KISAH INSPIRATIF
Ke Kuburan Kenakan Baju Toga, Perjuangan Wanita Ini Layak Ditiru

El saat berfoto di makam ayah ibunya (Twitter)El saat berfoto di makam ayah ibunya (Twitter)

Kisah inspiratif tentang perempuan yatim piatu yang berjuang menyelesaikan pendidikan.

Harianjogja.com, NEGERI SEMBILAN – Kisah inspiratif tentang perempuan yatim piatu yang berjuang demi pendidikannya ramai dibicarakan di media sosial (medsos) Twitter.

Menjadi anak yatim sejak usia 4 tahun dan yatim piatu di usia 10 tahun. Perempuan yang kerap dipanggil dengan sebutan El itu kini berhasil lulus kuliah setelah sempat hidup sebatang kara di panti asuhan.

El merupakan perempuan asal Malaysia kelahiran 1996. Belum lama ini ia lulus kuliah dan mengunggah foto diri di makam ayah ibunya  saat mengenakan toga kelulusan. “Orang tua pergi menjala, menjala sambil mata tertutup. Dulu anakmu dianggap gila, kini mampu teruskan hidup. Terima kasih Mama dan Ayah,” cuit El melalui akun @shewasokay, Rabu (11/10/2017).

Cuitan El itu menjadi viral, saat dipantau Harianjogja.com, Kamis (12/10/2017) cuitan itu sudah di-retweet lebih dari 20.000 kali. El menceritakan perjalanannya dari mulai kecelakaan di tahun 2000 yang menewaskan ibunya, kemudian pada 2006 ayahnya meninggal dunia karena sakit dan perjuangan berat El melanjutkan hidup setelah menjadi yatim piatu.

Berdasarkan cuitaannya, diketahui El merupakan anak tunggal. Ia memiliki saudara angkat dari hasil pernikahan ibunya dengan suami pertama. Empat bulan setelah ayah El meninggal, El yang baru 10 tahun dikirim ke panti asuhan di daerah Ampangan, Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.

Sang paman yang mengantar El ke panti asuhan berjanji akan menjemput El saat usianya 12 tahun. Penantian El seperti tak ada ujungnya, sang paman tak datang menjemput setelah dua tahun. El bahkan sudah biasa tetap tinggal di panti meski sedang hari raya. El hanya sesekali pulang ke rumah saudara angkatnya, itupun setelah El menelepon minta dijemput.

Semasa sekolah El kerap disebut anak gila. Rasa kehilangan dan kesepian yang teramat besar sepeninggal ayahnya, El kerap melakukan hal yang di luar akal sehat. Ia sempat lupa ayahnya sudah meninggal dan menunggu dijemput ayahnya.

Perjuangan berat El saat anak-anak masih berlanjut di masa remajanya. Ia bisa menempuh pendidikan tinggi di salah satu kampus seni di Malaysia berkat tabungannya selama tujuh tahun di panti asuhan. Meski demikian, tabungan itu hanya cukup hingga semester tiga. Selebihnya El mencari tambahan dari jalur beasiswa.

“Adakala saya tak makan nasi hampir sepekan. Kadang-kadang lupa terakhir makan nasi hari apa. Tapi syukurlah kawan-kawan saya baik, saya sering diberi,” cuit El.

Membaca cerita tentang kehidupan El, warganet pun terharu. Beragam komentar doa dan pujian mengalir dari warganet.

“Saya tak kenal kamu, tapi saya ikut bangga dengan capaianmu. Semoga terus kuat dan selalu dalam lindungan Allah,” cuit @fatihsahril.

“Hmm, sedih membaca cerita ini, semoga kamu selalu sukses dalam menjalani hidup dan mampu membanggakan orang tua,” cuit @SyafiqAbdlatif.

“Air mata meleleh baca ini. Semoga tabah dan terus berjaya,” cuit @DianaDors_.

 

 

 

Editor: | dalam: Internasional |
Menarik Juga »