Badai Cempaka Timbulkan Kerugian Ratusan Miliar di Gunungkidul

Sejumlah siswa SMK Negeri 1 Tanjungsari mengevakuasi perabot dan arsip penting sekolah menggunakan perahu karet saat banjir merendam sekolah mereka di Desa Kemadang, Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, Selasa (28/11/2017). (Harian Jogja/Desi Suryanto)Sejumlah siswa SMK Negeri 1 Tanjungsari mengevakuasi perabot dan arsip penting sekolah menggunakan perahu karet saat banjir merendam sekolah mereka di Desa Kemadang, Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, Selasa (28/11/2017). (Harian Jogja/Desi Suryanto)

Estimasi kerugian akibat bencana mencapai Rp100 miliar.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Banjir dan tanah longsor pekan lalu menimbulkan kerusakan infarstruktur yang cukup banyak. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul pun memperkirakan kerugian yang ditimbulkan akibat bencana banjir dan tanah longsor sekitar Rp100 miliar.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Edy Praptono memperkirakan kerugian akibat Badai Cempaka di Gunungkidul sekitar Rp100 miliar. Nilai kerugian tersebut dihitung berdasarkan banyaknya kerusakan ifrastruktur yang ditimbulkan akibat bencana. “Banyak jembatan, jalan dan rumah yang rusak. Kerugian fisik fisik, infrastruktur dan rumah estimasi kerugian mencapai Rp 100 miliar” ujarnya, Rabu (6/12/2017).

Kerusakan infrastruktur hampir tersebar di seluruh kecamatan di Gunungkidul. Sedikitnya ada 11 jembatan yang rusak berat, sembilan titik kerusakan jalan, dan ada sekitar 202 rumah yang mengalami kerusakan. Untuk titik terparah terdampak bencana yakni Kecamatan Semanu, Gedangsari, Playen, Karangmojo, Semin, Girisubo, Wonosari, Tanjunsari, Nglipar, Ponjong, Tepus, Patuk.

Dikatakannya, dampak kerugian itu dirasakan hampir oleh seluruh warga di Gunungkidul. Namun, tidak semua kerugian itu akan dibebankan kepada pemerintah kabupaten. Sampai saat ini pemerintah masih akan fokus melakukan perbaikan dan optimalisasi sarana dan prasarana umum. Sehingga jalan-jalan tidak lagi terputus dan aktivitas masyarakat kembali normal.

Melihat besarnya dampak kerusakan, maka skenarionya adalah sharing anggaran. Selain melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2018 juga mengajukan anggaran dana ke pusat dan provinsi. Setelah anggaran turun baru dapat dilakukan perbaikan. “Untuk perbaikan jembatan kurang lebih akan memakan waktu enam hingga tujuh bulan, sehingga belum bisa tahun ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Gunungkidul Suharno meminta agar penanganan korban menjadi prioritas. Selanjutnya mengenai perbaikan infrastruktur akan dilakukan sharing anggaran, pemkab, provinsi maupun pusat. “Kepada pemkab kami minta segera menyikapi dan mengambil hikmah dari kejadian yang menerpa Gunungkidul,” katanya.

Seperti diketahui, wilayah DIY dilanda banjir dan tanah longsor pada pengujung November lalu akibat dampak munculnya Badai Cempaka di selatan Jawa.

Editor: | dalam: Gunung Kidul |
Menarik Juga »