Biar Ramai, Pengelola Museum di Indonesia Harus Optimalkan Medsos

Petugas keamanan internal Museum Sangiran berjalan di dekat tembok bertuliskan Museum Manusia Purba Sangiran, baru-baru ini. (Kurniawan/JIBI/Solopos)Petugas keamanan internal Museum Sangiran berjalan di dekat tembok bertuliskan Museum Manusia Purba Sangiran, baru-baru ini. (Kurniawan/JIBI/Solopos)

Pengelola museum diminta memanfaatkan medsos.

Harianjogja.com, SOLO — Pengelola museum di Indonesia diminta mengoptimalkan penggunaan media sosial (medsos), salah satunya Instragram, agar ramai pengunjung. Sikap inovatif dan kreatif juga harus dikembangkan. Hal tersebut diungkapkan Kepala Museum Benteng Vredeburg Jogja, Zaimul Azzah, dan Kepala Unit Cluster Dayu Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Sragen, Muhammad Mujibur Rohman, secara terpisah kepada Solopos.com di sela-sela Workshop Pengelolaan Museum dan Taman Budaya di Hotel Sahid Jaya Solo, Rabu (18/10/2017).

Kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan Solo itu diikuti ratusan peserta yang kebanyakan guru SMP bidang studi IPS. Zaimul mengatakan pengelola museum harus berinovasi dan mengikuti perkembangan zaman agar tak tertinggal.

“Manfaatkan media sosial [medsos] seperti Facebook, Instagram, media massa cetak, dan elektronik untuk keterbukaan informasi publik,” kata dia.

Melalui medsos pengelola bisa tahu keinginan warga sehingga bisa menambah fasilitas seperti tempat untuk swafoto. Pengelola museum juga dituntut kreatif mengemas tata letak benda-benda yang dipamerkan. “Apabila museum dikelola dengan baik akan ramai dikunjungi orang,” kata dia.

Museum Benteng Vredeburg saat ini selalu ramai pengunjung. Jumlah pengunjung mencapai 2.000 orang per hari. “Setiap bulan jumlah pengunjung rata-rata 45.000 orang,” imbuh dia. Tidak kalah pentingnya adalah petugas museum yang ramah. “Jadikan museum sebagai tempat yang mendidik sekaligus menghibur,” saran Zaimul Azzah.

Kepala Unit Cluster Dayu BPSMP Sangiran, Sragen, Muhammad Mujibur Rohman, mengatakan inovasi dan pelayanan prima menjadi kunci agar museum ramai. “Untuk menyebarkan informasi mengenai Museum Sangiran kami menggunakan berbagai sarana seperti media cetak, elektronik, medsos, dan pameran,” jelas dia.

Museum Sangiran memiliki 30.000 koleksi fosil. Saat ini museum selalui ramai pengunjung. Pada 2016 jumlah pengunjung tercatat 500.000 orang. Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sragen, jumlah pengunjung Museum Sangiran terus turun mulai 2013 sampai 2016. Pada 2012-2013 jumlah pengunjung mencapai 300.000-400.000 orang sementara mulai 2014 hingga 2016 di kisaran 200.000 orang.

Rohman akan meningkatkan pelayanan berbasis IT untuk menampung aspirasi pengunjung. “Kami akan bersinergi dengan dunia pendidikan melalui musyawarah guru mata pelajaran [MGMP],” kata dia.

Kepala Museum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Susanto, mengatakan museum hendaknya dikembangkan sebagai ruang edukasi publik. “Fungsi museum menggabungkan ruang publik, sejarah, dan media inspirasi penilitian,” ujar dia.

Editor: | dalam: Travel |
Menarik Juga »