WISATA WONOGIRI
Dulu Diburu Pehobi Selfie, Rumah Keramik Hias di Dekat WGM Kini Sepi

Pengunjung berswafoto di Rumah Keramik Hias, Wonogiri, beberapa waktu yang lalu. (Istimewa/Ulul Mar'atus Sholihah)Pengunjung berswafoto di Rumah Keramik Hias, Wonogiri, beberapa waktu yang lalu. (Istimewa/Ulul Mar'atus Sholihah)

Wisata Wonogiri, Rumah Keramik Hias kini sepi pengunjung.

Harianjogja.com, WONOGIRI — Rumah Keramik Hias di Wonogiri yang berada tidak jauh dari kawasan objek wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM) menjadi spot buruan untuk berswafoto beberapa waktu lalu. Namun, tempat selfie itu akhir-akhir ini mulai sepi peminat.

Saat solopos.com menemui pemiliknya, Ernawa Sari, 22, masih terdapat sebuah kotak bertuliskan “Selfie Rp3.000” di toko keramik hias yang merupakan tempat menjajakan berbagai macam perabotan dari keramik itu. Sedangkan Rumah Keramik Hias berada di seberang jalan dari toko tersebut. “Sekarang memang sudah sepi untuk selfie,” kata Ernawa, Sabtu (17/6/2017).

Dia menceritakan awal tahun lalu paling banyak pengunjung datang ke Rumah Keramik Hias hingga harus mengantre. Menurut Ernawa, para pengunjung yang ingin berswafoto semuanya merupakan anak-anak muda dan remaja. Namun, mulai awal tahun ini hanya sedikit yang berminat berswafoto di lokasi tersebut.

Meski begitu Ernawa tidak ambil pusing. Sebab, Rumah Keramik Hias untuk swafoto itu hanya pendukung bagi bisnis utamanya, yakni jualan keramik hias. “Tetapi sekarang, perekonomian masyarakat juga sedang sulit. Buat beli kebutuhan primer saja masih sulit, apalagi buat beli seperti ini [keramik hias] yang merupakan kebutuhan tersier,” imbuhnya.

Seorang pembeli melihat-lihat beberapa produk di toko keramik hias, Wonogiri, Sabtu (17/6/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos)

Seorang pembeli melihat-lihat beberapa produk di toko keramik hias, Wonogiri, Sabtu (17/6/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos)

Terlebih lagi dia menyadariharga-harga yang ditawarkan bukanlah harga yang cocok bagi warga dengan perekonomian menengah ke bawah. Misalnya satu set tempat duduk terdiri atas empat kursi, satu meja, dan piring hias diberi harga Rp4 juta.

Sedangkan satu set guci setinggi 30 cm, 40 cm, dan 50 cm dijual seharga Rp500.000. Harga termurah di toko keramik hias cabang Majalengka, Jawa Barat, itu yakni asbak bertuliskan Waduk Gajah Mungkur seharga Rp10.000.

Namun, Ernawa mengaku tertolong oleh adat-istiadat di Papua yang menggunakan piring keramik hias sebagai mahar atau mas kawin utama saat menikah. Tak tanggung-tanggung, ia mendapat order minimal Rp108 juta dalam sekali kirim.

“Selama adat Papua masih menggunakan mahar berupa piring keramik ini, maka kami masih bisa bertahan. Minimal dalam sebuah pernikahan, mereka memesan 60 dus sebagai mahar. Setiap dus berisi 12 piring besar dan masing-masing piring seharga Rp150.000. Tetapi pesanannya, tidak menentu,” beber dia.

Meski begitu, dia tetap berharap agar pada Lebaran kali ini, toko dan rumah kreatifnya semakin ramai. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, lanjut dia, mulai H-3 Lebaran hingga H+10 akan banyak para wisatawan Waduk Gajah Mungkur yang mampir ke tempat usahanya.

“Para wisatawan itu biasanya warga daerah luar yang mengunjungi Wonogiri atau warga Wonogiri yang merantau ke daerah lain beli keramik ini dulu sebagai oleh-oleh,” bebernya.

Salah satu pengunjung, Ulul Mar’atus Sholihah, warga Kulurejo, Nguntoronadi, Wonogiri, mengaku pernah foto di tempat tersebut. Menurutnya, tempatnya bagus dan unik, tetapi kurang berinovasi. “Lumayan untuk hangout, tetapi objeknya cuma itu saja,” ujarnya.

Editor: | dalam: Wonogiri |
Menarik Juga »