Filmmaker Remaja Solo Berjaya di Tokyo

Perwakilan kru film The Last Day of School ; penulis skenario, sutradara, dan editor Satria Setya Adhi Wibawa (kiri), penata artistik Firmin (tengah), perekam suara Ivan Ardiansyah (kanan) seusai berbincang dengan Solopos.com, Selasa (12/12/2017). (Ika Yuniati/JIBI/Solopos)Perwakilan kru film The Last Day of School ; penulis skenario, sutradara, dan editor Satria Setya Adhi Wibawa (kiri), penata artistik Firmin (tengah), perekam suara Ivan Ardiansyah (kanan) seusai berbincang dengan Solopos.com, Selasa (12/12/2017). (Ika Yuniati/JIBI/Solopos)

Filmmaker remaja, Spelans Creative Club mendapat penghargaan dalam ajang Digicon6 Asia Supreme Movie Contes di Jepang beberapa waktu lalu.

Harianjogja.com, SOLO–Filmmaker Solo terus menorehkan prestasi. Belasan remaja yang tergabung dalam klub pencinta film Spelans Creative Club unjuk gigi dalam kompetisi bergengsi.

Film mereka berjudul The Last Day of School diganjar penghargaan dalam ajang Digicon6 Asia Supreme Movie Contes di Jepang beberapa waktu lalu. Memenangi kategori Next Generation Regional Indonesia dalam kompetisi yang melibatkan 12 negara Asia. Penghargaan yang diselenggarakan Tokyo Broadcasting System (TBS) ini diserahkan secara langsung di Tokyo pada awal November.

Belum selesai euforia atas kemenangan mereka di Jepang, Spelans Creative Club kembali mendapat kabar bahagia. Karya keenam ini lagi-lagi diapresiasi para pencinta film luar negeri. The Last Day of School masuk daftar nominasi The Smile International Film Festival for Children & Youth (SIFFCY) yang berpusat di New Delhi, India. Berjajar dengan karya sineas remaja lainnya dari Irak, Belaruz, Brasil, dan India.

“Sebenarnya ini kami berangkat ke India. Tapi karena ada kendala dan informasinya mepet ya akhirnya enggak bisa ke sana,” kata sutradara Satria Setya Adhi Wibawa saat berbincang dengan solopos.com di rumahnya daerah Pajang, Selasa (12/12/2017).

Satriya yang juga didapuk sebagai penulis, sekaligus editor tak menyangka filmnya dianugrahi beragam penghargaan seperti sekarang ini. Padahal The Last Day of School merupakan proyek iseng yang dibuat sebagai kenang-kenangan terakhir sebelum lulus dari SMP Negeri 9 Solo. Film ini digarap 18 kru dan pemain yang semuanya dari sekolah tersebut pertengahan 2017. Saat itu mereka masih berstatus sebagai pelajar Kelas IX SMP.

Properti Seadanya

Proses shooting dilakukan selama tiga hari dengan seting SMP N 9 Solo. Sementara keseluruhan proses produksi diselesaikan selama dua bulan. Memilih genre fiksi mereka mengusung cerita soal ujian sekolah. Banyak kekonyolan dan kisah persahabatan yang terangkum dalam film berdurasi 10 menit.

Cerita sederhana ini juga tak membutuhkan biaya mahal. Produksi paling tinggi pada pembuatan musik, sementara properti shooting hanya menggunakan barang-barang seadanya. Penata artistik Firmin menyebutkan beberapa aksesoris pendukung shooting yang mereka gunakan seperti botol minyak wangi, buku, dan sapu tangan.

“Semuanya pakai barang yang ada. Kami enggak beli-beli,” kata dia. Selain The Last Day of School klub kreatif ini telah membuat beberapa karya termasuk memenangi lomba iklan layanan masyarakat. Meski sekarang berbeda sekolah Satria dan teman-temannya berencana membuat karya baru dalam waktu dekat. Sesuai dengan usia mereka, tema yang diangkat kemungkinan besar soal cerita remaja.

 

Editor: | dalam: Layar |
Menarik Juga »