Gulat Jateng Masih Bergantung Atlet Pesisir & Pegunungan

Pegulat, Putri Melinda Renaldi (atas), berusaha mengunci pegulat, Delvita, pada kelas Gaya Bebas Putri 58kg dalam Liga Gulat Jawa Tengah 2017 Gelombang III di Hartono Lifestyle Mall, Solo Baru, Sukoharjo, Minggu (12/11/2017). (JIBI/Solopos/M. Ferri Setiawan)

Pegulat Jawa Tengah rata-rata dari daerah pesisir dan pegunungan bukan perkotaan.

Harianjogja.com, SUKOHARJO — Perkembangan prestasi gulat di Jawa Tengah (Jateng) mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan menyusul keberhasilan mereka menduduki runner up Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2017.  Namun di balik capaian itu, gulat jateng masih cenderung bergantung pada atlet dari wilayah pesisir dan pegunungan. Belum banyak pegulat handal yang muncul dari wilayah perkotaan Jateng.

Hal itu diungkapkan Ketua Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Jateng, Andreas Budi Wirohardjo, saat berbincang dengan Solopos.com di Hartono Mall, Sukoharjo, beberapa waktu lalu. Menurut Andreas, simpul prestasi gulat di Jateng masih bertumpu pada daerah pesisir seperti Brebes dan Grobogan.

Di Liga Gulat Jateng 2017 lalu, dua atlet Grobogan sukses meraih juara yakni I Gusti Aderai di kelas 59 kilogram (kg) gaya grego putra serta Muammar Khadafi di kelas 65 kg gaya bebas putra. “Di Jateng, kecenderungan atlet handal memang dari wilayah pesisir pantai dan pegunungan. Iklim di sana mendukung dalam pembentukan tubuh dan stamina yang kuat,” ujar Andreas.

Dia mencontohkan daerah pegunungan bisa menggembleng para pegulat karena oksigen di kawasan tersebut cenderung tipis. Sehingga atlet dari pegunungan rata-rata punya stamina lebih ketimbang atlet dari perkotaan. Demikian halnya daerah pesisir macam Brebes. Cuaca yang panas dan lekat dengan kehidupan laut menjadikan atlet dari wilayah itu tahan banting.

“Mereka banyak dari anak nelayan yang terbiasa nyurung [mendorong] kapal. Keunggulan alamnya memang beda dibanding perkotaan. Kalau di kota, orang disuruh latihan gulat bisa jadi mikir pindo [berpikir dua kali],” tutur Andreas.

Pihaknya tak terlalu mempermasalahkan belum meratanya kontribusi pegulat handal di Jateng. Terlebih 14 dari 35 kabupaten/kota di Jateng belum memiliki pengurus cabang (pengcab) PGSI hingga saat ini. Andreas mengatakan berkembangnya gulat di suatu wilayah tidak bisa dihitung secara matematika.

“Gulat enggak harus bicara kuantitas, kalau kita rasa cukup ya cukup. Terpenting pengcab yang sudah ada bisa terus menelurkan pegulat handal.”

Wakil Ketua Bidang Organisasi PGSI Jateng, Budi Harto, mengatakan perkembangan gulat di perkotaan sebenarnya cukup baik seperti di Solo. Namun dia tak menampik perkembangan di wilayah seperti Grobogan lebih maju karena didukung suburnya klub gulat dan KONI setempat. “Intinya semua pihak terkait harus berkontribusi,” ujarnya.

Budi menyebut nihilnya pengcab PGSI di sejumlah daerah di Jateng tak lepas dari kurang intensnya KONI setempat untuk menggaungkan gulat. Pihaknya mengapresiasi Sukoharjo yang mampu membidani pengcab PGSI di wilayah itu dua bulan lalu.

“Selain keterlibatan KONI, belum adanya pengcab mungkin karena atlet gulat di wilayah terkait masih sedikit. Namun kami terus berupaya menggairahkan gulat lewat turnamen dari kota ke kota,” kata dia.

Editor: | dalam: Umum |
Menarik Juga »