FILM DOKUMENTER
40 Years of Silence, Sisi Lain Tragedi 1965

40 Years of SilencePeserta diskusi menuju rekonsiliasi menyaksikan pemutaran film, 40 Years of Silence, yang mengisahkan tragedi nasional gerakan 30 September 1965 (G30S), di Aula Monumen Pers Nasional, Solo, Sabtu (7/9/2013). (Arif Fajar/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SOLO—Pemutaran film dokumenter, 40 Years of Silence, yang mengisahkan tragedi nasional gerakan 30 September 1965 (G30S), di Aula Monumen Pers Nasional, Solo, Sabtu (7/9/2013), ingin memberikan pencerahan dan sudut pandang berbeda kepada peserta diskusi.

Film yang disutradarai Robert Lemelson, berdurasi 86 menit tersebut mengisahkan kesaksian empat keluarga korban tragedi 1965 yang distigma sebagai pengikut PKI di Bali, Jogja dan Jawa Tengah.

Robert Lemelson, Antropholog Amerika sekaligus sutradara film tersebut mengatakan, pembuatan film tersebut dilakukan ketika dia melakukan penelitian penderita gangguan jiwa di Bali bernama Kreta.

“Sebelum saya pulang ke Amerika, Kreta mengakui bahwa dirinya depresi setelah melihat secara langsung peristiwa penghilangan nyawa banyak orang di tahun 1965,” ujar Robert kepada wartawan di sela pemutaran film dan diskusi yang dilaksanakan Sekretariat Bersama 65 (Sekber’65), Sabtu.

Penuturan Kreta tersebut kemudian membuat Robert Lemelson tertarik dan kemudian melakukan pendalaman untuk membuat film tersebut dengan bertemu sejumlah orang sejak tahun 2002-2006.

“Penelitian dan pembuatan film ini untuk memberikan pemikiran baru bahwa peristiwa tersebut merupakan salah satu sejarah buruk atau tragedi bagi bangsa Indonesia,” paparnya.

Digambarkan dalam film tersebut, betapa orang-orang yang mendapat stigma pengikut partai terlarang mengalami trauma akibat menyaksikan peristiwa penghilangan ratusan hingga satu juta nyawa orang. Juga adanya jurang pemisah di masyarakat akibat peristiwa di tahun 1965 tersebut.

Menurut Lemelson, di sejumlah negara mampu menyelesaikan permasalahan yang menimbulkan trauma dan pepecahan itu, Seharusnya pemerintah Indonesia juga dapat menyelesaikan permasalahan serupa akibat peristiwa di tahun 1965 tersebut.

Sementara Pengamat Peristiwa Tragedi ’65, Baskara T Wardaya berharap dengan pemutaran film tersebut di sejumlah negara dan kota di Indonesia, sudut pandang masyarakat yang menilai keluarga maupun eks-tahanan politik (Tapol) dengan stigma miring dapat terkikis.

“Harapannya ada rekonsiliasi di tengah masyarakat yang sempat terpisah akibat cara pandang terhadap tragedy 1965 tersebut,” ujarnya.

 

Editor: | dalam: Layar |
Iklan Baris
  • Servis HP

    Servis HP: Nokia, BlackBerry, Sony, Samsung, IPhone, dll. Matot,Hard/Software. Hubungi: Me…

  • Ahli Sumur Bor

    Ahli Sumur Bor/Gali/Servis Pompa/ Sedot WC/Saluran Buntu. Pak. Wen 0274-6579319 Blawong 08…

  • terapi untuk kesembuhan

    Anda Sakit Fisik, Emosi, Sudah Berobat Maksimal Belum Sembuh??? Konsultasi dan Terapi Hubu…

  • rumah diutara monjali

    Rumah Griya Asri Pratama, Utara Monjali (Balong-Donoharjo) Sisa 5 Unit Siap Huni+3 Siap Bg…

  • Dibeli tinggi laptop

    Dibeli tinggi laptop/Netbok/Tab/Komputer/LCD dll. Hidup-Rusak-Mati. Hubungi: 085725750750,…

  • program naik turun BB

    Free Pendampingan Program Naik/Turun Berat Badan& Program Stamina Dengan Jus Nutrisi.

  • mau penghasilan tambahan?

    Bagi IRT,Mahasiswa/mahasiswi,Karyawaa dan ssebagainya yang Membutuhkan Uang/Penghasilan Ta…

  • Rumah dijual dekat bandara baru

    DP 12juta, Minimalis Mewah. Jalur 24jam. Bandara Baru di Polres Wates. Brimob Sentolo …

  • Iqbal Massage

    Iqbal Massage, Tenaga Pria Muda Keren Khusus Panggilan. Call: 087738795379…

  • disewakan avanza

    Disewakan avanza+sopirnya untuk dalam/luar kota, melayani drop luar kota. Hubungi: 0811250…

Menarik Juga »