Selamat Idul Fitri

Pedagang Pasar Giwangan Mengeluh Kehilangan Pembeli

Pedagang sayuran di Pasar Giwangan menjual komoditas cabai rawit kepada para pedagang rumahan, belum lama ini. (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)Pedagang sayuran di Pasar Giwangan menjual komoditas cabai rawit kepada para pedagang rumahan, belum lama ini. (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)

Pedagang sayur di pasar Giwangan mengeluh kehilangan pembeli

Harianjogja.com, JOGJA–Pedagang sayur di pasar Giwangan mengeluh kehilangan pembeli. Mereka menuduh pedagang grosir, yang seharusnya hanya melayani pesanan partai besar, sebagai penyebab karena ikut-ikutan menjadi pengecer.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Giwangan, Kaman Subroto mengatakan dahulu saat pertama kali pedagang grosir masuk pasar Giwangan, sudah ada kesepakatan antara kedua belah pihak yang isinya adalah larangan mengecer bagi para pedagang grosir.

Namun, ia menambahkan, kesepakatan tersebut telah dilanggar secara sepihak oleh pedagang grosir dengan menjajakan berbagai sayur-mayur secara eceran.

Hal ini kemudian berdampak pada pedagang eceran karena harga yang ditawarkan pedagang grosir lebih murah. “Padahal seharusnya grosir melayani partai besar. Melayani 5 kiloan,” ungkap Kaman, Kamis (20/4/2017).

Kaman saat itu mencoba memberikan ilustrasi tentang kondisi yang sedang terjadi. Ia mengatakan, misalnya, sawi putih dijual oleh pedagang grosir dengan harga rata-rata Rp5.000 per buah ke pedagang eceran, kemudian pedagang eceran akan menjual ke pembeli dengan harga Rp6.000. Saat pedagang eceran menjual sawi putih dengan harga Rp6.000, imbuhnya, pedagang grosir menjual dengan harga Rp5.000 ke pembeli.

“Kalau dijual dengan harga yang sama, kami tidak akan mengeluh. Apalagi kalau subuh belum habis, [mereka] jual seenaknya. Saat pengecer ngambil Rp5.000, disana dijual Rp3.000. Kami jadi kalah saing,” keluh Kaman.

Bahkan kemudian, katanya, ada pedagang yang akhirnya harus meminjam uang ke rentenir agar usaha mereka tetap berjalan. Ia berharap kedepan para pedagang grosir tidak lagi menjual ke pembeli secara eceran karena membuat pedagang eceran menjadi kesusahan.

Kaman menyayangkan lemahnya penindakan dari pihak-pihak yang berwenang sehingga keadaan tidak kunjung membaik bagi dirinya dan pedagang eceran yang lain. “Tidak ada tindakan, padahal kami sudah melakukan laporan ke dinas. Berbagai pertemuan juga sudah kami selenggarakan,”  katanya.

Pantauan Harian Jogja pada Kamis (20/4/2017) menunjukkan beberapa pedagang grosir memang melayani pembelian secara eceran.

Pengakuan itu datang dari Yanu, penjual kentang grosiran. Kentang yang dijual oleh Yanu sudah dikemas dalam plastik-plastik besar dengan berat 60 kilogram.

Ia mengatakan kentangnya tidak dijual secara eceran, tapi tidak dengan pedagang cabe disebelahnya. “Cabe merah yang keriting dijual sekilo Rp12.000 Rupiah dan yang gede Rp14.000 per kilo,” katanya.

Lain lagi dengan Sukidi. Sukidi yang ketika itu sedang menurunkan barang dagangannya mengaku menjual sayur-sayuran dan bumbu masak secara eceran. Ia mengaku menjual melinjo, daun jeruk, dan jagung secara eceran. Hal ini baginya bukanlah sebuah pelanggaran.

“Yang penting harganya enggak beda jauh [dengan pedagang eceran],” katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Maryustion Tonang mengatakan seharusnya kejadian seperti ini tidak terjadi jika semua pihak yang berkepentingan di pasar Giwangan bisa saling berkomunikasi dan saling menghormati satu sama lain.

“Artinya jangan sampai, kita sudah sepakat statusnya sebagai pedagang grosir tapi masih mengecer tentu komunitas yang ada tidak terima,” katanya.

Untuk menyelesaikan persoalan ini, ia menghimbau memanfaatkan paguyuban yang ada sebagai wadah untuk menyalurkan berbagai keluhan. Paguyuban, tambahnya, kemudian akan meneruskan ke lurah pasar untuk mencari solusi terbaik.

“Disini ada 6 paguyuban yang menaungi 1150 pedagang. Tentunya dalam mengambil langkah, upaya, usulan, dirembug pada 6 paguyuban tersebut, sehingga ada rasa saling memiliki untuk mewujudkan manajemen pasar yang pastisipatif,” tutupnya.

Editor: | dalam: Kota Jogja |
Menarik Juga »