Selamat Idul Fitri

Tingalan Jumenengan PB XIII, Keraton Solo Habiskan Puluhan Juta Rupiah untuk Kemenyan

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo (berdiri) saat menunggu pintu Keraton Solo dibuka untuk meninjau persiapan tingalan jumenengan PB XIII, Rabu (19/4/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo (berdiri) saat menunggu pintu Keraton Solo dibuka untuk meninjau persiapan tingalan jumenengan PB XIII, Rabu (19/4/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)

Keraton Solo menghabiskan dana puluhan juta rupiah untuk membeli kemenyan.

Harianjogja.com, SOLO — Persiapan terus dikebut menjelang pelaksanaan tingalan jumenengan Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Paku Buwono (PB) XIII, Sabtu (22/4/2017).

Keraton Solo menyiapkan kemenyan yang akan dipasang mulai dari perempatan Gladag hingga kompleks Keraton Solo. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli kemenyan itu disebut-sebut mencapai puluhan juta rupiah.

Pembakaran kemenyan dilakukan pada Jumat (21/4/2017) malam hingga Sabtu saat tingalan jumenengan berlangsung. Upaya itu merupakan instruksi Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo. (Baca: Tingalan Jumenengan PB XIII, Gapura Gladak sampai Kompleks Keraton Solo Dipoles)

Wangi kemenyan di sekitar kompleks Keraton Solo dimaknai sebagai upaya mengembalikan nuansa kewibawaan Keraton Solo. “Dikembalikan nuansanya karena beberapa waktu kemarin ada sesuatu. Lelu menurut orang jawa supaya diharumkan lagi. Maka menggunakan ratus atau dupa supaya punjering keraton bisa kembali lagi,” kata pejabat Humas Panitia Jumenengan, K.P. Bambang Pradotonagoro, saat dihubungi Harianjogja.com, Kamis (20/4/2017).

Bambang menyebutkan biaya untuk kemenyan yang disiapkan mencapai puluhan juta rupiah. Kemenyan dipasang di setiap pohon beringin, setiap tugu termasuk patung Gupala.

“Belum bisa dihitung berapa jumlah ratus yang disiapkan namun biayanya diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah,” tutur dia.

Persiapan tingalan jumenengan mencapai 97 persen. Berbagai kegiatan dilakukan mulai dari membersihkan dan mengepel lantai ruangan keraton, menata kursi, dan lainnya. Kegiatan itu dibantu berbagai OPD mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Perhubungan, dan lainnya.

Pantauan Harianjogja.com, tugu-tugu di kawasan Gladag hingga Alun-alun Utara dicat ulang. Hiasan janur juga dipasang di sepanjang Jl. Paku Buwono dan beberapa lokasi lain kawasan sekitar Alun-alun Utara.

Hiasan janur juga ditemui di depan Pasar Klewer yang diresmikan pada Jumat. “Janur itu maksudnya ngiras pantes. Sekarang dipasang selain untuk 21 [peresmian Pasar Klewer] juga 22 [upacara tingalan jumenengan]. Jadi memang di antaranya nanti ada beberapa lokasi yang khusus diarahkan menuju keraton. Hari ini dikebut memasang janur dan umbul-umbul,” terang Bambang.

Proses latihan penari Bedhaya Ketawang sudah usai. Latihan terakhir di Bangsal Paningrat pada Rabu (19/4/2017) malam. Pada Kamis hingga Sabtu para penari menjalani puasa. Kemudian pada Jumat malam, para penari menjalani proses pingitan dan dipaes.

“Penari tidak bisa diwawancarai karena sedang disengker layaknya sebagai calon pengantin dalam adat keraton Jawa,” kata G.P.H. Soeryo Wicaksono atau Neno.

Neno menceritakan sejarah Bedhaya Ketawang dimulai pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma yang memerintah Kasultanan Mataram pada 1613-1645 melakukan olah rasa atau samadhi. Saat dalam keheningan, sang raja menerima “dhawuh” simbol suara tetembangan (senandung) dari arah tawang atau langit/semesta.

Begitu selesai olah rasa, Sultan Agung memanggil empat orang pengiringnya yaitu Panembahan Purbaya, Kyai Panjang Mas, Pangeran Karang Gayam II, dan Tumenggung Alap-Alap. Sultan Agung mengutarakan “dhawuh” yang ia terima kepada mereka.

“Lalu, Sultan Agung menciptakan sebuah tarian yang kemudian diberi nama Bedhaya Ketawang atas dasar “dhawuh” saat melakukan olah rasa itu,” kata Neno.

 

Editor: | dalam: Solo |
Menarik Juga »