Festival Dolanan Anak Ramaikan Malioboro

Anak-anak sedang mementaskan permainan anak tempo dulu di kawasan Malioboro, Sabtu (15/7/2017) siang. (Harian Jogja/ Ujang Hasanudin)Anak-anak sedang mementaskan permainan anak tempo dulu di kawasan Malioboro, Sabtu (15/7/2017) siang. (Harian Jogja/ Ujang Hasanudin)

Puluhan anak asyik bermain di kawasan pedestrian Malioboro, Sabtu (15/7/2017) siang

Harianjogja.com, JOGJA-Puluhan anak asyik bermain di kawasan pedestrian Malioboro, Sabtu (15/7/2017) siang. Menariknya, permainan yang dimainkan anak seusia taman kanak-kanan (TK) dan sekolah dasar (SD) merupakan permainan anak tempo dulu yang sudah jarang dimainkan di era modern ini.

Beberapa permainan tradisional yang dimainkan anak-anak tersbut di antaranya adalah lompat bambu, ancak-ancak alis dan jamuran. Masing-masing permainan dimainkan oleh satu kelompok yang terdiri dari enam orang dampai 12 orang tiap kelompok. Total ada tujuh kelompok.

Setiap kelompok berpencar dari depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY sampai depan Pasar Bringharjo. Semua anak-anak yang bermain mengenakan pakaian tradisional, termasuk atribut permainannya.

Lompat bambu yang dimainkan di depan Malioboro Mall misalnya. Ada enam orang anak yang memainkan permainan ini. Empat orang memegang bambu yang dipukul-pukulkan ke tanah, lalu bambu tersebut saling beradu. Sementara dua orang lainnya adalah yang menari memutari bambu, kemudian sesekali melompat dengan satu kaki ke dalam kotak bambu. Cara melompat pun harus memperhatikan ketukan bambu agar tidak terjepit.

Kelompok lainnya memainkan jamuran yang dimainkan oleh delapan orang. Permainan ini diawali dengan mengundi atau pingsut, yang kalah jongkok kemudian tujuh anak lainnya berjalan mengelilingi anak yang jongkok. Saat mengelilingi ini mereka sambil bernyanyi jamuran. Kemudian bertanya kepada yang jongkok jamur apa yang diinginkan.

Apa pun keinginan yang jongkok harus dituruti. Yang tidak mampu menuruti maka ia jadi atau kalah. Selain itu ada juga permainan egrang, serta berjalan diatas sandal batok kelapa. Apa yang dilakukan anak-anak dalam rangka festival dolanan anak ini mengundang perhatian banyak wisatawan yang berada di kawasan Malioboro.

Banyak wisatawan yang berkerumum menyaksikan permainan tradisional tersebut. Bahkan beberapa wisatawan tidak ingin ketinggalan momen tersebut dengan mengabadikannya melalui kamera telepon selular (ponsel).

Selesai bermain, antar kelompok saling menghampiri, kemudian berkumpul bersama di kawasan Titik Nol Kilometer Jogja. Di sana mereka membuat berbagai kreasi dengan bahan dasar daun. “Ada yang membikin keris kerisan janur, cemeti janur, ketupat, dan terompet,” kata Koordinator Festival Dolanan Anak,  Chiprianus Tugiyanto.

Festival Dolanan Anak itu merupakan bagian dari rangkaian Festival Budaya Mataram yang digelar Dinas Pariwisata DIY dan sejumlah komunitas. Festival tersebut sudah kedua kalinya digelar, namun baru tahun ini mendapat dukungan sepenuhnya dari Dinas Pariwisata.

Acara itu sebelumnya diawali dengan eksplorasi budaya jaman dulu dengan melibatkan 200 penghobi fotografer dari berbagai daerah. Chiprianus mengatakan Festival Budaya Mataram tujuannya ingin memunculkan kembali tradisi lama yang pernah eksis namun tergerus zaman.

Pilihan lokasi Malioboro karena kawasan tersebut memiliki nilai sejarah sebagai bagian dari sumbu filosofi Jogja. Sebagai kawasan yang banyak melahirkan banyak budayawan dan sastrawan, kawasan Malioboro juga sebagai ajang ekspresi anak-anak dengan berbagai dolanan anak. Selain itu juga mengenalkan wajah Malioboro sebagai semi pedestrian.

“Supaya punya dampak ke pariwisata kita ajak komunitas fotografer untuk mengeksplor seluruh kegiatan.” kata dia.

Kepala Seksi Obyek Daya Tarik Wisata (ODTW) Dinas Pariwisata DIY, Wardoyo sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. “Mainan anak-anak tempo dulu ini menjadi penting diketahui publik.” kata dia. Ia mengatakan acara tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan khususnya di kawasan Malioboro.

Editor: | dalam: Kota Jogja |
Menarik Juga »