Kelangkaan Gas Melon di Bantul, Diduga Ini Penyebabnya

Pedagang kelontong di kawasan Timoho sedang melakukan pengecekan stok gas LPG di tokonya, Kamis (6/7/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)Pedagang kelontong di kawasan Timoho sedang melakukan pengecekan stok gas LPG di tokonya, Kamis (6/7/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)

Dinas Perdagangan Bantul menengarai kepanikan masyarakat yang mendorong pembelian gas secara besar-besaran (panic buying) menjadi penyebab kelangkaan gas elpiji tiga kilogram atau gas melon

 

Harianjogja.com, BANTUL–Dinas Perdagangan Bantul menengarai kepanikan masyarakat yang mendorong pembelian gas secara besar-besaran (panic buying) menjadi penyebab kelangkaan gas elpiji tiga kilogram atau gas melon di wilayah kabupaten ini.

Panic buying itu awalnya dipicu oleh kelangkaan gas melon di wilayah luar DIY, khususnya Jawa Tengah. Masyarakat yang panik akhirnya menimbun gas melon dan membuatnya susah ditemui di tingkat pangkalan.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Disdag Bantul, Subiyanta Hadi seusai rapat koordinasi terkait kelangkaan gas melon pada Selasa (12/9/2017). Menurutnya, fenomena kelangkaan gas melon di wilayah Bantul merupakan imbas dari daerah lainnya.

Sehingga pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak panik, apalagi bulan ini Pertamina melalui Hiswanamigas akan kembali menambah kuota fakultatif. “Secepatnya akan ditambah, sebelum Jumat. Kami arahkan ke Dlingo,” ucapnya.

Hal tersebut didasari atas pertimbangan kelangkaan di Dlingo sudah terjadi hampir satu bulan. Selain itu dari data yang dimiliki Disdag, Dlingo memiliki pangkalan paling sedikit dibandingkan wilayah lain di Bantul yakni sebanyak sembilan pangkalan.

Selain karena panic buying, Disdag juga menduga banyak gas melon yang salah sasaran. Gas yang harusnya dimanfaatkan oleh rumah tangga dan usaha mikro ini, ditengarai juga digunakan oleh pengusaha menengah dan besar khususnya restoran atau bahkan ditimbun oleh pengecer yang nakal.

Apalagi saat membeli gas, pihak pangkalan tak bisa membedakan antara konsumen individu dengan pengecer dan pelaku usaha. Maka menurut Subiyanta, pihaknya bakal segera melakukan pengawasan lapangan untuk mengatasi permasalahan kelangkaan ini.

Subiyanta menambahkan dalam rapat koordinasi, seluruh agen bersepakat untuk melayangkan surat himbauan pada pangkalan agar tetap menjual gas melon sesuai HET dan memprioritaskan warga Bantul. Ia juga menyebut akan segera melakukan rapat koordinasi lanjutan dengan perwakilan pangkalan yang seluruhnya berjumlah 1017 pangkalan.

Nantinya setiap kecamatan akan dipanggil dua hingga tiga pangkalan untuk turut serta dalam rapat koordinasi tersebut. Terkait pelanggaran yang masih dilakukan baik di tingkat pangkalan maupun pengecer, Subiyanto menyatakan tak segan-segan menggandeng pihak berwenang untuk menjatuhkan sanksi tegas. “Kalau melanggar tahu sendiri resikonya,” tegasnya.

Editor: | dalam: Bantul |
Menarik Juga ┬╗