INFORIAL

KAMPUS JOGJA
Teliti tentang Perumahan di Sleman, STIM YKPN Miliki Doktor Baru

Suparmono, dosen STIM YKPN dinyatakan lulus dalam ujian terbuka di Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis (7/9/2017). (IST/dok. STIM YKPN)Suparmono, dosen STIM YKPN dinyatakan lulus dalam ujian terbuka di Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis (7/9/2017). (IST/dok. STIM YKPN)

Kampus Jogja, STIM YKPN menambah jumlah doktor dalam kampus tersebut

Harianjogja.com, SLEMAN – Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) YKPN Jogja kembali menambah satu doktor setelah Pimpinan Bidang Kemahasiswaan, Suparmono dinyatakan lulus dalam ujian terbuka di Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis (7/9/2017). Suparmono menjadi doktor ke-42 untuk Ilmu Ekonomi dan tercatat sebagai doktor ke-303 di UNS.

Suparmono lulus dengan predikat sangat memuaskan dengan  IP 3,88 dalam ujian terbuka promosi doktor di Ruang Sidang Pascasarjana UNS. Ia berhasil mempertahankan disertasi yang berjudul Pengaruh Aksesibilitas, Fasilitas, dan Luas Tanah terhadap Harga Tanah Perumahan di Kabupaten Sleman.

Suparmono merupakan pimpinan bidang kemahasiswaan dan staf pengajar di STIM YKPN. Ia tercatat sebagai alumni dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) tahun 1996 dengan predikat lulusan tercepat dan sangat memuaskan. Saat ini Suparmono terlibat aktif pada Ikatan Sarjana Ekonomi (ISEI) DIY dan sejumlah organisasi profesi lainnya.

Suparmono menejelaskan, disertasi miliknya telah dipublikasikan di jurnal internasional terindeks Scopus pada International Journal of Applied Business and Economic Research, vol. 15, 2017.

“Ada temuan baru yang penting dan bisa menjadi sumbangan pada dunia pengetahuan dalam disertasi ini. Yaitu faktor traveling time atau waktu tempuh menggeser jarak dari pusat kota dalam mempengaruhi harga tanah perumahan,” terangnya dalam rilis yang dikirim kepada Harianjogja.com, Jumat (8/9/2017).

Ia menambahkan, saat ini masyarakat urban lebih memilih tempat tinggal di pinggir kota, namun memiliki aksesibilitas tinggi daripada harus memilih tinggal di dekat kota tetapi mengalami kemacetan dan permasalahan lingkungan. “Temuan baru ini menggeser teori lokasi yang bersifat konvensional yang berkembang selama ini,” tegas dia.

Editor: | dalam: Sleman |
Menarik Juga »