Dengan demikian, ujarnya, pemenang putaran pertama, pasangan Jokowi-Ahok, berpeluang besar untuk memenangkan kembali Pilkada DKI Jakarta. Siti pun mengemukakan berdasarkan hasil penelitian, sebagain besar calon yang menang pada babak pertama juga menang pada putaran kedua pemilihan. “Untuk Pilkada DKI, ini merupakan kebangkitan masyarakat sipil. Mereka melihat figur dan pilihan mereka tidak akan sirna, karena sudah terlanjur jatuh cinta, ujarnya, Rabu (18/7/2012).
Kendati peluang pasangan Jokowi-Ahok besar untuk memenangkan Pilgub DKI Jakarta, dia mengingatkan akan munculnya perang ideologi. Selain itu, ujarnya, tidak tertutup kemungkinan berkembangnya black campaign menjelang putaran kedua pemilihan umum kepala daerah tersebut.
Dia menilai masyarakat pemilih saat ini cukup cerdas untuk menyikapi berbagai manuver politik. Selain itu, masyarakat pemilih di Jakarta lebih melihat figur ketimbang parpol yang mengusung sang calon seperti yang terjadi pada Partai Golkar.
Meski didukung oleh Partai Demokrat, PAN, Hanura dan partai kecil lainnya, pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli tidak berhasil memenangkan Pilkada putaran pertama. Hal yang sama juga terjadi pada Partai Golkar yang mengusung Alex Noerdin.
Menurut Siti, kalau Jokowi menang maka harus benar-benar melewati putaran kedua yang bersih dari berbagai intrik. “Kalaupun Pak Jokowi harus menang saya ikut bangga. Tapi masyarakat harus memiliki peran penting untuk menentukan siapa yang bersih, tidak korup dan mampu memimpin DKI Jakarta nanti. Dan kalau itu ditempuh dengan melanggar UU saya tidak setuju,”katanya. Yang terpenting, menurut Siti, warga Jakarta ikut menentukan masa depan Jakarta. Mereka juga harus memastikan memilih pemimpin yang bersih dan transparan.
Baca Juga:
- INDONESIA OPEN 2013 : Tontowi/Liliyana Kerja Keras untuk Pastikan Putaran Kedua
- ISL 2013 : Taklukan Persela 1-3, Persib Naik ke Posisi Dua
- Persis Solo PT LI Bakal Selektif Pilih Pemain
- ISL 2013: Shevchenko Gabung Mitra Kukar di Putaran Kedua?
- AXIATA CUP 2013 : Menang Mudah Atas Filipina, Indonesia Kokoh di Puncak
Editor: Bambang Aris Sasongko | Dalam : Nasional,Pilihan,Pilihan |









Kecerdasan pemilih Jakarta yang tidak pernah terkontaminasi oleh pengaruh – pengaruh yang tidak mendidik merupakan cikal bakal potret Pilkada di Indonesia. Jakarta merupakan barometer politik, oleh karenanya, pemilih Jakarta yang cerdas merupakan bukti legitimasi cerdasnya pemilih di Indonesia masa depan. Hal ini akan berdampak positif bagi tumbuh kembangnya Demokrasi. Jokowi berpotensi menang karena selalu menampilkan gaya kampanye yang bersifat mendidik dan tidak arogan dan mempropagandakan isu-isu sesat. Kekuatan partai politik dalam arena politik masa kini justru hanya merupakan warna luar yang kelihatan dan bukan titik kunci penentu keluarnya sang juara dalam pertarungan. Partai hari ini tidaklah lebih dari sekedar kereta mediasi yang membawa sang calon pada arena pertarungan, urusan selanjutnya adalah rakyat yang menentukan pilihannya sendiri berdasarkan analisa-analisa serta pertimbangan-pertimbangan rasional serta logis demi menyelamatkan situasi kebersamaan. Trims..!!