PERTUMBUHAN EKONOMI
Harga Kubis Naik, Keuntungan Turun

Foto ilustrasi pedagang kubisFoto ilustrasi pedagang kubis

Pertumbuhan ekonomi Jogja dipengaruhi penjualan bahan makanan

Harianjogja.com, JOGJA — Kota Jogja mengalami inflasi 0,35% secara month to month (mtm) pada Desember 2016. Satu komoditas yang membawa andil dalam inflasi adalah harga kubis.

Kepala Bidang Staf Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Arjuliwondo menyampaikan di antara sayuran, kubis mengalami kenaikan yang cukup besar. Di pasaran sendiri, pedagang sampai mengeluhkan kenaikan harga kubis karena membawa imbas pada keuntungan yang mereka peroleh.

Sut, salah satu pedagang sayuran di Pasar Beringharjo Timur mengatakan, jika terjadi kenaikan harga kubis, keuntungan yang ia peroleh justru akan turun.

“Mending milih untung kecil tapi modal kecil daripada untung kecil tapi modal besar,” ujarnya, Senin (2/1/2017)

Ia menjelaskan, kubis biasanya hanya dijual kisaran Rp5.000 per kilogram (kg). Tetapi pada Desember lalu menukik sampai Rp10.000 per kg. Saat harga kubis menembus angka Rp10.000 itu, modal yang ia keluarkan harus semakin besar. Namun, keuntungan yang ia peroleh justru semakin berkurang karena banyak daun kubis yang harus dipetik lantaran busuk.

“Mau tidak mau kan harus saya pithili [petik] yang busuk-busuk itu. Akibatnya timbangannya mati [berkurang], rugi saya,” katanya.

Meski sebagian besar sayuran mengalami kenaikan harga, tetapi bawang merah cenderung turun sehingga mampu menekan inflasi Kota Jogja. Selain bawang merah, komoditas yang menekan inflasi adalah perhiasan, telepon seluler, salak, televisi berwarna, apel, daun melinjo, minyak goreng, gula pasir, dan harga lemari es.

Wondo mengatakan, inflasi Kota Jogja kali ini cukup menggembirakan karena berada di bawah angka nasional yang mencapai 0,42% (mtm).

Editor: | dalam: Kota Jogja |
1
Menarik Juga ยป