INFORIAL

GAGASAN
Bisnis Syariat ala Istana Pasir

SuharnoSuharno

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (14/7/2017). Esai ini karya Suharno, dosen di Program Studi Akuntansi dan Magister Manajemen Universitas Slamet Riyadi, Solo. Alamat e-mail penulis adalah suharno_mm_akt@yahoo.co.id.

Harianjogja.com, SOLO–Dalam sepekan terakhir  kita dikejutkan dua kasus dugaan investasi bodong yang dilaporkan ke Kepolisian Resor Kota Solo. Kasus pertama adalah investasi berkedok tabungan emas yang dilakukan pasangan suami istri Dina Yuanita dan Djody Wisnubroto.

Modus yang dilakukan adalah dengan membuka usaha menggunakan  nama CV Kebun Emas kemudian  membujuk masyarakat agar menginvestasikan uang pada emas batangan dengan iming-iming menggiurkan: keuntungan 5% per bulan.

Awalnya berjalan lancar sehingga banyak orang yang percaya kemudian ikut bergabung. Seiring berjalannya waktu ternyata  keuntungan 5% macet di tengah jalan. Janji tinggal janji. Usaha ini bisa berjalan karena modusnya gali lubang tutup lubang.

Tercatat ada  61 orang korban dengan total kerugian mencapai Rp2 miliar yang akhirnya gigit jari. Kasus kedua menyeret nama ustaz kondang Yusuf  Mansyur. Ia dilaporkan warga Solo karena ingkar janji tidak mambayar bagi hasil  investasi pembangunan hotel.

Nilai investasi yang ditawarkan bervariasi, bernilai puluhan juta rupiah. Kejadiannya berlangsung sejak  lima tahun lalu, namun baru dilaporkan sekarang karena bagi hasil tidak terealisasi.

Kasus ini menarik dan menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa terjadi hampir bersamaan dan berlokasi di Kota Solo, padahal kasus bisnis abal-abal ini  sering kali terjadi? Mengapa masyarakat tidak jera? Masih segar dalam ingatan kita kasus CV Medical.

Berkedok bisnis tanaman ginseng dengan menjanjikan keuntungan 10% perbulan. Korbannya ribuan orang. Disusul booming tanaman hias jenmani dan  gelombang cinta yang harganya gila-gilaan sehingga orang memburunya untuk meraih keuntungan besar. Belum reda, muncul kehebohan batu akik dengan akhir yang sama. Memburu  untung, namun berakhir buntung.

Maniak Gambling

Hukum ekonomi menyatakan bila investasi menjanjikan tingkat keuntungan besar dan tidak wajar maka risiko yang dihadapi juga besar. Dari fenomena tersebut ada yang mengatakan orang Solo yang terkenal lemah lembut, ramah tamah, dan santun ini ternyata suka  gambling dan gampang dipengaruhi.

Benarkah demikian? Barangkali ada benarnya pernyataan tersebut. Terbukti hingga hari ini bila kita jeli melihat di kampung-kampung, secara diam-diam permainan judi  capjiki masih berjalan.

Selanjutnya adalah: Ada kesamaan modus investasi bodong…

Editor: | dalam: Kolom |
Menarik Juga »