Jelang Ramadan, Penjualan Mukena Meningkat

Ilustrasi calon pembeli memilih mukena. (Burhan Aris Nugraha/JIBI/SOLOPOS)Ilustrasi calon pembeli memilih mukena. (Burhan Aris Nugraha/JIBI/SOLOPOS)

SOLO–Jelang Ramadan, penjualan mukena terus meningkat dari hari biasa. Peningkatan penjualan mencapai 60%.

Lonjakan permintaan tersebut mulai terjadi pada pertengahan Mei lalu. Menurut penjual mukena di Pusat Grosir Solo (PGS), Grand Royal, Dewi Lestari, 22, mukena yang paling laris adalah jenis batik bali, print hawai, lukis pasta, pelangi dan katun jepang dengan kisaran harga Rp95.000-Rp100.000.

Harga mukena menurut Dewi sudah naik dari produsen tapi pihaknya belum menaikkan harga. “Naiknya [harga] kemungkinan saat puasa. Kalau sekarang walau naik, harga [jual] masih normal,” tuturnya kepada wartawan di kios blok B PGS, Selasa (11/6/2013).

Dewi mengatakan kebanyakan pembeli mukena untuk diberikan kepada karyawan. Pembeli mukena tersebut tidak hanya berasal dari dalam kota tapi juga luar kota seperti Jogja, Madiun, dan Bandung. Selain mukena, permintaan baju koko dan sajadah pun mengalami kenaikan.

Hal yang sama juga diungkapkan karyawan kios Zakia, Ike Rahmawati, 25. Ike mengatakan penjualan mukena sudah mengalami peningkatan karena banyak yang sudah membeli untuk bingkisan. Selain itu, juga digunakan untuk oleh-oleh umrah. Mukena yang paling diminati  rata-rata seharga Rp70.000.

Permintaan paling banyak menurut Ike, satu kodi atau 100 mukena. Jenis mukena yang paling laris adalah batik bali. Mukena batik bali memiliki ciri bermotif bunga, berbahan katun dan warna cerah seperti ungu, hitam dan coklat.  Ike memperkirakan, peningkatan permintaan yang cukup signifikan akan terjadi pada Juli. Hal ini karena pada bulan tersebut sudah masuk Ramadan dan bertepatan dengan libur sekolah.

Sedangkan menurut penjual mukena yang lain, Karima, menuturkan pihaknya paling banyak menjual untuk grosir. “Pembeli ada yang dari luar kota bahkan luar pulau seperti Samarinda dan Banjarmasin. Mereka kalau beli minimal 1,5 kodi atau 150 mukena. Biasanya mukena tersebut dijual lagi,” terangnya.

Editor: | dalam: Ekonomi |


Iklan Cespleng
Menarik Juga »