RITUAL CUPU PANJALA
Banyak Gambar Tokoh Protagonis Muncul di Kain Kafan

Ritual Cupu Panjala tahun lalu (JIBI/Harian Jogja/dok)Ritual Cupu Panjala tahun lalu (JIBI/Harian Jogja/dok)

GUNUNGKIDUL—Puluhan gambar muncul pada ratusan helai kain kafan pembungkus pusaka Cupu Panjala yang dibuka dengan ritual khusus, Selasa (18/9) dini hari di rumah ahli waris pusaka Dwijo Sumarto di Padukuhan Mendak, Desa Girisekar Kecamatan Panggang, Gunungkidul.

Sebagian masyarakat percaya gambar-gambar tersebut menjadi pertanda peristiwa yang akan terjadi di masa datang. Beberapa gambar yang muncul antara lain merang, kendi serta sejumlah tokoh pewayangan. Ditemukan pula irisan tembakau, cengkih, cabai, kulit pohon dan serat kayu.

“Tahun ini banyak gambar positif yang muncul dibandingkan gambar-gambar dua tahun terakhir yang sempat membuat perasaan terus waswas,” kata Ketua Pepadi Gunungkidul, Heri Nugraha yang juga polisiti Golkar di DPRD Gunungkidul.

Anggota DPRD Gunungkidul lainnya yang mengikuti ritual tersebut, Suharno berharap kemunculan irisan tembakau, cengkih, cabe, kulit pohon dan serat kayu menjadi pertanda untuk membaca peluang pertanian ke depan.

“Tadi muncul tokoh wayang Dewi Kunthi yang merupakan ibu dari tokoh Arjuna. Kunthi itu pernah menjadi duta Pendawa untuk salah satu misi ke Hastinapura. Ini ditambah adanya gambar perempuan rambut panjang diikat di atas dengan mengenakan pakaian serempang yang menurut saja meyerupai tokoh perempuan,” papar Harno.

Gambar lain yang dianggap bermakna positif adalah Petruk berjoget pada lapisan terakhir kain kafan pembungkus pusaka. Sejumlah gambar tokoh pewayangan lain yang muncul pada lapisan kain antara lain Wisanggeni, Narada, Samba dan Kumbukarna.

Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, CB Supriyanto yang turut hadir mengatakan, gambar atau benda apapun yang ditemukan dalam ritual itu menjadi pemaknaan diri pribadi masing-masing. Menurut dia, baik buruknya makna setiap gambar dan benda sangat relatif dan beragam. Dia mengimbau semua pihak menyikapi secara dewasa dalam memandang nilai tradisi kebudayaan.(ali)

Editor: | dalam: Gunung Kidul |
Iklan Baris
Menarik Juga »