INDEKOS
PHRI Solo Keluhkan Maraknya Indekos Harian

SOLO—Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo mengeluhkan maraknya indekos yang menerima tamu harian di Kota Solo. Bisnis indekos harian ini dinilai menjadi pesaing baru bagi industri perhotelan khususnya hotel kelas melati.

Ketua PHRI Solo, Abdullah Suwarno mengatakan keberadaan indekos ekslusif ini mulai marak pada 2011 hingga 2012. Pihaknya berharap Pemkot Solo dapat menertibkan serta mengatur indekos yang menerima tamu harian serta mingguan itu.

“Dari segi pajak mereka hanya berkontribusi sebesar 5% karena masuk sebagai usaha indekos. Sedangkan kami dari pihak perhotelan membayar pajak sebesar 10%,” ujarnya kepada Solopos.com di ruang kerjanya, Rabu (27/2/2013).

Menurut Abdullah, fasilitas kamar yang ditawarkan pengusaha indekos ekslusif ini hampir sama dengan kamar hotel. Namun dari segi keamanan, indekos ini cukup meresahkan karena tidak menerapkan standardisasi keamanan yang diterapkan hotel. Mereka juga tidak melaporkan kepada pihak kepolisian setiap tamu yang menginap di indekos tersebut. Berbeda dengan pengusaha hotel, mereka selalu menerapkan keamanan ekstra terutama bagi wisatawan yang berasal dari luar negeri. Nomor paspor warga negara asing selalu dicatat dan dilihat masa berlakunya.

“Ini merupakan fenomena baru yang merugikan usaha perhotelan. Jika mereka memang mau menggarap segmen pasar itu seharusnya mereka mengurus perizinan seperti hotel,” ujarnya.

Lebih lanjut, Abdullah mengatakan saat ini hotel kelas melati memang kesulitan mencari pelanggan. Mereka kalah dari sisi pelayanan, fasilitas dan tarif. Ia mengaku beberapa hotel berbintang sering membanting tarif kamar. Tarif itu menciptakan persaingan yang kurang sehat antarpengusaha hotel.

Editor: | dalam: Ekonomi |
Iklan Baris
Menarik Juga »