INFORIAL

Melihat Potret Kondisi Sosial Politik Indonesia di Tembok Kridosono

Seniman bersama warga membuat mural dalam sebuah Gerakan Seni Rupa Kebangsaan "Mural Pancasila" di dinding stadion Kridosono, Kotabaru, Yogyakarta, Sabtu (17/06/2017). (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja) Seniman bersama warga membuat mural dalam sebuah Gerakan Seni Rupa Kebangsaan "Mural Pancasila" di dinding stadion Kridosono, Kotabaru, Yogyakarta, Sabtu (17/06/2017). (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja)

Puluhan perupa merubah tembok bagian timur stadion Kridosono menjadi karya seni mural

 
Harianjogja.com, JOGJA–Puluhan perupa merubah tembok bagian timur stadion Kridosono menjadi karya seni mural yang memotret kondisi sosial dan politik Indonesia terkini dalam acara yang bertajuk Ngabuburit Pancasila. Mereka bekerja selama dua hari, mulai Sabtu sampai Minggu (17-18/6/2017).

Salah satu peserta, Priyo Puji Raharjo menggambar mural yang berjudul Merawat Kebhinnekaan. Dalam mural itu nampak tiga orang yang masing-masing menggunakan pakaian adat Papua, Minangkabau, dan Jawa yang sedang menaiki sampan yang oleng oleh arus yang deras.

Diatas ketiga orang tersebut, ada gambar seseorang berpakaian adat Jawa sedang mengibarkan bendera Merah Putih yang menyelimuti Masjid, Pura, Gereja, dan Klenteng, dengan latar belakang burung garuda yang kepalanya menoleh ke arah selatan.

“Ketika sampan yang oleng bisa dibimbing oleh Garuda (Pancasila) dan Agama dengan baik, maka Indonesia akan sejahtera,” jelas Priyo ketika ditemui Minggu (18/6/2017). Dalam mural itu, kesejahteraan ditandai dengan gambar matahari bermotif makara.

Tapi Priyo menyadari betul kalau semua yang ia inginkan hanya mudah dituangkan dalam gambar, tapi sangat sulit untuk diwujudkan dalam kehidupan nyata. Ia mencontohkan agama-agama yang ada di Indonesia.

Dalam muralnya, Priyo menggambar bendera yang menyelimuti tempat-tempat ibadah. Ia maksudkan gambar itu sebagai negara yang bisa merangkul semua agama. ”Tapi dalam kenyataannya kadang tidak harmonis.”

Peserta yang lain, Pambudi Sulistyo membuat mural yang berjudul Testimoni Orde. Berbeda dengan kebanyakan mural yang dibuat oleh perupa lain. Mural Testimoni Orde berbentuk tiga dimensi dengan teknik dekoratif cement craft.
Mural ini menampilkan garuda yang miring kekiri karena digeser oleh jari telunjuk. Adegan tersebut berlatar api yang membara yang disiram dengan ember penuh air.

“Mural ini adalah kesaksian zaman dimana masyarakat banyak yang khawatir karena ada kelompok yang datang membakar semangat orang-orang untuk meninggalkan Pancasila. Mereka adalah orang-orang yang suka menunjuk dan menyalahkan orang lain, sehingga Pancasila jadi miring,” ujarnya.

Kelompok tersebut, imbuhnya, telah memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan fitnah-fitnah keji yang rasis dan penuh dengan kebencian. Hal tersebut tidak boleh terus dibiarkan.

Karena itulah kemudian ia menggambar ember yang merupakan tanda yang dipakai oleh Pambudi agar semua api yang membara itu bisa segera dipadamkan. “Negara tidak dibangun dengan fitnah, tapi lewat perjuangan,” katanya.

Ia menyebut karyanya adalah semacam introspeksi dirinya dan sebagian masyarakat, supaya bara yang belum padam itu tidak membesar dan akhirnya menghanguskan garuda (Pancasila), yang akhirnya membuat Indonesia kemudian berganti dasar negara. Menurutnya itu tidak boleh terjadi.

Contoh karya berikutnya datang dari Suria Gumilang. Dengan memanfaatkan bagian tembok yang bopeng, ia membuat mural yang mengambarkan dewi Themis (dewi keadilan) yang matanya dibutakan sehingga mengeluarkan darah, tapi tetap berusaha membuat timbangan tetap stabil.

“Mural ini adalah harapan supaya bisa menerangi orang-orang yang diselimuti ketidakadilan, karena itu latarnya agak gelap dibelakang kemudian terang didepan,” jelasnya sambil mengatakan muralnya adalah ketidaksetujuannya atas kasus penodaaan agama beserta aksi-aksi yang mengikutinya.

Ngabuburit Mural Pancasila adalah acara yang dilaksanakan oleh Gerakan Rakyat Pancasila (Gerak Pancasila) sebagai bagian dari visi dan misi mereka untuk membumikan Pancasila kepada masyarakat.

“Ini merupakan langkah sistematis dan berkelanjutan untuk merawat, memupuk, dan memelihara visi kebangsaan yang berlandasakan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika,” jelas  ketua Gerak Pancasila, Widihasto Wasana Putra.

Editor: | dalam: Kota Jogja |
Menarik Juga »