INFORIAL

Konser Dream Theater Guncangkan Struktur Batu Candi Prambanan

TAWUR AGUNG-- Sejumlah umat Hindu berdo'a pada acara Tawur Agung di Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (22/3). Tawur Agung merupakan salah satu rangkaian acara menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1934. (GIGIH M. HANAFI/JIBI/Harian Jogja)TAWUR AGUNG-- Sejumlah umat Hindu berdo'a pada acara Tawur Agung di Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (22/3). Tawur Agung merupakan salah satu rangkaian acara menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1934. (GIGIH M. HANAFI/JIBI/Harian Jogja)

Konser Dream Theater mendapat perhatian BPCB DIY

Harianjogja.com, SLEMAN — Gelaran konser band rock progresive Dream Theater pindah lokasi ke Candi Prambanan. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY mengkhawatirkan getaran dari konser ini akan berdampak pada susunan batu peninggalan sejarah Hindu ini.

Kasi Perlindungan dan Pemanfaatan BPCB DIY Wahyu Astuti mengatakan kekhawatiran ini bukan berarti konser musik cadas ini akan langsung meruntuhkan bangunan candi.

“Tidak lantas buat candi runtuh, gempa saja tidak apa-apa tapi getarannya kan mengganggu, kurang baik dari segi konservasi,” ujarnya pada Harianjogja.com, Selasa (12/9/2017).

Ada kemungkinan musik yang berisik ini akan menggoncangkan tatanan dan struktur batuan di kompleks candi yang dibangun pada 850 Masehi ini. Meski belum dapat dipastikan, tingginya desibel yang dihasilkan konser itu akan membuat retakan ataupun dampak kecil yang berakibat dalam jangka panjang. Wahyu mengatakan batas maksimal suara di wilayah candi seharusnya maksimal hanya berkisar 80-100 desibel.

Menurutnya, pagelaran musik jazz yang belum lama ini berlangsung getarannya mencapai angka tersebut, apalagi musik rock dengan musik yang lebih menggelegar. Selain itu, ia juga menyoroti aspek kepantasan jika Candi Pramabanan dijadikan lokasi konser musik. Pasalnya, candi tersebut dulunya merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu sehingga seharusnya dijaga suasananya.

“Dipakai untuk musik yang dombreng-dombreng itu kan rasanya tidak patut,” jelasnya.

Dalam jangka panjang ia juga menganggap akan tumbuh salah kaprah dari masyarakat mengenai penggunaan bangunan cagar budaya ini pada waktu-waktu mendatang. Dikatakan pula jika pihaknya selalu berharap jika penggunaan situs warisan dunia UNESCO ini selalu selaras dengan keberadaan candi.

Editor: | dalam: Sleman |
Menarik Juga »