PLAY-OFF PIALA DUNIA
Kembang Api hingga Ritual Mistis Warnai Kekalahan Selandia Baru

Peru vs Selandia Baru (JIBI/REUTERS/Mariana Bazo)

Play-Off Piala Dunia diwarnai dengan kekalahan Selandia Baru.

Harianjogja.com, LIMA – Percayakah Anda dengan takhayul di sepak bola? Jika Anda menanyakannya pada publik Peru saat ini, mereka mungkin bakal mengiyakannya.

Peru baru saja melengkapi 32 tim yang lolos ke Piala Dunia 2018 setelah membungkam Selandia Baru 2-0 dalam play-off leg kedua di Estadio Nacional, Lima, Kamis (16/11/2017). Di balik kemenangan itu, Peru ternyata melancarkan serangkaian “teror” pada tim tamu.

Selain teror puluhan ribu pendukung La Blanquirroja, julukan Peru, Selandia Baru diketahui mendapat guna-guna sejumlah dukun di luar stadion. Ada yang menggunakan bunga, memakai ular untuk ritual, sampai membakar poster skuat Selandia Baru. Mereka meyakini ritual mistis itu dapat memengaruhi permainan All Whites, julukan Selandia Baru.

Entah kebetulan atau tidak, Chris Wood dkk. seperti kesulitan menembus pertahanan Peru yang dikomando Luis Advincula. All Whites bahkan sama sekali tak mencatat tembakan tepat sasaran selama 90 menit pertandingan. Sebaliknya, Peru melesakkan empat tendangan ke gawang yang dua di antaranya berbuah gol Jefferson Farfan dan Christian Ramos.

Nasib malang Selandia Baru ternyata tak hanya terjadi saat pertandingan. Jauh sebelum laga dimulai, pesawat yang dinaiki penggawa All Whites mengalami delay sehingga perjalanan mereka menuju Peru menjadi lebih lama.

Pesawat carteran mereka harus menunggu tiga jam untuk menunggu pengisian bahan bakar. Padahal waktu tempuh normal Wellington ke Lima dengan jarak 10.500 kilometer mencapai 24 jam. Itu belum termasuk “bencana” pengalihan penerbangan yang tak diketahui All Whites.

“Saya sempat bertanya pada pelayan pesawat berapa lama perjalanan ke Peru dan dia mengantakan, ‘kita tidak terbang ke Peru, kita akan ke Chile!,” rutuk Pelatih Selandia Baru, Anthony Hudson, dilansir newshub.co.nz, Kamis.

Sesampainya di bandara, Selandia Baru pun tak bisa langsung beristirahat menuju hotel. Mereka dibuat menunggu bus yang akan mengantarkan ke hotel. Perjalanan mereka dari bandara ke tempat mereka menginap di Lima juga dilaporkan sangat lambat.

Tiba di hotel bukan berarti All Whites terlepas dari gangguan. Mereka giliran dibuat sulit tidur dengan penyalaan kembang api di tengah malam. Hudson menyebut 24 jam terakhir jelang pertandingan benar-benar mengecewakan bagi timnya. “Kami tidak bisa tidur sepanjang malam karena kembang api,” keluh Hudson.

Rentetan kejadian ini membuat All Whites gagal menembus Piala Dunia ketiganya setelah tahun 1982 dan 2010. Sebaliknya, La Blanquirroja mampu menghapus dahaga publik Peru yang telah menanti selama 36 tahun. Kali terakhir mereka tampil di Piala Dunia adalah pada 1982.

Editor: | dalam: Internasional |
Menarik Juga »