INFORIAL

INOVASI MAHASISWA
Limbah Tempurung Kelapa Jadi Pemurni Udara

Tim mahasiswa UNS yang beranggotakan Yayan Dwi Sutarni, Alfiyatul Fithri, dan Burhan Fatkhur Rahman (dari kanan ke kiri), berhasil membuat alat pemurni udara dengan memanfaatkan limbah tempurung kelapa. (JIBI/Solopos/Septhia Ryanthie)Tim mahasiswa UNS yang beranggotakan Yayan Dwi Sutarni, Alfiyatul Fithri, dan Burhan Fatkhur Rahman (dari kanan ke kiri), berhasil membuat alat pemurni udara dengan memanfaatkan limbah tempurung kelapa. (JIBI/Solopos/Septhia Ryanthie)

Pohon kelapa merupakan pohon yang kaya manfaat. Mulai ujung akar, batang, buah, sampai ujung daun, bahkan tempurung kelapanya dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Sayangnya, pemanfaatan tempurung kelapa sekarang ini belum maksimal. Mayoritas tempurung kelapa hanya dimanfaatkan menjadi bahan bakar arang yang menyebabkan polusi udara. Padahal tempurung kelapa justru bisa dimanfaatkan sebagai salah satu komponen dalam proses filtrasi atau pemurni udara.

Tim mahasiswa dari Program Studi (Prodi) Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menjadi kreator pemanfaatan limbah tempurung kelapa ini. Tim beranggotakan Alfiyatul Fithri dari Angkatan 2015, Yayan Dwi Sutarni dari Angkatan 2014, dan Burhan Fatkhur Rahman dari Angkatan 2014 ini berhasil membuat alat pemurni udara dengan kombinasi air dan tempurung kelapa sebagai komponen dalam proses filtrasi. Temuannya disebut Air Purification Tools Using Coconut Shell (Aptocus). Di bawah bimbingan dosen Maulidan Firdaus, tim ini lolos dalam Program Kreativitas Mahasiswa Karya Cipta (PKM-KC), Maret 2017.

Fithri dan kawan-kawannya mengemukakan ide penelitian mereka berawal dari melihat banyaknya kasus kebakaran di Indonesia, termasuk kasus kebakaran hutan. Dari berbagai kasus kebakaran itu, tidak sedikit yang menimbulkan korban jiwa.”Inovasi ini untuk membantu korban kebakaran yang terjebak asap regional, berupa konsep Aptocus. Ini  adalah alat pemurni udara dengan kombinasi air dan tempurung kelapa sebagai komponen dalam proses filtrasi,” ungkap Fithri.

Air digunakan dalam proses filtrasi tahap pertama dan arang aktif yang diperoleh dari tempurung kelapa digunakan dalam filtrasi tahap kedua. Filtrasi tahap kedua adalah filtrasi utama dalam Aptocus. “Tujuan utama produk ini adalah alternatif pertolongan pertama yang mengolah asap kebakaran menjadi udara bersih bebas gas beracun selama proses evakuasi,” ujar Yayan.

Alat tersebut bekerja dengan menggunakan prinsip absorpsi gas. “Cara kerja Aptocus dimulai dari pompa akan menyerap asap kemudian dialirkan ke dalam tabung filter 1 berisi air. Setelah melewati filter 1 kemudian udara dialirkan menuju filter 2 yang berisi karbon aktif sehingga terjadi proses absorbsi gas-gas beracun antara lain CO dan CO2. Setelah melewati kedua filter tersebut, udara bersih dapat dihirup dengan aman melalui sampel masker,” tambah dia.

Pengujian keberhasilan proses aktivasi karbon dilakukan menggunakan spektrofotometer Fourier Transform Infrared Spectroscopy. Kemudian pengujian efektifitas alat dilakukan melalui pengujian kandungan asap sebelum dan sesudah melewati Aptocus menggunakan alat gas absorption analyzer (GSA). Efisiensi kinerja Aptocus dapat menurunkan kadar CO dalam asap sebesar 75 persen sampai 85 persen serta menurunkan kadar CO2 sebesar 24 persen sampai 51 persen. “Hasil tersebut menunjukkan Aptocus efektif menyaring asap beracun menjadi udara bersih,” kata dia.

Alat yang didesain mudah dibawa ke mana-mana bisa digendong seperti layaknya tas punggung. “Untuk petugas pemadam kebakaran pun bisa,” imbuh dia. Hasil penelitian akan didaftarkan untuk mendapatkan hak paten mengingat temuan ini belum ada sebelumnya. Pembuatan Aptocus ini secara tidak langsung dapat mengatasi dua permasalahan yaitu mengurangi angka kematian korban karena terjebak asap regional dan mengurangi jumlah limbah tempurung kelapa di Indonesia.

Editor: | dalam: Gaul Update |
Menarik Juga »