SIPA Digadang-Gadang Jadi Embrio Perkembangan Seni Pertunjukan

Delegasi asal Thailand Nor Slip: Art Sprouts menampilkan Tari Lanna pada Solo International Perfoming Art (SIAPA) 2017 di Benteng Vastenburg, Solo, Jumat (8/9/2017) malam. (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)Delegasi asal Thailand Nor Slip: Art Sprouts menampilkan Tari Lanna pada Solo International Perfoming Art (SIAPA) 2017 di Benteng Vastenburg, Solo, Jumat (8/9/2017) malam. (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)

SIPA memasuki tahun kesembilan penyelenggaraan.

Harianjogja.com, SOLO — Pergelaran tahunan Solo International Performing Arts (SIPA) telah memasuki tahun kesembilan. Pembukaan pertama SIPA 2017 di Benteng Vastenburg Solo, Kamis (7/9/2017), dihadiri ribuan penonton.

Di panggung besar SIPA 2017 yang menyerupai KRI Dewa Ruci, tarian kolaborasi maskot SIPA 2017 Eko Supriyanto bersama Semarak Candra Kirana (SCK) dan Eko’s Dance Company membuka pentas dengan gerakan penuh energi. Upper yang terinspirasi tarian perang Halmahera Barat dan Maluku Utara dipersembahkan untuk merayakan kecintaan dan inspirasi tari-tari budaya maritim.

Sejumlah pejabat daerah turut hadir menyaksikan SIPA, di antaranya jajaran Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat, Kasubdit Hubungan Antar Lembaga Luar Negeri Badan Ekonomi Kreatif, Iman Santosa; Staf Kusus Bidang Multikultur Kementerian Pariwisata, Hari Untara Drajat; Wali Kota-Wakil Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo-Achmad Purnomo.

Eko saat diwawancara seusai acara mengatakan tiga hal penting soal SIPA yaitu connect, open, dan continue. Connect yang berarti menghubungkan segala bentuk seni dan karya yang beragam, open maksudnya membuka diri jika ingin menjadi festival yang lebih bagus lagi, dan konsisten melanjutkan event ini.

Ia juga menegaskan pentingnya kuratorial agar para penampil SIPA benar-benar layak disajikan dalam event internasional yang berdiri hampir satu dekade tersebut.

Gagasan serius soal SIPA yang mendekati tahun kesepuluh ini diungkap dalam Forum Grup Discussion (FGD) bersama sejumlah stakeholder seni budaya dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Rabu (6/9/2017), di The Royal Heritage Surakarta.

Perwakilan dari Bekraf, Dewi Mustiyono, mengatakan SIPA sebagai barometer seni diharapkan menjadi embrio berkembangnya seni pertunjukan dan bibit-bibit penari di Solo. Sehingga ketika orang ingin mencari para penari profesional langsung tertuju pada Kota Bengawan.

Tak hanya pentas, selepas SIPA ia berharap ada workshop dan management skill yang tujuan akhirnya untuk peningkatan mutu para seniman. “Bikin orang-orang perlu hadir ke Kota Solo, apakah ada di Solo ada asosiasi tari kalau ada Bekraf akan support. Tahun depan ada opening Asian Games saya kerja sama dengan Mas Eko misalkan saya butuh 5.000 penari nyari di mana?” kata dia.

Hal itu juga disampaikan Kasubdit Hubungan Antar Lembaga Luar Negeri Badan Ekonomi Kreatif, Iman Santosa. Saat membacakan sambutan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf di pembukaan SIPA 2017, ia mendukung upaya menjadikan Solo sebagai kota seni pertunjukan UNESCO. Sehingga, kata dia, perlu digelar kegiatan workshop yang berkaitan dengan perkembangan seni pertunjukan seperti tari, kostum, manajemen, dengan narasumber ahli dari luar negeri.

“Terkait SIPA, kami juga mendukung revitalisasi SIPA sebagai barometer seni pertunjukan Indonesia dan pasar seni pertunjukan dunia. ke depan semoga SIPA dapat menampilkan tak hanya seni tradisi dan kontemporer tetapi pentas seni lainnya seperti stand up comedy,” kata dia.

Editor: | dalam: Fokus |
Menarik Juga »