Gara-Gara Rika

2908-ahtenane

Kisah nyata ini dialami oleh Lady Cempluk, karyawati anyaran sebuah perusahaan di Solo yang berasal dari Banyumas. Cempluk orangnya supel dan mudah bergaul, tapi logat Banyumasnya sangat kental ketika berbicara.

Siang itu waktunya  rolasan. Seperti biasa, karyawan perusahaan menghentikan pekerjaannya untuk makan siang di sebuah warung tidak jauh dari kantornya. Hampir semua karyawan makan siang kecuali Cempluk yang masih tampak asyik menyelesaikan pekerjaanya. “Tanggung kalau pekerjaan ini dihentikan, soal makan nanti saja,” pikir Cempluk.

Pukul 14.00 WIB pekerjaan Lady Cempluk selesai. Dia pun bergegas untuk makan siang. Sebagai karyawan anyaran Lady Cempluk berusaha ramah kepada teman-temannya, dengan cara berbasa-basi menawari makan.

Rika sudah makan?” tanya Cempluk dengan logat Banyumasan yang medhok.

Lho, saya ndak tahu, Mbak,” jawab Gendhuk Nicole lugu. Kebetulan di tempat Lady Cempluk dan Genduk Nicole kerja ada karyawan yang bernama Rika.

Lho, masak ndak tahu. Rika tadi sudah ke warung apa belum?” tanya Cempluk sekali lagi.

Mendengar pertanyaan itu, Nicole menjawab apa adanya. “Lha jelas ndak tahu, wong hari ini itu Rika tidak masuk kerja. Rika sakit!” jawab Genduk Nicole. “Kalau pengin tahu Rika sudah makan atau belum, ya telepon Rika sana. Ini saya punya nomornya!” lanjut Nicole agak jengkel. Untungnya di tengah percakapan itu Cempluk segera tahu adanya miskomunikasi di antara keduanya.

Eh, maaf, Mbak. Yang saya maksud itu Mbak Nicole sudah makan apa belum?” Lady Cempluk bertanya ulang. Cempluk pun menjelaskan bahwa dalam bahasa Jawa banyumasan, arti rika itu adalah kamu. “Jadi rika itu bukan nama orang,” lanjut Cempluk.

Oh maksudnya gitu ta. Saya kira menanyakan Mbak Rika,” jawab Gendhuk Nicole sambil pringas-pringis kisinan.

 

Krisnanda Theo Primaditya, RT 04/RW 19 No 158, Mojosongo, Solo

Editor: | dalam: Ah Tenane |


Iklan Cespleng
Menarik Juga »