Jogja Minim Cinderamata Khas

Aneka cinderamata dijual di Malioboro (JIBI/Harian Jogja/dok)Aneka cinderamata dijual di Malioboro (JIBI/Harian Jogja/dok)

Saat berkunjung ke Jogja, apa oleh-oleh yang dibawa wisatawan pulang yang bisa menjadi ikon namun berharga murah? Seperti gantungan kunci yang bisa diperoleh wisatawan di Singapura dengan harga sekitar Rp70.000 dan mendapat 10 biji.

Di Singapura, gantungan kunci selalu menjadi alternatif buah tangan yang murah.

Lantas seberapa jauh UMKM di Jogja mampu membuat cinderamata yang bisa menjadi ikon Jogja namun tetap berharga miring bagi wisatawan? Selama ini cinderamata yang bisa menjadi ikon Jogja selalu kaos Dagadu meski tak begitu ramah di kantong semua kalangan wisatawan.

Sejumlah penjual cinderamata seperti gantungan kunci, wayang atau gelang di emperan Malioboro ditemui Harian Jogja, Selasa (12/6) mengakui, barang yang mereka jual nyaris tak berciri khas Jogja. Barang-barang seperti gelang, gantungan kunci bermotif batik sudah bertebaran di mana-mana, dengan mudah didapat saat berwisata ke daerah lain tak harus jauh-jauh ke Jogja.

Kesuksesan Dagadu rupanya belum ditemukan di cinderamata lain yang lebih murah. “Semuanya sama, barangnya umum. Ini seperti gelang di mana-mana ada,” ungkap Imam salah satu penjual cinderamata.

Karenanya kata dia, tak ada barang yang menonjol penjualanya dibanding barang lain. “Yang tren juga nggak ada, semuanya sama,” tuturnya. Karena itu pula, konsumen lebih banyak memilih barang yang berharga murah seperti gelang tangan dari tali rajutan yang dijual hanya Rp2.000 per buah. Cinderamata yang dijual Imam memang berharga miring. Mulai dari Rp2.000 hingga Rp15.000. Per hari ia bisa menjual 20 hingga 40 barang.

Ia pun berharap, kesuksesan pelaku industri kreatif di Jogja dalam membranding kaos Dagadu dapat diikuti UMKM saat ini dengan produk cinderamata yang murah. Sehingga diharapkan banyak wisatawan yang berburu cinderamata murah khas Jogja.

“Sebenarnya bisa saja, seperti Jogja kan ciri khasnya Tugu, tapi belum ada yang membuat khas sampai sekarang,” tandasnya.

Tak hanya Imam, Bu Wito pedagang cinderamata seperti wayang dan dompet juga mengakui hal serupa. “Dulu wayang atau cinderama gambar batik laris sekarang malah nggak. Karena sudah banyak yang buat. Batik kayu saja nggak cuma dari Bantul, di Klaten juga buat. Memang tidak ada yang khas,” ungkapnya.

Adapun Alfian, salah satu wisatawan saat ditanya cinderamata apa yang menjadi khas Jogja mengaku tak tahu. Menurutnya barang-barang yang dijual semuanya umum karena dapat ditemui di daerah lain. “Nggak ada yang khas kalau cinderamata, sama saja semuanya,” tutur wisatawan asal Solo, Jawa Tengah itu.

Editor: | dalam: Kota Jogja |


Iklan Cespleng
Menarik Juga »