INFORIAL

KEMISKINAN KLATEN
Keterbelakangan Mental, Ibu Tua dan Anaknya Ini Hidup dari Belas Kasih Orang

Kepala Dusun (Kadus) I Lumbungkerep Kecamatan Wonosari, Muryadi (paling kiri), mengecek rumah Mbah Painah di desanya, Jumat (19/5/2017). (Ponco Suseno/JIBI/Solopos)Kepala Dusun (Kadus) I Lumbungkerep Kecamatan Wonosari, Muryadi (paling kiri), mengecek rumah Mbah Painah di desanya, Jumat (19/5/2017). (Ponco Suseno/JIBI/Solopos)

Kemiskinan Klaten, seorang ibu tua dan anaknya yang miskin dan menderita keterbelakangan mental harus hidup dengan bantuan orang lain.

Harianjogja.com, KLATEN — Mbah Painah, 80, tidur di ranjang dari bambu di rumahnya di Desa Lumbungkerep, Kecamatan Wonosari, Klaten, Jumat (19/5/2017). Mbah Painah yang sudah jompo tidak bisa pergi ke mana-mana. Mbah Painah menghabiskan waktunya setiap hari di tempat tidur.

Saat Solopos.com mendatangi rumahnya, Mbah Painah sedang tiduran di tempat tidurnya. Mbah Painah sering tidak nyambung saat diajak bicara. Mbah Painah hidup bersama salah seorang anaknya, Surip, 45.

Mbah Painah dan Surip yang menderita keterbelakangan mental itu harus hidup dengan mengandalkan bantuan orang lain. Rumah Mbah Painah sebenarnya cukup luas, sekitar 200 meter persegi. Namun, Mbah Painah hanya menempati teras rumah berukuran sekitar 1,5 meter x 2,5 meter sebagai tempat tidur.

Ruang tengah rumah Mbah Painah sudah tidak dapat difungsikan sebagaimana mestinya. Ruang tengah yang masih beralaskan tanah itu tak terawat. Selain kotor, hanya terdapat kasur bekas yang sudah usang.

Sehari-hari, Mbah Painah makan, minum, kencing, dan aktivitas lainnya di tempat tidurnya. Hal yang sama dilakukan Surip. Anak ketiga Mbah Painah itu biasanya tidur di teras tak jauh dari tempat tidur Mbah Painah. Surip tidur beralaskan selembar tikar.

Meski beraroma pesing saat mendekati tempat tidur Mbah Painah di teras rumah itu, warga sekitar rumah Mbah Painah sudah memaklumi. Setiap bantuan yang mengalir ke Mbah Painah dan Surip dikelola dengan baik oleh kakak Surip, Paniyem, yang tinggal di depan rumah Mbah Painah.

Paniyem lah yang membersihkan dan memberi makan Mbah Painah dan Surip. Selain Paniyem, Mbah Painah sebenarnya juga memiliki seorang anak lainnya, yakni Supadi. Namun, Supadi yang tinggal di Boyolali dikabarkan jarang pulang ke Wonosari.

“Kalau makan, didulang [disuap]. Akhir-akhir ini, banyak yang memberikan bantuan, seperti beras, mi, gula, roti, dan lain sebagainya. Kebutuhan makan Mbah Painah dan Surip tak begitu banyak. Makanan kesukaan Mbah Painah itu ayam goreng dan gereh,” kata Paniyem, 60, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Jumat.

Kepala Dusun (Kadus) I Lumbungkerep Kecamatan Wonosari, Muryadi, mengatakan banyaknya warga di Klaten dan sekitarnya yang peduli dengan Mbah Painah dan Surip lantaran informasi tentang mereka sudah menyebar di media sosial (medsos) dalam beberapa hari terakhir.

“Banyak warga yang peduli terhadap nasib Mbah Painah dan Surip. Warga di sini pun peduli dengan Mbah Painah dan Surip yang memang hidupnya menggantungkan pertolongan orang lain. Mbah Painah kalau diajak ngomong sudah ngelantur. Surip juga tidak bisa ngomong [tunawicara]. Saat ada orang hajatan, Surip biasanya mendekati ke rumah yang hajatan itu [minta makan atau duit]. Biasanya, saya yang nyrateni. Beberapa bulan lalu Surip menjadi korban tabrak lari, saya yang mengurusi. Surip juga pernah memakai cincin yang tak bisa dilepas dari jemarinya, saya juga yang mengurusi,” katanya.

Kepala Desa (Kades) Lumbungkerep Kecamatan Wonosari, Suyatman, mengatakan Mbah Painah memang salah satu keluarga miskin di desanya. Pemerintah desa (pemdes) sudah memprioritaskan bantuan untuk Mbah Painah.

“Di medsos itu ada yang menyebut pemdes kurang peduli. Padahal, kami sering memberikan bantuan kepada mereka seperti bantuan uang Rp1,2 juta tiap triwulan sekali, kursi roda, makanan, dan lain sebagainya. Bahkan, kami sudah merencanakan untuk memperbaiki rumah Mbah Painah agar layak huni. Untuk administrasi kependudukan, kami juga sudah mengurus dengan baik,” katanya.

 

Editor: | dalam: Klaten |
Menarik Juga »