INFORIAL

PROYEK BANDARA KULONPROGO
PHRI Tak Berharap Banyak pada Airport City

Tim dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) melakukan pengukuran lahan calon lokasi bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA), tepatnya di Dusun Sidorejo, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Senin (22/2/2016). Sebelumnya, beberapa bidang lahan memang belum bisa terjangkau upaya pengukutan secara maksimal akibat adanya aksi penolakan warga.(Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)Tim dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) melakukan pengukuran lahan calon lokasi bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA), tepatnya di Dusun Sidorejo, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Senin (22/2/2016). Sebelumnya, beberapa bidang lahan memang belum bisa terjangkau upaya pengukutan secara maksimal akibat adanya aksi penolakan warga.(Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)

PHRI memprediksi tidak banyak investor yang melirik kawasan airport city untuk membangun hotel di kawasan tersebut.

Harianjogja.com, JOGJA-Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DPD DIY tidak terlalu berharap banyak terhadap dampak pengembangan airport city terhadap perhotelan. PHRI bahkan memprediksi tidak banyak investor yang melirik kawasan airport city untuk membangun hotel di kawasan tersebut.

Ketua PHRI DPD DIY Istidjab M. Danunegoro mengatakan, wisatawan datang ke Jogja akan lebih memilih hotel di Kota Jogja daripada di dekat bandara. Mereka akan memilih menginap di hotel yang dekat dengan pusat kota dan objek wisata. “Orang ke Jogja itu tidak mau nginep di bandara tapi di kota,” tuturnya pada Harian Jogja melalui sambungan telepon, Selasa (10/1).

Selama pembangunan airport city yang ditargetkan selesai 2019, investor menurutnya tidak kemudian beramai-ramai memborong tanah untuk segera dibangun hotel. Para spekulan yang sudah membeli tanah pun juga dimungkinkan baru membangun hotel 10-15 tahun setelah bandara baru beroperasi. Mereka melihat terlebih dulu kondisi wisatawan yang datang sebagai bahan pertimbangan sebelum mendirikan hotel di kawasan itu.
Istidjab memprediksi kondisi New Yogyakarta International Airport (NYIA) nanti akan sama dengan nasib Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Pada 1985 saat dibukanya Bandara Soekarno-Hatta, tidak ada investor yang membangun hotel di kawasan itu. Namun setelah 20 tahun kemudian, marak bermunculan hotel-hotel di dekat bandara karena kebutuhannya meningkat. “Orang kalau cuma mau visit satu malam mending menginap di dekat bandara agar tidak kena macet. Jadi [keberadaan hotel] hanya untuk transit,” tuturnya.

Di satu sisi, ia bersyukur dengan adanya moratorium pembangunan hotel di Kota Jogja sampai tahun 2017 dan Sleman sampai 2019. Dengan moratorium tersebut, bisnis hotel di Kota Jogja dan Sleman akan semakin tertata. Moratorium itu kemudian memunculkan pilihan lokasi lain pembangunan hotel yaitu di Bantul, Gunungkidul, dan Kulonprogo. Sayangnya PHRI sendiri seakan pesimistis terhadap minat investor untuk mengembangkan hotel di tiga kawasan tersebut, khususnya Kulonprogo yang sebentar lagi dibangun bandara baru.

“Kami tidak bisa berharap banyak [dengan pengembangan airport city dalam menarik investor hotel],” katanya. Namun jika investor bisa mengembangkan hotel di kawasan tersebut, setidaknya akan membantu mengurai kepadatan jumlah tamu yang dialami hotel-hotel di Jogja dan Sleman.

Hingga saat ini sudah ada calon investor yang menimba informasi kepada PHRI terkait kawasan airport city. Istidjab mengatakan, ada sekitar lima investor luar Jogja yang sudah tanya-tanya terkait lahan yang cocok untuk dibangun hotel “Kalau mau investasi hotel yang dilihat kan pasti lokasinya dulu. Sejauh ini sudah ada yang sekedar tanya-tanya. PHRI di sini hanya melayani konsultasi saja,” tuturnya.

Editor: | dalam: Kota Jogja |
Menarik Juga »