BPAD DIY Bedah Budaya Madura di Jogja

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur Sudjono (paling kanan) saat memaparkan materi Budaya Lokal Madura dalam Telaah Pustaka Budaya Lokal yang digelar BPAD DIY di Grhatama Pustaka, Selasa (19/9/2017). (Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur Sudjono (paling kanan) saat memaparkan materi Budaya Lokal Madura dalam Telaah Pustaka Budaya Lokal yang digelar BPAD DIY di Grhatama Pustaka, Selasa (19/9/2017). (Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja)

Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY menggelar Telaah Pustaka Budaya Jawa Timur sebagai tema utamanya.

Harianjogja.com, JOGJA– Setelah menggelar Telaah Pustaka Budaya Jawa Barat beberapa pekan lalu, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY kembali menggelar acara serupa. Hanya saja kali ini mereka menjadikan budaya lokal Jawa Timur sebagai tema utamanya.

Bertempat di Grhatama Pustaka, Selasa (19/9/2017), BPAD DIY menggelar telaah pustaka Jawa Timur dengan menekankan topik pemaparan pada budaya lokal Madura.

Sebagai pemateri, dihadirkan dua orang yang memiliki kompetensi terhadap budaya Madura, yakni Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur Sudjono serta seorang akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus pemerhati budaya Madura Abdur Rozaki.

Dalam pemaparannya, Sudjono mengakui referensi terkait budaya Madura memang sangat mendominasi koleksi perpustakaan yang ia kelola. Beberapa koleksi-koleksi tua tentang Madura seperti misalnya buku terbitan tahun 1905 Madoereesch-Nederlandsch Woordenboek karya H.N Kilianoe serta buku terbitan tahun 1922 Sangkalan karya Th. J.A Helgers.

Sudjono menjelaskan, selain empat kabupaten di Pulau Madura sendiri, budaya Madura juga tersebar di beberapa daerah di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur, yakni Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan sebagian Banyuwangi. “Sementara secara keseluruhan, menurut budayawan Ayu Sutarto, Madura adalah bagian dari sepuluh kawasan kebudayaan di Jawa Timur,” katanya.

Dari beberapa referensi, masing-masing kabupaten di Pulau Madura memiliki karakteristik budaya yang berbeda-beda. Oleh karena itulah, saat ini ia tengah menyiapkan beberapa program untuk mengembangkan referensi tersebut.

Di antaranya adalah dengan terus berupaya menambah koleksi, baik tercetak maupun terekam. “Selain itu, kami juga terus mengumpulkan referensi tambahan yang berasal dari keterangan langsung masyarakat,” tambahnya.

Sementara Abdur Rozaki menjelaskan, secara demografi, jumlah penduduk di Pulau Madura pada tahun 2016 mencapai 3.995.143 jiwa. Penduduk terpadat ada di Kabupaten Bangkalan yang jumlahnya mencapai 1.190.129 jiwa terpaut sedikit dengan Kabupaten Sumenep yang jumlah penduduknya sebanyak 1.100.711 jiwa.

Struktur sosial masyarakat Madura, tambah Roziki, memiliki relevansi dengan pola pertanian tegalan dan pola pemukiman yang memposisikan agama sebagai sebuah kesadaran kolektif sosial kemasyarakatan. Dalam konteks ini posisi kiai sebagai tokoh agama memiliki hierarki teratas dalam struktur sosial masyarakat. “Sebagaimana tercermin dalam ungkapan, Buppa’ Babbu’, Guruh Ratoh,” ujarnya.

Terkait telaah pustaka konten lokal itu sendiri, tahun ini pihak BPAD telah menggelar kegiatan Telaah Pustaka Lokal total sebanyak lima kalinya dalam tahun 2017. Rencananya, tahun ini telaah pustaka itu akan digelarnya sebanyak enam kali. “Masing-masing provinsi nanti kami minta untuk memaparkan perihal budaya lokal mereka sendiri-sendiri,” ungkap Kepala BPAD DIY Budi Wibowo.

Editor: | dalam: Kota Jogja |
Menarik Juga »