Selamat Idul Fitri

Tahukah Anda? Ada Ojek Khusus di Jogja dengan Pengendara Perempuan

Pengendara Fathimah Safety Ojek (FSO) diwajibkan memiliki atribut berkendara agar menjami kenyaman pelanggan Kamis (20/4/2017). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja) Pengendara Fathimah Safety Ojek (FSO) diwajibkan memiliki atribut berkendara agar menjami kenyaman pelanggan Kamis (20/4/2017). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)

Fathimah Ojek Safety (FSO) menawarkan layanan ojek muslimah

Harianjogja.com, JOGJA- Berawal dari kepedulian akan rasa nyaman untuk tidak berkendara dengan lawan jenis, Fathimah Ojek Safety (FSO) menawarkan layanan ojek muslimah.

Usaha yang berdiri sejak 2015 silam ini siap menawarkan layanan tranportasi motor khusus dengan pengendara perempuan.

Saat ini, tersedia paling tidak 20 pengendara yang siap melayani penumpang bagi usaha yang dijalankan oleh sejumlah mahasiswa ini. Ifah Silvi Nuraini, koordinatur divisi marketing, menjelaskan jika usaha ini dimulai oleh segelintir karib di kampus yang sama. Meski menargetkan kliennya khusus perempuan, nyatanya pendiri usaha ini juga terdiri dari kaum laki-laki pula.

“Kadang kan kita perempuan kurang nyaman ketika harus naik sepeda motor dengan lawan jenis, karena harus berdekatan atau cara berkendaranya,” ujarnya ketika berbincang dengan Harianjogja.com pada Kamis (20/4/2017).

Padahal, perempuan pastinya juga dituntut dengan mobilitas tinggi. Terlebih lagi, sebagian besar opsi tranportasi ojek dilakukan oleh kaum pria sehingga kadang perempuan tak punya pilihan.

Menyadari jika pengendaranya seluruhnya adalah wanita maka FSO menerapkan jam operasional mulai dari pukul 05.00 pagi sampai 21.00 malam. Pertimbangannya ialah kemanan dan kenyaman bagi pengendaranya. Meski demikian, order yang diterima setiap hari tetap mencapai 40 permintaan setiap harinya.

Seringkali kliennya adalah mahasiswa, ibu rumah tangga, dan anak-anak. Bahkan, ada salah satu ibu yang berlangganan ojek ini untuk mengantar dan menjemput anak-anaknya ke sekolah. Silvi mengatakan kebanyakan kliennya merasa lebih aman jika dibonceng oleh wanita. Adapula, gadis muda yang harus pulang malam dan risih apabila berkendara dengan laki-laki.

Meski saat ini semua pengendara dan kliennya merupakan perempuan berhijab, FSO tak menutup kesempatan jika semua perempuan bisa memanfaatkan jasanya. Nyatanya permintaan sangat banyak hingga tak bisa diladeni seluruhnya. Ada yang jaraknya terlalu jauh atau tak tersedia pengendara saat itu. Sebagian besar pengedara FSO sendiri umumnya beroperasi di kawasan Sleman, Kota Jogja dan sedikit Bantul.

Usaha ini digawangi dengan sederhana, modalnya hanya grup di salah satu aplikasi chatting. Meski demikian, sejumlah mahasiswa ini menjalankan usahanya dengan serius, terbukti dengan adanya jajaran direksi, keuangan hingga SDM. Saat ini, paling tidak ada 50 orang yang terlibat dalam usaha ini termasuk pengendara.

Ojek khusus wanita ini memiliki admin yang dapat dihubungi tiap kali pelanggan ingin memesan jasanya. Nantinya, admin inilah yang melemparkan permintaan tersebut kepada grup usaha ini dan kemudian direspon oleh pengendara terdekat. Ongkos yang dikenakan juga relatif bersaing yakni Rp2.000 per kilometer ditambah biaya jemput Rp4.000. Tak hanya antar jemput perempuan dan anak, jasa yang disedikan juga mencakup antar barang dengan maksimal berat 40 kilogram.

Diterapkan sistem bagi hasil bagi pengendara maupun pengelola usaha ini. Total biaya setiap pelanggan dibagi, 80% untuk pengedara sementara sisanya untuk pengelola. Pengendara juga hanya diharuskan mengambil tiga orderan setiap pekannya. Kehadiran ojek dengan sistem online juga dianggap Silvi tidak mengancam usahanya dan rekannya ini.

“Mungkin karena kami bermain di area yang benar-benar segmented ya, yang lain kan tidak bisa pikih apakah ridernya pria atau wanita,” ujar mahasiswa Fakultas Teknik UGM ini.

Nursani, salah satu pengedara FSO yang juga merupakan ibu rumah tangga ini mengatakan niatannya bergabung adalah murni mencari uang. “Sayanya nyaman mbonceng perempuan, pelanggannya juga nyaman,” jelasnya.

Menurutnya, sebagian besar pelanggannya merupakan perempuan berhijab yang merasa rikuh apabila harus bersenggolan dengan lawan jenis. Selain itu, adapula perempuan yang merasa waswas diajak berkendara kencang apabila tukang ojeknya pria. Menjadi utama ialah ketiadaan atribut yang mencolok sehingga ia tidak mengalai konflik apapun dengan usaha yang serupa.

Editor: | dalam: Kota Jogja |
Menarik Juga »