KISAH UNIK
Inilah Thierry Timan, Generasi Keempat dari Jawa yang Dikirim ke Kaledonia Baru

Thierry Timan, Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya di Kaledonia Baru, di sela kegiatan Javanese Diaspora Event III. (Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja)Thierry Timan, Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya di Kaledonia Baru, di sela kegiatan Javanese Diaspora Event III. (Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja)

Kisah unik datang dari Thierry Timan, Generasi Keempat dari Jawa yang Dikirim ke Kaledonia Baru

 

Harianjogja.com, JOGJA– “Aku di sini dan kau di sana/Hanya berjumpa via suara/Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa/Meski kau kini jauh di sana/Kita memandang langit yang sama/Jauh di mata namun dekat di hati” – RAN.

Petikan lagu dari grup band RAN yang berjudul Dekat Di Hati tersebut rasanya tepat mewakili kecintaan Thierry Timan, seorang warga Kaledonia Baru, terhadap apa pun yang berbau Indonesia. Meski terpisah ruang dan waktu, rasa cintanya terhadap tanah leluhur ia jaga dengan sepenuh hati.

Hari itu, Senin (17/4/2017) sedang berlangsung konferensi pers Javanese Diaspora Event III di salah satu gedung di Museum Benteng Vredeburg. Ketika itu hadir beberapa orang keturunan Jawa dari berbagai negara dan daerah untuk menjadi narasumber. Secara bergantian mereka bercerita mengenai banyak hal, dan wartawan secara tekun mencatatnya.

Mereka berbicara dalam bahasa Jawa ngoko [sesekali Bahasa Indonesia], berpakaian adat jawa, tampangnya juga mongoloid semua, mereka benar-benar terlihat sangat Jawa, jadi pantas acara itu bertajuk Javanese Diaspora Event. Tapi setelah diperhatikan secara lebih seksama, dari beberapa orang tersebut ternyata ada satu sosok yang cukup ‘berbeda’.

Ia adalah Thierry Timan, Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya di Kaledonia Baru. Saat itu ia menggunakan blangkon warna hitam, bersorjan merah, berkain batik warna putih dan memakai selop hitam. Meski berpakaian Jawa, ia tak bisa dikatakan seperti orang Jawa pada umumnnya. Penampakannya sangat kompeni dengan postur tinggi besar, berkulit putih, dan berwajah kaukasia.

Ia berpembawaan tenang, sepanjang acara ia tak banyak bicara. Hanya sesekali ia berbincang pelan dengan istrinya yang merupakan orang Jawa tulen. Praktis ia adalah satu-satunya narasumber yang tak membagikan kisahnya hari itu.

Usut punya usut, ternyata ia tak lancar berbahasa Indonesia. Ia mengerti dengan baik ketika seseorang berbicara Bahasa Indonesia, tapi untuk membalasnya dalam bahasa yang sama, ia perlu usaha ekstra.

Tapi untuk Bahasa Jawa, ia hanya mengerti. Untuk pengucapan, ia sama sekali tak bisa “Dulu pernah ngomong menggunakan bahasa Jawa dengan para orang tua [keturunan Jawa], tapi mereka membalas pakai Bahasa Perancis, jadi ,ya, oke,” katanya dalam Bahasa Indonesia yang diucapkan dengan susah payah.

Thierry adalah generasi keempat dari penduduk Jawa yang dikirim ke Kaledonia Baru untuk menjadi buruh di tambang nikel dan perkebunan kopi milik pemerintah kolonial Perancis. Ia terlahir dari ayah Jawa dan ibu Perancis. Sebagai informasi, Kaledonia Baru tak pernah di Jajah Belanda sama sekali. Lalu kenapa orang Jawa bisa sampai di kirim ke pulau yang berada di kawasan Samudra Pasifik tersebut?

Penyebabnya adalah ketidakpuasan Pemerintahan Kolonial Perancis dengan kualitas pekerja lokal. Buruknya kualitas pekerja membuat kondisi ekonomi Kaledonia Baru carut marut. Maka sebagai solusi, dilakukanlah kampanye perekrutan secara besar-besaran untuk mencari tenaga kerja dari ras tropis, terutama dari Asia.

Pekerja ras tropis dipilih karena Pemerintahan Kolonial Perancis menganggap bahwa orang-orang Eropa tidak akan sanggup bekerja di daerah tropis yang sepanjang tahun selalu dipanggang matahari. Maka pada tahun 1896 buruh-buruh dari Malaysia, Filipina, dan Hindia-Belanda direkrut untuk menyelamatkan pulau dari kebangkrutan.

Menurut Thierry, sampai saat ini ada sekitar 4000-an warga Kaledonia Baru yang merupakan keturunan orang Jawa, “Mungkin jumlah aslinya lebih banyak, karena pada sensus tahun 1989 ada 7000 warga keturunan Jawa. Mungkin mereka malu dan lebih memilih menjadi orang Perancis atau China,” katanya saat ditemui usai wawancara dengan TVRI, Selasa (18/4/2017).

Thierry tak ingin menjadi seperti itu. Ia tak ingin lupa pada asal usulnya meski tinggal ribuan mil dari tanah leluhur. Baginya, untuk tahu masa depan, seseorang harus mempelajari masa lalunya terlebih dahulu.

Didorong falsafah hidup yang tampak keren itu, Thierry kemudian getol melestarikan, mengembangkan, dan mempromosikan budaya Jawa dan Indonesia di tanah kelahiranya. Ada beberapa kegiatan yang ia lakukan untuk menyukseskan misinya tersebut, seperti mengadakan kursus menari Jawa dan Bali, Gamelan, angklung, batik, dan memasak makanan Indonesia.

“Sekarang sedang menggalang dana untuk mengubah Wisma Pertemuan Indonesia menjadi Pusat Kebudayaan Indonesia wilayah Pasifik,” kata pria yang pernah menjadi DJ Profesional ini.

Tapi magnum opus dari seorang Thierry Timan tentu saja adalah operet Dari Masa Ke Masa [DMKM]. Operet Dari Masa ke Masa adalah pertunjukan kolosal yang mengambil unsur seni budaya Jawa, Betawi, Bali, Batak hingga balet, waltz dan salsa. Adapun alat musiknya mulai dari gitar, cello, violin, angklung hingga gamelan. Pentas DMKM diselingi dengan atraksi pencak silat dan wayang.

Operet ini melibatkan sekitar 20 musisi, 30 penari dan 10 teknisi. Mereka hampir 90% merupakan warga negara Prancis keturunan Indonesia. Beberapa lagu pop populer Indonesia dipilih, diantaranya lagu Akhirnya ku Menemukanmu (Naff), Ini Cinta (Noah), Magnet (Judika), dan lagu Ku Pilih Dia (Cokelat). Sedangkan lagu tradisional Jawa antara lain Suwe Ora Jamu dan lagu setempat.

Pentas DMKM pertama kali digelar pada tahun 2014 di Centre Culturel Mont-Dore, New Caledonia. Selama tiga hari berturut-turut dari 21 hingga 23 Juni 2014. Operet yang berdurasi dua jam lebih itu digelar dan disaksikan sekitar 1.200 orang penonton.

Thierry mencetuskan operet DMKM sebagai bentuk perlawanan terhadap paradigma yang menyatakan tarian dan musik tradisional sudah usang dan terlalu monoton untuk zaman sekarang. Baginya tari dan musik tradisional sudah berkembang, dan tugasnya lah untuk memperkenalkan semua itu. Untuk membuat pertunjukkan yang spektakuler, Thierry rela terbang jauh-jauh ke Indonesia untuk mendapatkan pencerahan.

Selain untuk lebih memperkenalkan budaya Indonesia di Kaledonia Baru, acara tersebut juga diadakan untuk menarik minat anak muda agar tak lupa dengan budaya leluhur.

Indrata Kusuma Prijadi, ketua panitia Javanese Diaspora Event III yang saat itu turut serta dalam sesi wawancara tiba-tiba nyeletuk. “kesalahan kita selama ini di Indonesia adalah karena kita tidak mencoba mengenalkan budaya kita sendiri kepada generasi muda.”

Pada akhirnya, semua yang dilakukan Thierry adalah wujud kecintaan terhadap budaya Indonesia. Baginya Indonesia bukan sekedar nama dari sebuah negara kepulauan semata, tapi sesuatu yang perlu dicintai dan dibanggakan. “Kami bangga menjadi Indonesia,” tutup pria berumur 44 tahun ini.

 

Editor: | dalam: Kota Jogja |
Menarik Juga »