Cupu Panjolo, tradisi yang senantiasa ditunggu masyarakat Panggang, Gunungkidul

RAMAI -- Pelaksanaan pembukaan cupu panjolo tahun lalu di kediaman pelaku budaya tradisi sekaligus abdi dalem Kraton Ngayojokarto Dwijo Sumarto di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul. Acara ini selalu diminati masyarakat. (JIBI/Harian Jogja/Endro Guntoro).RAMAI -- Pelaksanaan pembukaan cupu panjolo tahun lalu di kediaman pelaku budaya tradisi sekaligus abdi dalem Kraton Ngayojokarto Dwijo Sumarto di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul. Acara ini selalu diminati masyarakat. (JIBI/Harian Jogja/Endro Guntoro).

Tradisi pembukaan cupu panjolo akan kembali digelar kembali menjelang petani memulai musim tanam tahun ini. Tradisi sudah berjalan puluhan tahun ini akan kembali dilaksanakan di rumah pelaku budaya tradisi juga abdi dalem Keraton Ngayojokarto Dwijo Sumarto di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Selasa Kliwon, 3 Oktober 2011 dini hari mendatang.

RAMAI -- Pelaksanaan pembukaan cupu panjolo tahun lalu di kediaman pelaku budaya tradisi sekaligus abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Dwijo Sumarto di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul. Acara ini selalu diminati masyarakat. (JIBI/Harian Jogja/Endro Guntoro).

Sutarpan Mangku Atmojo selaku juru bicara kerabat Dwijo Sumarto di Desa Girisekar mengatakan berbagai persiapan pembukaan cupu panjolo sudah dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti tikarat dan puasa agar puncak tradisi pembukaan cupu panjolo nanti berjalan lancar.

“Untuk persiapan fisik tidkak ada selain hanya persiapan diri para pembantu abdi dalem Dwijo Sumarto agar kelangsungan acara pembukaan cupu nanti lancar adanya,” kata Sutarpan Mangku Atmojo kepada Harian Jogja, Senin (26/9).

Kegiatan tradisi budaya setahun sekali dilaksanakan ini sudah disampaikan pihak kerabat Dwijo Sumarto kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemkab Gunungkidul yang menjadikan tradisi pembukaan cupu panjolo sebagai agenda pariwisata spriritual dan tradisi di Gunungkidul.

Sekretaris Dewan Kebudayaan (DK) Gunungkidul Dwijo Winarto membenarkan rencana kegiatan tradisi budaya tersebut akan digelar malam Selasa Kliwon yang akan datang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tradisi pembukaan cupu panjolo akan dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai wilayah di DIY dan Jateng.

“Tapi sampai saat ini saya belum mendapat kepastian apakah Pemkab Gunungkidul akan memfasilitasi layar tambahan untuk pengunjung yang berada diluar, kami belum mendapatkan kejelasan,” tambahnya.

Banyak warga penasaran akan tradisi budaya yang sudah turun temurun digelar setiap tahun selama sembilan turunan dari Dwijo Sumarto ini. Tak mengherankan masyarakat datang dari DIY dan Jateng karena meyakini pembukaan cupu yang terbungkus ratusan lembar kain kafan dan disimpan selama setahun dirumah sesepuh Girisekar ini muncul gambar-gambar yang dipercayai khalayak sebagai petunjuk sekaligus prediksi kejadian dan peristiwa yang akan terjadi setahun kedepan.

“Memang Mbah Dwijo Sumarto tidak menyimpulkan arti dari gambar-gambar dalam setiap lembar kain kafan itu. Masyarakat sendiri yang memaknai sehingga mungkin karena gambar-gambar itu kebetulan terjadi banyak orang yang akhirnya percaya,” jelas Winarto, pelaku budaya tradisi.

Dia menjelaskan, tradisi pembukaan cupu sendiri biasanya dimulai selepas pukul 01.00 wib setelah dilakukan dua kali kenduri mulai sejak pukul 22.00 wib. Ribuan pengunjung yang datang dan meluber sampai di pekarangan rumah tetangga sekitar Dwijo Sumarto, tepat di kaki gunung di Girisekar itu wajib mengikui santap nasi gurih dan secuil dagaing ayam sesaji persembahan beberapa warga yang memiliki doa pengharapan.

Sejarah tradisi budaya cupu sendiri, lanjut Winarto merupakan cerita rakyat tentang aktivitas nelayan yang menjala ikan di pantai setempat dan menemukan empat cupu, salah satunya bernama cupu klobot yang diyakini sudah raib. Tiga cupu terdiri dari semar kinandu, Palang Pinanthang dan yang berukuran paling kecil Kenthi Wiri yang masih disimpan utuh Dwijo Sumarto dari sembilan silsilah keturunan awalnya merupakan tradisi untuk melihat prediski bagi kebutuhan masyarakat petani melihat alam saat memasuki masa tanam.

Dalam perjalanan waktu berjalan, lanjut Dwijo Winarto, ramalan cuaca ini diyakini juga prediksi peristiwa dan kejadian alam yang banyak diyakini menjadi pertanda kejadian dalam setahun kedepan untuk meneropong nasib perdagangan, bidang ekonomi, bencana alam hingga bidang politik pemerintahan dan kriminal. “Pagi harinya, ratusan lembar kain kafan pembungkus tiga cupu ini selanjutnya dilabuh di pantai terdekat dan cupu dibungkus kafan baru untuk disimpan dan lembali dibuka tahun berikutnya,” pungkas Sekretaris Dewan Kebudayaan Gunungkidul.

Endro Guntoro

Editor: | dalam: Travel |


Iklan Cespleng
Menarik Juga »