ROYAL WEDDING NGAYOGYAKARTA
Mantu Terakhir, Sultan Kirab Gunakan Kereta

Kirab kereta kuda milik Keraton saat diujicoba, Jumat (23/8/2013). (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)Kirab kereta kuda milik Keraton saat diujicoba, Jumat (23/8/2013). (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)

Pernikahan Gusti Kanjeng Ratu Hayu, puteri keempat Sri Sultan Hamengku Buwono X bakal lebih meriah. Pasalnya saat acara di Kepatihan, iring-iringan kereta akan lebih banyak, termasuk kereta untuk Sultan.

Tiga kereta dikeluarkan dari Museum Kereta Kraton di Jalan Rotowijayan, Jumat (23/8/2013). Tiga kereta yang biasa di dalam museum itu diparkir di halaman museum. Nama- nama kereta itu adalah kereta Kyai Harsunobo, Kyai Wimono Putro dan Kyai Jatayu. Sesaji berupa pisang raja, sirih dan uang ditaruh di dalam kursi kereta.

Untuk menarik tiga kereta itu, Kraton harus meminjam kuda dari Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) DIY, dan juga andong yang biasa mangkal di Malioboro.

Pasalnya, kuda yang dimiliki Kraton tak mencukupi untuk menarik seluruh rangkaian kereta kuda tersebut. Kyai Wimono Putro misalnya. Kereta yang diperuntukkan untuk Putra Mahkota Kraton itu ditarik oleh delapan kuda atau empat pasang kuda. Adapun, kereta Kyai Harsunobo dan Kyai Jatayu masing- masing ditarik oleh enam dan empat kuda.

Tiga kereta itu kemudian keluar satu per satu dari kompleks museum setelah selesai dirangkai dengan kuda. Kereta- kereta itu kemudian dipersiapkan di Keben, kompleks Kraton, lalu berjalan sesuai dengan rute acara resepsi pernikahan GKR Hayu.

Nantinya rute yang akan dilewati dari Pagelaran Kraton melawan arus menuju Bangsal Kepatihan, tempat diselenggarakannya resepsi pernikahan pada 22 Oktober mendatang. Beberapa warga nampak memadati rute jalan yang sengaja ditutup untuk keperluan persiapan iring-iringan kereta tersebut.

Adalah Kereta Kyai Wimono Putro yang terakhir keluar dari museum. Tak cukup singkat untuk merangkai kereta dengan kuda terbanyak ini. Saat dipersiapkan di halaman museum, panjang kereta dengan rangkaian kuda itu terlihat dari pintu masuk depan museum sampai gerbang museum yang berjarak sekitar 10 meter. Kereta ini terakhir digunakan saat Sri Sultan Hamengku Buwono X pertama kali bertakhta.

Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Yudhaningrat, adik Sultan yang menjadi panitia pernikahan GKR Hayu mengatakan, dari tiga kereta itu satu di antaranya akan dipilih oleh Sultan untuk digunakan dalam acara resepsi bersama permaisuri GKR Hemas.

“Sri Sultan tinggal memilih yang ditarik delapan, tarik enam atau tarik empat,” katanya di sela- sela acara.

Yudha menjelaskan, uji coba itu bermaksud untuk memperhitungkan kebutuhan kuda, space jalan yang digunakan untuk rangkaian kereta, membiasakan kusir kereta, dan dapat memperkirakan area parkir kuda yang dibutuhkan di Bangsal Kepatihan.

Sultan menaiki kereta kuda untuk menuju tempat resepsi ini tidak dilakukan ketika putri kelimanya GKR Bendara melangsungkan pernikahannya pada Oktober 2011 lalu.

Saat itu, Sultan menggunakan mobil untuk menuju Bangsal Kepatihan. “Ini karena mantu terakhir,” kata Yudha.

Menurutnya, pada pernikahan GKR Hayu nanti akan ada sembilan kereta yang digunakan. Selain kereta Sultan dan manten, kereta-kereta lainnya itu diperuntukan untuk saudara-saudara Sultan, penari, mantu, dan mereka lainnya yang terlibat dalam pernikahan tersebut.

Yudha mengatakan, kereta-kereta itu akan diperbaiki terlebih dahulu sebelum digunakan untuk acara pernikahan. Termasuk kereta Kyai Jongwiyat yang akan digunakan oleh GKR Hayu beserta suaminya KPH Notonegoro akan diperbaiki seluruh kondisi fisiknya, mulai dari tempat duduk sampai cat.

“Cat perlu karena kereta itu sudah terlihat kumuh, sehingga tidak enak dilihat,” katanya.

Yudha menambahkan, saat hari H pelaksanaan nanti, Kraton akam menambah kebutuhan kuda dengan meminta bantuan dari Kavaleri Berkuda di Parongpong, Bandung. “Ada bantuan dari negara sebanyak 20 kuda,” ujarnya.

Editor: | dalam: Kota Jogja |
Iklan Baris
Menarik Juga »