Belasan Penderita AIDS di Gunungkidul Meninggal

Foto Ilustrasi
JIBI/Harian Jogja/AntaraFoto Ilustrasi JIBI/Harian Jogja/Antara

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Sejak teridentifikasi 2006 silam, pengidap HIV dan AIDS di Gunungkidul terus bertambah. Hingga pertengahan 2013, jumlah Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) menjadi 93 orang di mana 17 di antaranya telah meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulan Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawati mengatakan di Gunungkidul, kebanyakan pasein ketahunan ketika sudah menjadi AIDS. Para penderita umumnya orang yang bekerja di luar daerah.

“Kebanyakan yang terkena itu yang perantauan. Karena sakit, mereka pulang ke Gunungkidul dan ketika diperiksa, ternyata mereka mengidap AIDS,” papar dia kepada Harian Jogja ketika ditemui di kantornya, Senin (1/7/2013).

Para pengidap HIV dan AIDS yang sulit dideteksi membuat pasien pun terkadang tak sadar ketika memili virus tersebut. Karena dibiarkan bertahun-tahun, maka HIV telah menjadi AIDS dan kondisi pasien sudah kronis.

Dari 93 penderita tersebut, 25 orang di antaranya adalah ibu rumah tanggga. Kebanyakan mereka tertular suami yang pulang dari perantauan dengan membawa HIV dan AIDS. Selain itu dalam jumlah tersebut terdapat 27 orang anak yang positif HIV.

“Kami selalu waspada karena bisa saja terjadi ledakan. Soalnya 93 itu pasien yang berhasil diidentifikasi karena melakukan pemeriksaan. Yang lainnya, tidak bisa diketahui karena tidak bisa dilihat secara kasat mata,” papar dia.

Pada 2012, Gunungkidul baru memiliki fasilitas Voluntary Counseling Test (VCT) di RSUD Gunungkidul. Hasil yang ditemukan pun mencengangkan yakni 43 pasien baru. Dari 2006 lalu, pasien baru yang diketahui setiap tahunnya hanya beberapa gelintir, namun setelah ada VCT, ada ledakan temuan.

Hingga tri semester 2013 ini ditemukan delapan pasien baru. Persebarannya pun merata di seluruh kecamatan di Gunungkidul.

“Makanya kami selalu siaga kalau-kalau ada ledakan pasien. Bisa saja penderita di luar sana lebih banyak tapi belum ketahuan saja,” papar dia.

Pihak Dinkes selalu menggandeng LSM untuk melakukan pendampingan terhadap pasien. Dinkes memfasilitasi pemeriksaan dan pengobatan gratis. Pengobatan yang diberikan yakni terapi Anti Retoviral (ARV) yang berfungsi untuk menekan perkembangan virus. Pasien harus mengkonsumsi ARV seumur hidupnya.

“Kami juga rutin melakuka sosialisasi dan melakukan sero survei (tes darah) kepada orang-orang yang beresiko tinggi. Kami juga mendampingi mereka. Bahkan ada VCT keliling,” lanjut dia.

Sementara itu, Sri Martanto dari LSM Kembang berharap agar masyarakat tidak melakukan diskriminasi terhadap ODHA. HIV dan AIDS hanya akan menular melalui empat jenis cairan yakni darah, cairan mani, cairan vagina dan ASI.

“Yang harus dijauhi itu virusnya. Orangnya justru harus kita beri dukungan. Kita tidak boleh mengucilkan,” pungkas dia.

Editor: | dalam: Gunung Kidul |
Iklan Baris
Menarik Juga »