Jam Pelajaran di Sekolah akan Ditambah

ilustrasiilustrasi

JOGJA—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana menambah jam pelajaran siswa di sekolah. Kendati masih bersifat uji coba, tetapi ketersediaan guru masih dipertanyakan.

Evaluasi kurikulum yang dilakukan Kemendikbud untuk mengetahui efektivitas pembelajaran menghasilkan sejumlah opsi. atu di antaranya melakukan uji coba dan perbandingan di sejumlah sekolah dengan mengubah jam belajar dari 23 jam per minggu menjadi 30 jam per minggu.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Baskara Aji mengaku belum mendengar informasi tersebut. Hanya secara umum penambahan jam belajar telah dilakukan sekolah secara mandiri. Jumlah jam dan varian mata pelajaran (mapel) akan disesuaikan dengan kebutuhan siswa dari sekolah masing-masing.

Sebenarnya sekolah secara mandiri sudah punya kebijakan ini. Tapi kalau benar dilaksanakan secara menyeluruh, sebaiknya kita melihat dulu ketersediaan guru,” kata Aji kepada Harian Jogja beberapa waktu lalu.

Namun ia berharap sebelum kebijakan tersebut disahkan, Kemendikbud dapat mempertimbangkan laporan pemetaan guru yang dihasilkan masing-masing provinsi. Pasalnya tanpa kebijakan penambahan jam mapel direalisasikan, hampir seluruh daerah mengalami kekurangan guru.

Guna mengakali kekurangan ini, satu guru dapat mengajar lebih dari satu mapel. Namun persoalan ini disebutnya tidak menyelesaikan masalah secara tuntas.

Berbeda halnya, imbuh dia, jika jam belajar dilakukan secara mandiri seperti selama ini yang telah dilakukan. Lantaran sekolah masing-masing dapat mengukur kemampuan sehingga tidak akan memberatkan siswa maupun menambah beban belanja sekolah.

Dari siswa maupun kelas saya rasa tidak masalah, tapi balik lagi siapa yang akan mengajar?” kata Aji. 

Tidak Layak

Pengamat Pendidikan dari UNY, Djohar menilai peraturan ini tidak layak diberlakukan. Menurut dia saat ini justru jam pelajaran siswa di sekolah sudah terlalu banyak. Jika ditambah lagi, justru siswa akan terbebani.

Semakin banyak jam pelajaran semakin siswa tidak dapat apa-apa. Inilah yang terjadi pada anak zaman sekarang. Ini salah betul,” tegas dia.

Agar tidak menjadi bom waktu kejenuhan di masa depan, Kemendikbud diminta mendesain ulang kurikulum secara memadai. Termasuk meneladani ajaran Ki Hajar Dewantara berupa Tut Wuri Handayani.

“Anak itu diciptakan unik, tidak bisa disamakan. Jadi peraturan tidak bisa begitu saja diseragamkan,” kata Mantan Rektor UST ini.

Editor: | dalam: Kota Jogja,Pendidikan |
Iklan Baris
  • program yamaha

    Program yamaha, uang muka Rendah angsuran Ringan,Proses Cepat&Mudah. Terima Tukar tam…

  • Butuh babysiter

    Butuh Segera PRT Bisa Momong Bayi,Muslim,Sabar,Jujur,Tidur Dlm 800Ribu-1Juta Kasongan Bant…

  • Butuh drafter

    Dibutuhkn Segera Posisi Drafter,Estimator,Administrasi Proyek.Diutamakan Pengalaman Minima…

  • Melayani pasang gigi behel

    Melayani Pasang Gigi&Behel Berkwalitas&Bergaransi Harga: 50ribu, 100ribu, 150rib…

  • Butuh Satpam

    Butuh Satpam Pria/wanita Untuk DIY SMP/SMA Maksimal 35tahun Minimal 167cm Info Jelas Hubun…

  • toko gordyn butuh karyawan

    Toko gordyn butuh karyawan&penjahit gordyn.aneka sprei gordyn yogya.m.supeno76.hubung…

  • karyawan untuk depo air minum

    Cari laki laki yangg benar benar mau kerja di depo air minum.syarat:jujur& pekerja ke…

  • pasang gigi dan behel

    Pasang Gigi&Behel Berkwalitas&Bergaransi Harga@50rb@100rb BAYU: 0817265829, 0813…

  • Dijual tanah

    Dijual Tanah: 1 Hektar,Harga:50ribu/Meter. Lokasi JL.BEDOYO-WONOGIRI Cocok Minat Hubungi:…

  • BR Gypsum

    BR GYPSUM grosir ecer elephant, Knauf jaya,kalsibot,holo,galvanis,galvalum, lis,profil,bed…

Menarik Juga »