Bentuk Grup WA, Korban Ungkap Cara Marketing First Travel Bekerja

Warga menunggu mengurus refund terkait permasalahan umrah promo di Kantor First Travel, Jakarta Selatan, Rabu (26/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Sigid Kurniawan)

Para korban First Travel membentuk grup WA.

Harianjogja.com, KLATEN — Sejumlah orang yang menjadi korban biro perjalanan ibadah First Travel (FT) membentuk grup di media sosial dan Whatsapp (WA). Salah satu admin menuturkan bagaimana marketing First Travel bekerja dalam grup tersebut.

Grup WA beranggotakan 93 orang itu bernama Grup Korban Upgrade FT dan dibikin kali pertama saat bertemu di Gedung GKM Green Tower Jl. T.B. Simatupang, kantor FT. Mereka juga membentuk grup Facebook dengan nama Kawal Jamaah Korban Firsttrvl. (Baca juga: Warga Klaten Korban First Travel Tak Berani Berharap Uang Kembali)

Reni Hapsari, salah satu admin grup Whatsapp FT, mengatakan rata-rata peserta bergabung dengan FT melalui agen. Ada juga yang atas rekomendasi teman atau saudara.

Jemaah yang tak memakai agen itu biasanya mendaftar via online. “Jadi pembayaran melalui transfer lalu bukti transfer ditukar dengan kuitansi ke customer service di kantor FT,” kata Reni, saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (12/8/2017).

Pendaftar melalui agen biasanya mendapat info dari iklan di media sosial. Di sana dicantumkan nomor koordinator jika ada yang berminat. Namun, sebagian besar peserta belum pernah bertemu langsung dengan koordinator yang disebut dalam iklan.

“Pada umumnya, seusai mentransfer sejumlah uang, bukti transfer ditukar dengan kuitansi ke kantor FT. Kemudian, jemaah itu mendapatkan koper dan perlengkapan umrah lainnya serta tinggal menunggu dihubungi FT perihal jadwal keberangkatannya.”

Awalnya, lanjut Reni, jemaah membayar sesuai harga promo Rp14,3 juta. Rata-rata dijanjikan setahun menunggu keberangkatan. Namun, setahun berlalu dan banyak peserta belum diberangkatkan.

FT lantas mulai menawarkan kepada jemaah untuk meng-uprade atau menambah biaya supaya cepat diberangkatkan. “Apalagi kemarin FT memanfaatkan momentum Ramadan yang katanya kalau menambah sekian akan diberangkatkan pada Ramadan kemarin,” terang Reni.

Ia mengaku tidak tahu persis berapa jumlah korban FT di Soloraya. Proses pendataan per wilayah baru dilakukan melalui grup media sosial. “Saya juga sempat mendengar kabar ada yang sampai sakit jiwa gara-gara kasus ini. Tapi persisnya saya tidak tahu.”

Reni juga menjadi salah satu korban upgrade FT. Ia mendaftar untuk dua orang, dirinya sendiri dan ibunya. Ia menyetorkan dana hingga Rp19,5 juta per orang dari semula Rp14,3 juta.

“Tapi tetap tidak diberangkatkan juga sampai sekarang,” tutur Reni yang merupakan warga Jakarta itu.

 

Editor: | dalam: Klaten |
Menarik Juga »