PENDINGIN PORTABEL
4 Warga Sleman Berhasil Membuat Pendingin Portabel Murah dan Serbaguna

Agus Widarba menunjukkan kepingan cairan jell dalam kemasan saat disela pembuatan pembeku portabel Maslaha-jell99 di rumah produksi Bhakti Nusa Bahari di Jalan Godean, Sleman, DI. Yogyakarta, Kamis (25/02/2016). (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)Agus Widarba menunjukkan kepingan cairan jell dalam kemasan saat disela pembuatan pembeku portabel Maslaha-jell99 di rumah produksi Bhakti Nusa Bahari di Jalan Godean, Sleman, DI. Yogyakarta, Kamis (25/02/2016). (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)

Pendingin portabel kini bisa didapatkan dengan murah

Harianjogja.com, SLEMAN- Empat warga Sleman berhasil memembuat inovasi pendingin portabel atau dikenal dengan ice pack. Produk tersebut kini mulai diproduksi secara massal dengan harga relatif murah dibanding produk luar negeri yang selama ini dipakai semua kalangan pebisnis.

Pendingin portabel hampir dibutuhkan para pelaku usaha untuk mengawetkan produk makanan agar tahan lama. Mulai dari nelayan, pengusaha ayam potong hingga es krim. Tapi pendingin yang dipakai dalam bentuk batang, terbungkus dalam botol persegi panjang itu belum pernah diproduksi di Indonesia.

Permintaan selalu dipasok dari Tiongkok, Jerman, Italia dan negara lainnya. Namun, empat warga Sleman bisa menemukannya dan bertekad menggusur produk luar negeri.

Keempat penemu pendingin portabel itu antara lain Dadang, 41, warga Modinan, Banyuraden, Gamping yang pernah berjualan es krim. Kemudian Riyanto, 46, warga RT07/RW06 Geplakan, Banyuraden, Gamping.

Selain itu ada Agus Widarba, 50, yang pernah berjualan ayam potong dan seorang mahasiswa UPN Veteran bernama Gaga Pradipta, keduanya warga Ngaglik, Sleman. Riset sekitar enam tahun, membuahkan hasil atas kerja keras keempatnya.

Mereka membuat workshop produksi pendingin portabel dengan nama Maslaha jell-99 di rumah Riyanto, RT07/RW06 Geplakan, Banyuraden. Jumat (26/2/2016) kemarin, tampak ada aktifitas di rumah ini. Lima orang karyawan tengah menjalan proses pembuatan pendingin portabel. Mereka memasukkan jel ke dalam botol persegi panjang yang sudah disertifikasi.

Sebelum dimasukkan ke dalam botol, adonan berwarna biru laut itu dimasukkan ke dalam sejenis botol plastik yang biasa dipakai tempat kecap atau saus. Wadah ini digunakan karena tutupnya berlubang lancip bisa meneteskan jel dengan ukuran diameter kecil sehingga mudah masuk ke dalam botol yang lubang diameternya tak lebih dari dua sentimeter.

“Kami membuat riset adonan ini bersama Pak Dadang, Pak Agus dan Mas Gaga selama bertahun-tahun, semua sudah kami uji, sudah ada hak paten juga,” ucap Riyanto, Jumat (26/2/2016).

Karena menjadi rahasia atas temuan itu, ia enggan menyebutkan secara detail adonan. Namun diakui, semua bahan bisa diambil di tingkat lokal dengan delapan senyawa, salahsatunya ada kandungan NaCl. Beberapa diantaranya melalui proses fermentasi.

Jika produk luar negeri menggunakan tiga senyawa kimia, ia melengkapinya dengan delapan senyawa kimia. Sudah ia buktikan, jika produk luar negeri hanya bertahan setahun, temuannya ini bisa sampai tiga tahun lebih.

Selain itu sangat ekonomis, jika produk luar negeri harga antara Rp40.000 hingga Rp100.000 tiap batang, ia berani menjual Rp18.000 per batang. Apabila nelayan memiliki 100 kilogram ikan harus mengeluarkan Rp35.000 untuk membeli es batu guna mengawetkan beberapa jam saja. Maka dalam sebulan nelayan akan menghabiskan Rp1 juta hanya untuk es saja.

Namun jika menggunakan pendingin portabel hanya butuh sekitar 70 batang dengan total Rp1,2 juta bisa dipakai selama tiga tahun. “Bisa efisiensi 70-80%, tujuan kami memang membantu nelayan, pedagang kecil,” kata pria lulusan SMA ini.

Saat ini mereka memproduksi 1.500 batang dalam sehari dan telah menembus pasar seluruh Indonesia. Target mereka bisa memproduksi secara massal sekitar 200.000 per bulan. Proses produksi akan pindah di lokasi yang lebih luas di kawasan Bugisan, Kota Jogja.

Mereka menemukan produk dalam negeri itu semua berawal dari keluhan. Karena sama-sama berbisnis dengan harus mengawetkan makanan. Berkali-kali keempatnya bertemu, hingga akhirnya muncul ide dengan berbagai referensi melakukan percobaan produk dengan riset langsung kepada pengguna.

“Saya sendiri dulu pernah dimaki sama salahsatu supermarket karena saya mengirim ayam potong dengan es batu. Kemudian muncul ide bersama untuk membuat,” ungkapnya.

Editor: | dalam: Sleman |

Berita Terkait

Menarik Juga ยป