Selamat Idul Fitri

EKONOMI KREATIF
Seni Lukis Gosongkan Lapisan Kayu Bisa jadi Media Penyembuhan Penyakit Stroke

Heru Notodirjo menunjukkan lukisan pyrografi buatannya yang ada di Sanggar Java Sketsa Joyonegaran Jogja, Jumat (16/6/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)

Ekonomi kreatif mengenai lukis pyrografi

Harianjogja.com, JOGJA-Seni melukis pyrografi yang dilakukan dengan menggosongkan lapisan kayu menggunakan panas sedang digeluti Heru Notodirjo, 45. Pria yang tinggal di Joyonegaran Jogja ini ingin menjadikan seni lukis ini sebagai ikon baru Jogja.

Ditemui di Sanggar Java Sketsa yang berlokasi di Dusun Joyonegaran, Jumat (16/6/2017), Heru menunjukkan beberapa karya lukis pyrografi. Beberapa di antaranya dibuat oleh peserta pelatihan dari kampungnya yang ingin mendalami seni lukis menggunakan tenaga panas dari soldir ini.

Lukisan menggunakan media kayu tersebut ada yang bergambar wajah, bunga, dan binatang. Lukisan-lukisan yang sebagian sudah dipigura itu menunjukkan permainan gradasi warna yang apik, dari putih, coklat, dan hitam. Warna-warna itu diperoleh dengan menggosongkan kayu yang sudah dipola menggunakan panas soldir.

Papan kayu yang digunakannya biasanya kayu ramin, sengon, dan juga jati londo. Ia sendiri tidak mengalami kesulitan untuk memperolehnya karena kayu-kayu tersebut dijual di toko bangunan. Untuk solder, ia harus memodifikasi mata solder menjadi bentuk lengkung atau palet agar memudahkannya saat ingin mengaksir kayu. Selanjutnya papan kayu disketsa sesuai bentuk yang diinginkan dan selanjutnya dilakukan pewarnaan menggunakan tenaga panas soldir tersebut.

Pria lulusan SMA 5 Jogja ini menggeluti pyrografi baru Desember lalu. Sebelumnya ia sudah mulai terjun di bidang seni sejak 2015, hanya saja saat itu ia fokus membuat lukis bordir. “Jadi menggeluti pyrografi itu karena murni kepepet,” tutur Heru.

Desember 2016 lalu, istrinya yang bekerja sebagai modiste mendapatkan banyak pesanan. Namun sampai pada tenggat waktu yang ditentukan, pakaian-pakaian itu belum juga diambil oleh pemiliknya. Hal itu pun membuat Heru dan keluarga tidak menerima pendapatan. “Padahal istri saya tinggal punya uang Rp10.000,” tuturnya.

Berbekal dengan uang Rp10.000 itu pun, ia lantas pergi ke pasar untuk membeli talenan. Sesampainya di rumah, ia kemudian memanfaatkan talenan sebagai media lukis api. Soldir yang sudah ia miliki sebelumnya akhirnya dimanfaatkan untuk melukis talenan itu. Namun karena hasilnya yang tidak maksimal, ia akhirnya meminjam soldir milik saudaranya.

Goresan berbentuk burung dan ikan menghiasi talenan itu. Berbekal paket data yang tinggal sedikit, ia akhirnya mengunggah foto talenan itu di Facebook. Oleh seorang teman, talenan itu juga dipajang di galeri miliknya. Satu hari setelah foto lukisan talenan diunggah, akhirnya peminat lukisan pyrografi mulai bermunculan.

“Langsung ada pesanan, tapi untuk memenuhi pesanan itu saya nggak ada modal. Akhirnya menawarkan ke kakak saya, mau nggak kalau anaknya saya lukis. Akhirnya mau dan saya minta dibayar dulu Rp60.000,” tuturnya.

Uang Rp60.000 itu kemudian ia belanjakan empat talenan dan 1 kg beras untuk makan Heru, istri, dan kedua anaknya. Dua talenan untuk memenuhi pesanan dari customer di facebook, satu talenan untuk pesanan kakaknya, dan satu lagi untuk ia sendiri.

Heru mengatakan, membuat karya seni pyrografi tidaklah sulit. Semua orang bisa belajar. Buktinya, empat orang yang belajar kepadanya mampu menghasilkan lukisan yang indah hanya dalam waktu empat kali pertemuan. Bahkan satu di antaranya mengidap penyakit tremor atau gemetaran. “Justru kami ingin pyrografi jadi media penyembuhan seperti tremor dan stroke. Buat orang-orang seperti itu, kita alihkan ke lukisan yang modalnya bergambar bunga, atau gambar lain yang banyak lengkung-lengkungnya karena kalau melukis wajah kurang cocok,” katanya.

Heru mengatakan, di Cirebon sudah mulai dikembangkan melukis di atas kaca, Bali di atas kanvas, dan inginnya Jogja mengembangkan lukisan di atas kayu. “Harapannya pyrografi ini jadi ikon baru Jogja,” tuturnya.

Heru menjual lukisan-lukisannya dengan harga yang terjangkau yaitu mulai Rp250.000-Rp500.000, tergantung ukuran. Dengan harga yang terjangkau itu, ia ingin pyrografi menjadi pajangan di rumah-rumah keluarga muda yang memiliki bidjet minim tetapi tetap ingin memancarkan unsur seni di rumahnya. Sampai saat ini, sudah lebih dari 60 lukisan ia jual ke berbagai kota seperti Semarang dan Salatiga.

Editor: | dalam: Kota Jogja |
Menarik Juga »