OJEK ONLINE SEMARANG
Rider Ojek Online Dilakoni Kaum Kartini

Ilustrasi perempuan-perempuan rider Go-Jek. (Kaskus.com)Ilustrasi perempuan-perempuan rider Go-Jek. (Kaskus.com)

Ojek online Semarang juga melibatkan kaum Karini sebagai rirer atau pengendaranya.

Harianjogja.com, SEMARANG – Profesi pengemudi ojek berbasis aplikasi aliasojek online, seperti Go-Jek semakin menarik minat kaum Hawa untuk menekuninya, termasuk di Kota Semarang. “Saya sudah enam bulan ini bergabung Go-Jek. Ternyata asyik. Kerjanya fleksibel, namun hasilnya lumayan,” kata Nela Nurvitasari, 26, salah seorang perempuan pengendara Go-Jek, di Kota Semarang, Kamis (20/4/2017).

Mahasiswi cantik yang masih duduk belajar di Semester VIII Universitas Semarang (USM) itu mengaku ketertarikannya menjadi pengojek online karena melihat banyak kawan perempuannya bergabung dengan oprator ojek online Go-jek. Nela—sapaan akrab gadis berjilbab itu—pun mengiyakan ajakan temannya untuk menjadi rider Go-Jek sebagai profesi sampingannya, sembari menyelesaikan skripsinya di fakultas ekonomi.

“Lumayan, setiap hari rata-rata dapat kalau Rp100.000 belum termasuk dengan poin jika mencapai target, bisa sampai Rp200.000,” sebut putri pasangan Agus Salam dan Dina Supatmiatun itu.

Nela menyadari pengojek merupakan profesi yang identik dengan kaum laki-laki. Gadis kelahiran Semarang, 11 Maret 1990 itu, bahkan pernah mengalami hal yang tidak terduga selama menjadi pengojek online. Pernah ada, kata sulung dari dua bersaudara itu, konsumen laki-laki batal order karena merasa tidak enak dibonceng perempuan, dan pernah pula order dibatalkan karena istri calon penumpang tidak mengizinkan suaminya dibonceng perempuan.

“Ya, saya sih enggak masalah. Nolaknya juga sopan. Lucunya, gara-gara perasaan tidak enak dari penumpang jika dibonceng perempuan, pernah pula malah saya yang diboncengin,” kekehnya.

Pernyataan senada diungkapkan Dekawati Kusuma Dewi, 21, yang juga perempuan pengendara Go-Jek ia mengaku hasil yang didapatkan dari mengojek online lumayan untuk membantu orang tua membiayai kuliah.  “Kebetulan, ibu saya juga Go-Jek. Sudah setahun ini. Jadi, saya tahu bagaimana hasil yang didapatkan dan akhirnya tertarik,” kata mahasiswi Semester I Fakultas Psikologi USM tersebut.

Dalam sehari, Deka—sapaan akrab gadis kelahiran Magelang, 4 Agustus 1994 itu—mengaku bisa mendapatkan penghasilan rata-rata Rp100 ribu dari mengojek “online”, di sela kesibukannya berkuliah. “Kalau [rider] cewek, biasanya banyak memilih melayani Go-Food [pesan makanan], tetapi sering juga ride—yakni penumpang. Yang penting dibikin asyik saja,” pungkasnya.

Nela dan Deka merupakan dua dari sekian banyak kaum Kartini yang memilih menjadi rider Go-Jek di Semarang. Seperti diungkapkan Juali, koordinator Sedulur Go-Jek Semarang, salah satu komunitas Go-Jek di Kota Atlas. “Kalau di SGK, yang perempuan ada sekitar 15-20 orang. Namun, kan ada juga di komunitas yang lain, kan jumlah pengemudi Go-Jek di Semarang secara keseluruhan ada sekitar 5.000 orang,” katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Editor: | dalam: Semarang |
Menarik Juga »