelosok negeri.
“Ada 40 daerah di dalam negeri yang saya pasok, sementara tren permintaannya selalu meningkat,” jelas dia.

Dina Ananti Sawitri Setyani

Editor: | dalam: Tokoh |


Iklan Cespleng
Menarik Juga »