TIPS PARENTING
Hindarilah Bertengkar di Depan Anak

Foto ilustrasi: Bertengkar di depan anak berdampak negatif terhadap anak. (theinfidelity.com)Bertengkar di depan anak berdampak negatif terhadap anak. (theinfidelity.com)

Hindarilah bertengkar di depan anak karena berdampak buruk pada anak.

Harianjogja.com, SOLO — Perbedaan pandangan antara suami dan istri merupakan hal biasa dan sering menjadi pertengkaran. Namun sebaiknya hindarilah bertengkar di depan anak.

Konsultan keluarga asal Makamhaji, Sukoharjo, Ari Aji Astuti mengungkapkan pertengkaran suami istri biasanya terjadi karena pemahaman yang berbeda tentang suatu masalah. Pemicunya beragam, bisa masalah ekonomi, pekerjaan, anak dan masalah lainnya.

Seharusnya, kata Ari, orang tua bisa mengendalikan diri ketika emosinya meningkat sehingga tidak bertengkar di depan anak. Hal ini karena pertengkaran itu akan berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis anak.

Hal itu karena seorang anak butuh kenyamanan dan perlindungan dari orang tua. “Ketika anak melihat orang tuanya bertengkar, pasti anak tidak akan nyaman,” jelasnya.

Namun ketika orang tua telanjur bertengkar di depan anak, Ari berpesan agar kedua orang tua meminta maaf dan berusaha meraih kembali hati anak. Jangan sampai orangtua membiarkan begitu saja anak mereka melihat pertengkaran orang tuanya tanpa ada penjelasan.

Permohonan maaf orang tua kepada anak itu penting karena pertengkaran itu telah membuat anak tidak nyaman dan merupakan contoh yang tidak baik. Selanjutnya, beri pemahaman kepada anak, mengapa orang tuanya bertengkar.

Selanjutnya berjanjilah bahwa nanti ketika ada masalah lagi, orang tua tidak akan bertengkar. “Raih simpati anak, peluk dia dan ajak bicara,” ungkapnya.

Jika setelah bertengkar di depan anak orang tua tidak berusaha meminta maaf kepada anak, ungkapnya, bukan tidak mungkin anak akan lari ke luar rumah untuk mencari kenyamanan. Jika di luar rumah ada orang baik yang bisa memberikan kenyamanan, mungkin tidak akan menimbulkan masalah besar. Tapi jika orang yang memberikan kenyamanan itu orang tidak baik, tentu akan menjadi masalah besar.

Menurutnya, anak-anak yang terlibat narkoba ataupun melakukan perbuatan buruk lainnya, kebanyakan berawal dari kondisi keluarganya yang tidak harmonis.

Ari berpesan agar pasangan suami istri berpikir panjang ketika akan bertengkar. Ketika ada masalah, selesaikan dengan lapang dada. Jika emosi meningkat, berusahalah meredakan emosinya. Misalnya dengan berusaha menghindari orang yang membuatnya emosi, mengubah posisi tubuh misalnya dari berdiri menjadi duduk dan mengingat Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Ketika seseorang memiliki hubungan baik dengan Tuhan, dia akan terapkan cara yang baik ketika ada masalah. Bukan dengan bertengkar,” ujarnya.

Editor: | dalam: Relation |
Menarik Juga »