Selamat Idul Fitri

Prof Uut dan Jalan Terjal Menuju Masyarakat Bebas Demam Berdarah

Adi Utarini menyerahkan cinderamata kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X setelah Sultan memberi makan nyamuk di insektarium, 14 Februari 2017. (Foto istimewa)Adi Utarini menyerahkan cinderamata kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X setelah Sultan memberi makan nyamuk di insektarium, 14 Februari 2017. (Foto istimewa)

Professor Adi Utarini tidak mudah dalam menjalankan penelitian yang dikenal dengan Eliminated Dengue Project Yogyakarta (EDP-Yogya),

Harianjogja.com, JOGJA– Terlibat dalam sebuah penelitian berskala besar dijalani Professor Adi Utarini sejak 2013 lalu. Sebuah penelitian yang dikenal dengan Eliminated Dengue Project Yogyakarta (EDP-Yogya), sebuah proyek besar untuk memberantas peredaran penyakit demam berdarah yang prosesnya dilakukan di Jogja menjadi fokusnya saat ini dan dalam beberapa tahun mendatang.

Membagi antara dunia pribadi dan akademik dalam kesehariannya menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan yang akrab disapa Uut ini.

EDP-Yogya telah hadir sebagai projek penelitian sejak 2011 lalu. EDP merupakan sebuah program penelitian yang berfokus pada pengendalian penyakit demam berdarah. Dalam hal ini Prof Uut berperan penting yakni sebagai proyek leader EDP Jogja masa 2013 hingga 2019 mendatang.

Proyek tersebut menerapkan intervensi Aedes Aegypti ber-Wolbachia untuk mengurangi kasus demam berdarah di Yogyakarta, yang didanai oleh Yayasan Tahija, Indonesia.

“Saya bergabung di awal 2013 dimana sudah mulai dalam fase pelepasan di skala terbatas yakni di wilayah Sleman dan Bantul. Kegiatan saat itu sudah mulai intens berhubungan dengan masyarakat, dan memperkuat aspek kesehatan masyarakat,” kata dia saat dijumpai di ruang kerjanya, Selasa (6/6/2017) pekan lalu.

Desember 2012 lalu, ia menjalankan amanah sebagai Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Kedokteran UGM. Menginjak 2013 ia diminta menjadi bagian dari EDP agar dapat memperkuat komunikasi dengan stakeholder nasional (dalam hal ini yakni Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset dan Teknologi) meskipun penelitian tersebut baru sampai di skala penelitian terbatas.

Memasuki penelitian fase dua tersebut adalah saat bagi EDP membutuhkan dukungan dan keterlibatan institusi serta stakeholder nasional. Maka, perannya sebagai Wakil Dekan diharapkan dapat memfasilitasi serta memperkuat komunikasi dengan stakeholder.

Selain itu, bagi Prof Uut, penelitian dengan teknologi baru tersebut menjadi daya tarik tersendiri baginya. Keterlibatannya sebagai peneliti utama dan project leader, bukan hal yang mudah dijalani Prof Uut sejak empat tahun yang lalu. Dengan perannya tersebut maka ia bertanggung jawab penuh atas keseluruhan proses penelitian.

Melakukan sebuah proses pengabdian masyarakat, berbuat banyak untuk masyarakat menjadi salah satu tujuannya, meski dengan banyak tantangan ia berusaha membantu mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang bebas dari penyakit demam berdarah.

Pada tahun awal ia diamanahi memimpin penelitian tersebut bahkan bukan jalan mulus yang ia lalui. Sejak kali pertama tim EDP akan melakukan  pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di Sleman sempat terjadi penolakan dari warga di empat RT.

“Kala itu beberapa kelompok kecil warga menjadi skeptis pada penelitian ini, dan kami mengalami kendala dalam mengajak berkomunikasi. Awalnya hanya beberapa kelompok kecil yang lantas merambah memengaruhi RT lain dan pelepasan nyamuk hampir terancam terhenti kala itu,” kata dia.

Berpikir jernih menjadi cara bagi ia dan timnya ketika mengalami kesulitan di lapangan. Waktu itu, ditanamkan pemikiran dalam dirinya bahwa sebaik apapun informasi yang diberikan saat penelitian kepada masyarakat, masyarakat tetap memiliki hak untuk memutuskan dan mempertanyakan penelitian yang akan dilakukan.

Namun, kekhawatiran tersebut seakan luntur dengan informasi yang terus menerus diberikan serta kepercayaan dan dukungan yang diberikan para pemangku kepentingan, khususnya Gubernur DIY.

“Waktu itu ND (Ngarso Dalem) mengatakan kalau yakin penelitian ini bisa berjalan dan membawa manfaat, terus lanjut saja, kami akan mendukung. Peran stakeholder saat itu betul-betul kami rasakan bahkan pada saat terancam terhenti, kepercayaan tetap diberikan kepada tim,” kenang Prof Uut.

Kejadian tersebut, menjadi titik semangat bagi dirinya dan tim EDP untuk melanjutkan penelitian. Menggencarkan pendekatan kepada masyarakat salah satunya melalui sosialisasi pelaksanaan penelitian dengan berbagai cara.

Seiring berjalannya waktu masyarakat pun kian memberikan respon yang positif, kerjasama terbentuk demi suksesnya proyek penelitian. Setelahnya, dengan kerjasama yang makin intens dengan stakeholder, masyarakat, juga tentunya tim EDP maka tak ada yang menjadi hal krusial yang perlu dirisaukan.

Prof Uut mengatakan 2019 mendatang memasuki fase terakhir dalam penelitian. Peletakan telur dan nyamuk akan dilakukan sampai sekitar November 2017 di tahap kedua wilayah Kota Yogyakarta. Selanjutnya pada 2018 akan mulai melihat bagaimana dampaknya.

Banyak hal yang menjadi kesibukan dirinya dan tim di akhir tahun nanti sampai 2019. Tim akan mulai memantau kasus DB, seberapa besar kasusnya dapat terkurangi setelah adanya proyek tersebut. Tantangan terbesar dikatakan Prof Uut justru bakal muncul pasca 2019 mendatang, pasca penelitian.

Melihat dan menerima hasil penelitian di 2019 mendatang menjadi langkah yang memang harus dilalui. Namun, ia dan tim berusaha dan berharap dapat berhasil membuktikan bahwa teknologi penyebaran nyamuk ber- Wolbachia ini bisa benar-benar menurunkan penyakit Demam berdarah dengue.

Namun, secara pribadi, Prof Uut menganggap berhasilnya penelitian adalah ketika lebih banyak masyarakat yang mendapat manfaat dari penelitian tersebut.

“Kalau sampai di titik dapat membuktikan penelitian berhasil dilakukan namun tidak ada yang tertarik untuk mengadopsi penelitian ini ya sama saja. Harapannya nanti bisa kita yakinkan agar pemerintah DIY menjadi wilayah pertama yang akan mengadopsi menjadi kebijakan,” kata dia.

Editor: | dalam: Kota Jogja |
Menarik Juga »