INFORIAL

Mencoba Pengalaman Virtual Reality di Pameran Museum 2017

Pengunjung mencoba fasilitas Virtual Reality (VR) di Pameran Museum 2017 resmi dibuka di Jogja City Mall (JCM) pada Rabu (17/6/2017). (Gigih M. Hanafi/JIBI/Harian Jogja)Pengunjung mencoba fasilitas Virtual Reality (VR) di Pameran Museum 2017 resmi dibuka di Jogja City Mall (JCM) pada Rabu (17/6/2017). (Gigih M. Hanafi/JIBI/Harian Jogja)

Pameran Museum 2017 resmi dibuka di Jogja City Mall (JCM) pada Rabu(17/6)

Harianjogja.com, SLEMAN- Pameran Museum 2017 resmi dibuka di Jogja City Mall (JCM) pada Rabu (17/6). Fasilitas Virtual Reality (VR) yang berada di stan Museum Pleret, Bantul menjadi salah satu yang paling menarik perhatian khalayak, termasuk Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono X.

Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY ini diikuti oleh berbagai museum dari Jogja dan seluruh Indonesia. Setidaknya terdapat 52 museum yang membuka stannya dan menampilkan potensi masing-masing.

Usai meresmikan pembukaan acara itu, Sultan berkeliling ke seluruh stan per satu. Pada stan Museum Pleret, Sultan kemudian sempat menyaksikan penggunaan hologram untuk Keris Sapu Inten, temuan hasil eskavasi pada tahun 2010 silam.

Di lokasi yang sama, Sultan juga mencoba penggunaan kacamata VR untuk mengunjungi museum milik pemerintah provinsi DIY ini. Kacamatan berwarna hitam itu dikenakan menggantikan kacamata yang biasa dikenakan Sultan.

Orang nomor 1 di DIY ini kemudian dipandu oleh petugas untuk menggerakkan kursornya guna menjelajahi sudut-sudut Museum Pleret. Dari raut wajahnya, nampak jika Sultan merasa cukup puas dengan adanya pemanfaatan teknologi yang menarik minat masyarakat ini.

Rasa puasnya akan pendekatan yang dilakukan oleh pengelola museum dengan teknologi juga diungkapkannya usai mencoba gawai itu.

“Bagus sekali karena dengan teknologi ini [VR dan hologram] anak-anak akan lebih tertarik karena jika sekedar melihat saja ya…” ujarnya sembari memeragakan tangannya tanda tidak menariknya tampilan museum lawas.

Ia menerangkan jika tantangannya keberadaan museum saat ini memang problem kurang menarik ini. Publik selaku pengunjung museum saat ini sudah sangat berbeda dengan tahun-tahun dulu.

Karena itu, Sultan menilai sangat perlu fasilitas tambahan dengan sentuhan modern seperti cafe agar anak muda bisa berkunjung sembari membawa gawainya masing-masing.

Fasilitas tambahan dianggap bisa menghidupkan suasana karena publik saat ini tidak terlalu tertarik dengan suasana khusuk di museum. Sultan juga beranggapan jika penjelasan yang ditampilkan di koleksi museum seringkali tidak bisa mengerti dan membosankan.

Pasalnya, pengelola museum sendiri masih banyak yang tidak memahami target pengunjung maupun koleksi yang dipamerkan.

Tak lama berselang, segerombolan siswa SD juga tampak asyik menikmati kecanggihan teknologi itu. Salah satu siswa laki-laki mencoba kacamata VR pertama kali lalu kemudian ia berseru kagum dengan apa yang dilihatnya.

Seruannya ini memancing rasa penasaran teman-temannya yang kemudian menyuruhnya bergegas agar bisa bergantian mencobanya. Sejumlah wajah-wajah penasaran ini kemudian diberikan urutan antrean untuk masing-masing mencobanya.

Rafa Septian, siswa SD Kanisius Jomegatan, Bantul mengatakan kacamata VR menjadi hal yang paling menarik di pameran ini. “Rasanya seperti kenyataan,” serunya dengan mata berbinar-binar.

Ia bisa melihat semua ruangan dan koleksinya dengan jelas tanpa harus datang langsung. Namun, ia mengaku sedikit pusing ketika mengenakan kacamata itu sehingga tidak betah berlama-lama.

Salah satu petugas pendamping menjelaskan jika kacamata itu sebenarnya bisa disesuaikan dengan kondisi mata penggunanya. Karena itu, wajar jika terasa pusing karena kacamata itu masih menggunakan setelan pengguna sebelumnya.

Editor: | dalam: Sleman |
Menarik Juga »