Rasulan, Warga Kemadang Gunungkidul Gelar Kirab Budaya

Warga Desa Kemadang Kecamatan Tanjungsari turut serrta meramaikan kirab budaya dalam rangka bersih desa atau rasulan Rabu (15/5/2013). (Harian Jogja/JIBIKusnul Isti Qomah)Warga Desa Kemadang Kecamatan Tanjungsari turut serrta meramaikan kirab budaya dalam rangka bersih desa atau rasulan Rabu (15/5/2013). (Harian Jogja/JIBIKusnul Isti Qomah)

GUNUNGKIDUL—Rasulan atau bersih desa merupakan adat istiadat yang selalu ditunggu warga Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari. Dalam perayaan rasulan tahun ini yang jatuh pada Rabu Wage (15/5/2013), warga Kemadang pun mengadakan arak-arakan kirab budaya dari 17 padukuhan.

Mulai pukul 11.00  WIB ada empat ekor kuda berbaris di jalanan Padukuhan Karang Lor. Masing-masing kuda membawa seorang perangkat desa yang berpakaian tradisional jawa lengkap dengan blangkon, kain dan beskap. Di belakangnya warga dari 17 padukuhan berbaris rapi sesuai dengan padukuhan masing-masing. Mereka pun memakai kostum jawa.

Setiap padukuhan memikul sebuah gunungan yang berisi macam-macam hasil bumi seperti tebon, padi, ketan, kacang tanah, kacang panjang, cabai, benguk, jeruk peras, tomat, kentang, jagung dan juwawut. Menurut Japar, salah satu warga Padukuhan Ngelung, gunungan itu perlambang rasa syukur karena hasil bumi yang melimpah.

“Selain bentuk syukur kami terhadap Tuhan, melalui rasulan ini dan gunungan ini kami mengharapkan hasil bumi yang akan datang juga semakin melaimpah,” tutur dia kepada Harian Jogja ketika ditemui di Balaidesa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Rabu (15/5/2013).

Selain membawa gunungan, setiap padukuhan juga menampilkan kesenian yang ada. Ada jathilan, reog, wong ireng yang terus akan dilestarikan warga Kemadang. Mereka pun melakukan kirab dengan berjalan kaki mulai dari Padukuhan Karang Lor menuju Balaidesa Kemadang.

Editor: | dalam: Gunung Kidul |


Iklan Cespleng
Menarik Juga »