DEMO SISWA
Tuntut Transparansi, Ratusan Murid SMKN 1 Sragen Gelar Demo

Ratusan siswa SMKN 1 Sragen saat menggelar aksi demo di halaman sekolah mereka, Rabu (12/2/2014). (JIBI/Solopos/Ika Yuniati)

Harianjogja.com, SRAGEN—Ratusan siswa SMKN 1 Sragen menggelar aksi demo di halaman sekolah mereka, Rabu (12/2/2014). Dalam aksinya, mereka menuntut transparansi penggunaan sejumlah anggaran sekolah.

Berdasarkan pantaun solopos.com, demonstrasi yang dilakukan sejak pukul 07.30 WIB hingga sekitar pukul 10.00 WIB disertai dengan orasi. Para siswa juga menggeber sejumlah poster dan kertas karton berisi tuntutan-tuntutan mereka seperti transparasi dana bantuan operasional sekolah (BOS), sumbangan bantuan siswa miskin (BSM), serta bantuan perlengkapan sekolah.

Para siswa berorasi bergantian dengan menyanyikan sejumlah yel-yel. Suasana kian memanas ketika Kepala Sekolah, Budi Isnanik, menemui massa dan meminta mereka masuk ke dalam gedung aula. Bukannya menanggapi instruksi kepala sekolah, para siswa justru bersorak dan terus menyamaikan tuntutan mereka.

Pada saat bersamaan, aparat keamanan dari Polsek Kota Sragen serta Babinsa Kelurahan Sragen Wetan turun ke lapangan untuk mengendalikan situasi hingga akhirnya para siswa bersedia masuk ke aula.

Salah seorang demonstran yang enggan disebutkan namanya mengatakan demo itu dilatarbelakangi banyaknya kejanggalan di sekolah mereka. Pihak sekolah dianggap tidak transparan dan cenderung sering melakukan keputusan secara sepihak.

Sumbangan BSM misalnya, sumbangan yang dibebankan kepada siswa miskin penerima bantuan itu diklaim sekolah sebagai inisiatif siswa. Padahal mereka merasa tidak pernah berinisiatif memberikan sumbangan melainkan itu perintah secara tersirat dari pihak sekolah. Belum  lagi SPP yang justru mengalami kenaikan padahal mereka mendapatkan dana BOS.

Saat diwawancarai wartawan, ia mengaku sudah jengah dengan kondisi di sekolah tersebut. Di sisi lain, sebelum melakukan aksi itu, sebelumnya mereka juga telah menyampaikan unek-unek itu melalui kotak surat yang disediakan sekolahan sejak beberapa bulan lalu, namun tidak digubris. “Iya, kami sudah memikirkan risikonya jauh-jauh hari. Kami tidak takut akan adanya intimidasi demi ke depan yang lebih baik,” katanya.

Sementara itu, Kepala SMKN 1 Sragen, Budi Isnanik, dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu, menampik semua tudingan yang ditujukan kepada sekolahanya. Ia mengatakan penyunatan BSM yang dikatakan para demonstran itu tidak benar. Dana BSM sebesar Rp1 juta per siswa tidak dipotong melainkan inisiatif siswa untuk menyumbangkan uang itu kepada rekan lain yang juga kurang mampu. Mengingat, jumlah siswa yang mengajukan melebihi jatah dari dinas pendidikan.

“Dana BSM juga sudah diaudit oleh BPKP dan tidak ada masalah, jadi saya rasa ini hanya ada miss komunikasi,” tambahnya.

Budi, menduga ada oknum yang sengaja memperkeruh suasana sehingga membuat siswa melakukan aksi. Padahal, ia merasa selama ini semua berjalan sebagaima mestinya. Ia juga menerangkan bahwa kenaikan SPP terjadi jauh sebelum dana BOS cair, yaitu pada pertengahan 2013 saat rapat komite sekolah.

Sementara, BOS baru cair pada bulan November, sehingga kenaikan SPP tetap dilakukan karena saat itu belum ada kepastian kapan dana BOS cair. “Pada saat rapat komite, BOS belum keluar. Sehingga kami dalam membuat RAKS sudah dimasukkan sumber dana dari BOS, hanya masih perkiraan. Hla nanti kalau tidak keluar, kami mendanai dari mana?” tegasnya lagi.

Editor: | dalam: Sragen |
Menarik Juga »