Selamat Idul Fitri

WISATA JOGJA
Jalan-Jalan ke Kampung Pecinan Jogja Jelang Hari Raya Imlek

Warga melintas di Kampung Ketandan Jogja. (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)Warga melintas di Kampung Ketandan Jogja. (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)

Wisata Jogja di Kampung Ketandan menarik dilakukan menjelang Hari Raya Imlek

Harianjogja.com, JOGJA- Menjelang Tahun Baru Imlek, Kampung Ketandan Jogja dipercantik. Pancaran warna khas pecinan yang muncul di dinding rumah dan gapura pun menjadi magnet bagi pecinta foto, tak terkecuali pasangan calon pengantin untuk mengabadikannya.

Panas terik terasa menyengat menjelang tengah hari, Rabu (25/1/2017). Polusi kendaraan yang melintas di jalan Malioboro pun menyatu dengan kebisingan mesinnya. Namun kondisi yang seakan tak bersahabat itu, tak menyurutkan niat wisatawan yang melintas di jalur pedestrian Malioboro untuk menyempatkan berfoto di depan gapura Kampung Ketandan.

Scaffolding tingkat empat yang mengitari tiang gapura itu pun tetap tak mereka hiraukan. Mereka tetap asik bersua foto untuk mendapatkan jepretan berlatar pintu masuk Kampung Ketandan. Dari kejauhan, gapura dengan dominasi warna merah itu memang terlihat lebih menyala dari biasanya.

Perpaduan warna merah, hijau, emas gliter, dan birunya tampak lebih tegas. Bagaimana tidak? Kurang lebih lima hari belakangan ini, gapura yang dibangun di pintu masuk Kampung Ketandan mengalami peremajaan.

Warna yang memudar dipoles kembali agar semakin cerah. Pengecatan itu juga untuk memeriahkan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) yang akan berlangsung 5 Februari mendatang.

“Pengecatannya biasanya mulai sore jam enam sampai pagi hari jadi yang mau foto-foto siang tidak terganggu,” kata Serpeng, salah satu pedagang lukisan yang lapaknya berada tepat di sebelah utara gapura itu.

Untung baginya karena semakin ramai orang yang berfoto, semakin banyak orang yang tahu spot foto di situ. Harapannya pun semakin banyak orang yang akan tahu aktivitas perdagangan di kanan kiri gapura itu, termasuk tahu usaha lukisannya.

Selain gapura, mata juga dimanjakan dengan tiga rumah bercat kuning dan merah yang berada persis di perempatan Kampung Ketandan. Dari gapura, masuk ke timur sekitar 200 meter.

Tiga rumah itu terletak di sisi barat daya, barat laut, dan timur laut dari titik perempatan. Sementara rumah bagian tenggara masih menggunakan warna lama karena pengecatannya baru akan dilakukan seusai PBTY. Bagi orang Tionghoa, warna merah dan kuning memang menjadi warna keberuntungan karena maknanya baik.

Sejenak Harianjogja.com menyempatkan masuk ke salah satu rumah di sisi timur laut. Rumah itu membuka usaha penjualan alat tulis. Di situ, sang penghuni yang enggan disebut namanya banyak bercerita kisah-kisah menarik sejak rumahnya disulap berwarna kuning dan merah menyala.

Ia mengatakan, pengecatan dilakukan oleh Pemerintah melalui Dinas Pariwisata Provinsi DIY. Empat rumah yang berada di empat sisi perempatan itu dicat dengan warna khas Tiongkok.

Sebelum tetesan demi tetesan cat itu mewarnai dinding rumah bagian luar, keempat kepala keluarga sudah dikumpulkan untuk mendapatkan sosialisasi. Tanpa berpikir panjang, mereka pun mengiyakan tanpa ada perlawanan sedikit pun.

Pria kelahiran 1959 itu justru senang karena selain tidak perlu mengeluarkan biaya, keberadaan empat rumah berwarna seragam kuning merah itu bisa memperkuat Kampung Ketandan sebagai kampung pecinan di Jogja.

“Tujuan pemerintah bagus untuk menguatkan Kampung Ketandan. Inginnya Ketandan jadi China Town-nya Jogja,” kata pria yang sejak lahir tinggal di Ketandan itu.

Hanya dari cat, Ketandan tidak lagi dikenal dari usaha emasnya, tetapi dari budayanya. Ia pun berangan-angan, pemerintah memaksimalkan niat baiknya dengan menyediakan spot-spot menarik yang mengangkat kebudayaan tradisional Tionghoa. Misalnya mendirikan stan penyewaan baju Chiong Sam atau bisa juga stan yang memamerkan tradisi minum teh ala orang China.

Namun, ia sudah sangat beruntung dengan pengecatan yang dilakukan pemerintah itu. Setidaknya meski baru tiga rumah yang diwarnai, tetapi sudah berhasil mengundang segerombolan muda-mudi untuk melakukan hunting foto di daerah itu.

Mereka bahkan menyempatkan datang lebih awal sebelum rumah-rumah itu buka. Berbekal kamera DSLR, mereka mengambil momen terbaik untuk dapat mengunggah hasil bidiknya ke media sosial.

“Kemarin malah ada yang prewedding di sini. Sudah dua [pasang calon pengantin],” ungkapnya.

Dari fenomena media sosial yang banyak digandrungi kaum muda, ia ikut beruntung karena rumahnya kerap terekspos sebagai salah satu warisan budaya Tionghoa di Jogja. Begitu juga dengan bangunan khas lainnya yang ada di Kampung Ketandan.
“Tugas kami adalah merawatnya dan tidak boleh merubah warna catnya,” tuturnya.

Editor: | dalam: Kota Jogja |
Menarik Juga »