INFORIAL

BISNIS STARTUP
Efishery Bikin Petani Ikan Jadi Keren

Startup Indonesia di Google (Detik)Startup Indonesia di Google (Detik)

Bisnis startup Efishery membuat petani ikan bisa lebih berkembang.

Harianjogja.com, JAKARTA โ€” Teknologi bisa membawa segala hal berkembang lebih jauh. Bisnis startup bernama Efishery dibikin untuk membantu para petani ikan menaikkan pendapatannya.

CFO & co-founder, Efishery, Muhammad Ihsan Akhirulsyah, mengatakan membikin bisnis startup bukan untuk bergaya tapi harus bisa menyelesaikan masalah.

“Bikin bisnis startup bukan buat gaya-gayaan. Tapi punya impact dan menyelesaikan masalah yang ada di sekitar,” kata Muhammad Ihsan Akhirulsyah, dilansir Detik, Jumat (4/3/2016).

Ihsan dan timnya di Efishery melihat ketidakefektifan pemberian pakan ikan secara manual. Selain tidak adanya ukuran pasti soal jumlah pakan yang diberikan, terkadang ada juga karyawan nakal yang mengambil pakan untuk dijual lagi.

“Dari dulu, di mana-mana cara petani ngasih makan ikan gitu-gitu aja. Bagaimana caranya agar jadi efektif, menghindari kecurangan, dan kualitas hidup petani bisa ditingkatkan. Mereka bisa diakselerasi ketika bertemu teknologi,” papar Ihsan saat berbicara di acara Google Launchpad Accelerator.

Efishery bisnis startup yang bergerak dalam penyediaan alat pemberi pakan ikan otomatis untuk segala jenis ikan dan udang. Tak hanya mengotomatisasi pemberian pakan secara terjadwal dengan dosis yang tepat, alat ini juga mencatat setiap pemberian pakan secara real-time.

Pengguna bisa mengakses data pemberian pakan kapanpun dan dimanapun secara lengkap melalui web atau aplikasi. Dengan demikian, tidak ada lagi masalah over-feeding, pemberian pakan ikan yang tidak teratur atau pakan yang diselewengkan.

Bertemu dengan startup dari negara lain saat mengikuti bootcamp di markas Google, di Mountain View, Amerika Serikat (AS), Ihsan mendapat pemikiran semua startup yang mewakili masing-masing negaranya punya visi sama, yaitu memecahkan masalah di lingkungan sekitar.

“Ketika kami datang ke Silicon Valey, Google memperlihatkan bagaimana platform-nya bisa membawa perubahan. Teknologi bisa membuat kita bertahan dan terus berakselerasi,” sebutnya.

Sementara itu, CEO HarukaEdu, Novistiar Rustiadi, juga ikut menghadiri acara Launchpad Accelerator Google di Jakarta Pusat, Kamis kemarin. Novistiar juga menjawab pertanyaan media mengenai perkembangan di dunia pendidikan.

Seperti diketahui, pendidikan di Indonesia saat ini belum merata. Indonesia bagian timur masih mengalami kendala untuk bisa mendapatkan pendidikan seperti di kota-kota besar seperti di Jakarta.

Sebagai pemimpin platform yang bergerak di bidang pendidikan, Novistiar Rustiadi mengakui bahwa sulit untuk memberikan pembelajaran berbasis online.

“Sayang sekali padahal sudah ada puluhan mahasiswa yang ingin bergabung di Haruka Edu. Tapi kami tidak ingin hanya mengambil uangnya saja, kalau pengalaman mahasiswa tidak baik kami juga tidak akan puas,” ujarnya,dikutip dari Okezone, Jumat.

Hal ini karena masih buruknya jaringan Internet di Indonesia bagian Timur. “Maka dari itu kami berharap pemerintah juga akan membangun jaringan yang stabil di sana sehingga kami bisa bantu,” lanjutnya.

Saat ini, Haruka Edu juga baru mendukung tiga universitas di Indonesia. Di masa depan, Haruka Edu berharap bisa mendukung lebih banyak universitas termasuk di wilayah timur.

Untuk saat ini, Haruka Edu memiliki 500 mahasiswa. Meski kampus yang menyediakan konten di platform ini berada di Jakarta, mahasiswanya datang dari kota-kota lain.

Editor: | dalam: Internet |
Menarik Juga ยป