GAGASAN
Mencari Guru Idola?

Bandung Mawardi
Pengelola Jagat Abjad Solo
Alumnus Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia
dan Daerah
Universitas Muhammadiyah
Surakarta. (FOTO/Istimewa)Bandung Mawardi Pengelola Jagat Abjad Solo Alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Muhammadiyah Surakarta. (FOTO/Istimewa)

Di Solo, selama Februari-Maret, ada hajatan Teachers Idol 2013. Acara berlatar pendidikan itu menghendaki ada penghormatan terhadap guru, pemuliaan manusia pengajar-pendidik. Kita turut memberi sokongan doa agar guru bisa menjadi sosok terhormat dan bermartabat.

Publik mungkin tak mempersoalkan hajatan itu sebagai ”luka bahasa” dan ”ironi kultural”. Acara untuk guru tentu mengandung pesan-pesan mulia, memendarkan ingatan kultural di masa silam dan situasi zaman mutakhir.

Guru adalah tokoh fenomenal dalam sejarah pendidikan dan politik, tokoh menentukan di arus modernisasi di Jawa awal abad XX. Ketokohan guru itu masih ada di ingatan publik, hadir di narasi-narasi tak rapuh di laju waktu.

Ingatan guru di masa Orde Bari bisa menjadi perbandingan. Para istri menteri, melalui organisasi Ria Pembangunan, pernah mengadakan pemilihan guru teladan. Agenda ini dilaksanakan sejak 1971. Penggunaan sebutan ”guru teladan” menimbulkan kontroversi berkaitan peran guru, aroma politik, rezeki.

Mohamad Said, tokoh Perguruan Taman Siswa, mengajukan kritik. Menurut dia, kata ”teladan” terlampau bagus dan luhur untuk digunakan begitu saja oleh suatu hasil seleksi bersifat sekilas. Para calon (guru teladan) tidak diamati secara ketat dan cermat ketika di sekolah, masyarakat atau keluarga (Tempo, 9 September 1978).

Sejarah pemilihan guru teladan di masa lalu menimbulkan sangsi dan kritik. Sejarah itu mesti diingat untuk menjadi rujukan di hajatan Teachers Idol 2013 di Solo. Kita tak ingin abai sejarah demi pengakuan semu. Hajatan Teachers Idol 2013 memberi rangsang untuk guru mawas diri dan membuktikan pengabdian diri.

Tapi, kita ”wajib” prihatin dan kecewa saat mendapati acara itu mengaburkan makna guru dan kesejarahan adab di Indonesia. Hajatan itu mungkin ingin memunculkan pikat populer, menggunakan ungkapan bahasa Inggris agar mentereng.

Acara untuk guru justru menggantikan sebutan ”guru” dengan ”teacher”? Nalar-imajinasi berbahasa Inggris ini merusak ingatan publik, menampik rujukan-rujukan identitas, adab, etika, pendidikan, politik.

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa (1922) dengan niat memartabatkan bangsa melalui agenda pendidikan-pengajaran. Agenda ini mengusung ide-imajinasi pengisahan tentang identitas, nasionalisme, kepribadian. Ki Hadjar Dewantara menempatkan guru sebagai pusat dari arus transformasi pendidikan, sosial, politik, kultural.

Penggunaan nama ”perguruan” mengesankan ada kemuliaan dan misi suci guru. Ki Hadjar Dewantara enggan menggunakan nama sekolah, memilih nama ”perguruan” sebagai siasat kultural melawan politik kolonial. Pilihan nama ”perguruan” mencomot dari kata ”guru”.

Perguruan berarti tempat guru tinggal. Perguruan mengandung maksud sebagai pusat pendidikan-pengajaran, rumah guru, ajaran. Ki Hadjar Dewantara menerangkan tiap-tiap orang djadi guru, tiap-tiap rumah djadi perguruan. Penghormatan atas sosok guru merepresentasikan jiwa zaman. Sejarah ini memuliakan guru tak sekadar sebutan tapi ketokohan dan amalan-amalan atas nama pengabdian.

Kita bisa menilik peran guru di Jawa dalam Tjarijos Lelampahing Sida (1917) garapan Mas Sastradiardja. Buku ini mengisahkan sosok Sida sebagai murid dan guru, berlatar Madiun dan Jogja awal abad XX. Agenda bersekolah dilakoni Sida dengan pengharapan menjadi guru.

Ikhtiar jadi guru mesti dijalani dengan ketekunan belajar, ngenger dan ngabdi di keluarga guru, dan mendapati ijazah di institusi pendidikan guru bentukan kolonial. Sida saat bocah mendapati pesan dari bapak: adja padha nakal ja ngger, sing manoet mitoeroet marang goeroemoe lan adja sok dhemen toekaran kara kantja-kantjamoe (1917: 9).

Sida berpengharapan atas nasib di masa depan:…ingkang koela senengi pijambak dados goeroe. Soekoer saged dados mantri goeroe, boten-botenipoen goeroe bantoe inggih narimah (1917: 27). Cita-cita menjadi guru, di Jawa awal abad XX, menjelmakan pengabdian, derajat, kehormatan, identitas.

Guru di Jawa adalah sosok berpengaruh, referensi atas gagasan dan perilaku hidup di mata publik. Guru menjalankan misi pendidikan-pengajaran dan menggerakkan diri di agenda-agenda sosial, politik, kultural.

Pengisahan guru berlatar Jawa bisa kisa simak di novel Para Priyayi (1992) gubahan Umar Kayam. Guru tak sekadar mengurusi pendidikan-pengajaran. Guru mengandung pengertian spiritual, hierarki sosial, imajinasi kultural, ideologis.

Kita memang perlu menilik ulang definisi dan pengisahan guru di masa lalu, mengenang untuk tak terjebak ke pamrih kementerengan berbahasa Inggris. Guru dan teacher itu berbeda referensi, bersimpang makna. Ingatan paling akrab adalah saat kita menghormati guru dengan sebutan: bapak guru dan ibu guru.

Sebutan ini adalah ajaran di Taman Siswa, kehendak Ki Hadjar Dewantara untuk menghadirkan guru sebagai pengajar, orang tua, manusia terhormat. Guru melampaui arti pekerjaan. Kita sulit mencari arti kultural jika sebutan teacher perlahan akrab di pelafalan murid.

Kita mungkin perlu menelisik pengertian guru melalui ensiklopedia dan kamus. Ensiklopedia Indonesia susunan TSG Mulia dan KAH Hidding mencantumkan pengertian guru merujuk ke spiritualitas. Guru adalah orang jang mengadjarkan tentang kelepasan sangsara.

WJS Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1953) mengartikan guru adalah orang jang kerdjanja mengadjar. S Prawiroarmodjo dalam Bausastra Jawa-Indonesia (1957) mengartikan guru berlatar seni dan sosial-kultural. PJ Zoetmulder dalam Kamus Jawa Kuno (1995) menjelaskan arti guru sebagai orang yang patut dimuliakan atau pembimbing spiritual.

Penjelasan-penjelasan spiritual dan kultural tentang guru juga mengental dalam khazanah pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Ki Ageng Suryomentaram, KRMP Sosrokartono. Guru berarti sosok penting, dari jagat mistis sampai urusan politis.

 

Sembrono

Guru dan teacher tak sekadar persoalan bahasa. Kita mesti mengerti acuan-acuan pemaknaan guru, tak gegabah mengganti ungkapan guru dengan teacher berpamrih popularitas di acara-acara publik. Kita jadi sangsi bahwa penggunaan ungkapan teacher bakal menerangkan kesejarahan dan identitas guru untuk keteladanan publik.

Kerancuan memori dan situasi zaman telah mengantar kita ke kegamangan bahasa dan berimajinasi kultural. Hajatan Teachers Idol 2013 diselenggarakan di Solo, rujukan peradaban Jawa, tapi menebar nalar melalui puja bahasa Inggris. Ironis!

Puja bahasa Inggris di dunia pendidikan tampak melukai, mengarah ke penghinaan sejarah dan identitas kultural. Penggantian guru menjadi teacher adalah bukti kesembronoan berbahasa dan beradab.

Kita menghormati guru tanpa harus mencandui bahasa Inggris. Bahasa bisa menimbulkan ”dusta” saat kita abai rujukan-rujukan spiritualitas, kultural, sejarah, pendidikan, seni, politik.

Editor: | dalam: Kolom |


Iklan Cespleng
Menarik Juga »