Radiasi Nuklir Bisa Awetkan Gudeg Hingga 18 Bulan

Salah satu fasilitas di Laboratorium Iradiator Gamma STTN Batan, Selasa (19/12/2017). (Harian Jogja/Sunartono)Salah satu fasilitas di Laboratorium Iradiator Gamma STTN Batan, Selasa (19/12/2017). (Harian Jogja/Sunartono)

STTN menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki Iradiator

Harianjogja.com, SLEMAN-Nuklir, seringkali hanya untuk kepentingan pertahanan. Padahal radiasi bisa bermanfaat untuk mengawetkan makanan, tak terkecuali gudeg.

Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) Batan Jogja secara resmi telah memiliki laboratorium Iradiator Gamma dengan aktivitas 12.000 kilo currie (kCi) yang mulai dioperasikan pada Selasa (19/12/2017) kemarin. Alat ini secara fisik berbentuk menyerupai kerucut dengan diameter sekitar satu meter yang atasnya diberikan dominan warna hijau dan bawah berwarna putih.

STTN menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki Iradiator. Alat ini tidak hanya dapat digunakan untuk penelitian dan pendidikan, tetapi juga kepentingan bisnis, yaitu pengawetan makanan. Menggunakan sistem radiasi, makanan bisa awet berbulan-bulan bahkan tahun.

Cara mengoperasikannya, makanan atau benda yang akan diradiasi gamma lebih dahulu dikemas dalam wadah tertentu, kemudian dimasukkan ke dalam mesin iradiator tersebut. Sebelum memulai, petugas akan menggunakan panel pengontrol yang jaraknya hanya sekitar 1,5 meter dari titik mesin.

Di panel tersebut, petugas dapat mengatur dosis atau waktu radiasi. Jika data yang dimasukkan waktu, maka secara otomatis dosis radiasi akan muncul sendiri. Sebaliknya jika data dosis yang dimasukkan, maka akan muncul butuh waktu berapa lama dalam memberikan radiasi. Benda yang akan diradiasi kemudian masuk dengan posisi turun dan keluar dengan posisi naik sesuai waktu yang telah diatur.

Selama makanan itu diradiasi, petugas membawa alat ukur pencemaran tadiasi dan mengantongi pen pencatat agar diketahui paparannya ke manusia. “Sekitar 30 detik, tergantung dosisnya,” ujar Ketua STTN Batan Edy Giri Rachman, Selasa (19/12/2017).

Batan sendiri saat ini sedang melakukan penelitian terhadap gudeg Jogja untuk diradiasi agar bisa diawetkan dan tahan lama. Dengan alat itu, proses radiasi makan tersebut saat ini bisa dilakukan di STTN, meski penelitian berlangsung di Batan Jakarta.

Selain di STTN, Batan memiliki Iradiator Gamma di Serpong dengan kapasitas 300.000 kilo currie (kCi) yang memberikan layanan komersial industri untuk pengawetan makanan seperti rendang dan lain-lain. Laboratorium Iradiator Gamma di STTN Batan Babarsari, Sleman akan diutamakan untuk pendidikan dan penelitian, meski juga memungkinkan untuk mendukung industri ke depannya.

Saat ini dalam proses penelitian untuk mengawetkan makanan khas Jogja, gudeg, seperti halnya rendang yang bisa awet hingga 18 bulan. Penelitian butuh proses panjang, karena banyak komponen di dalam gudeg, sehingga memerlukan dosis racikan radiasi yang tepat untuk membunuh mikroorganisme di dalam gudeg.

“Gudeg masih kami teliti, karena kompleksitasnya ada krecek, nangka, telur, tahu, tempe ayam. Beda-beda, membutuhkan penelitian masing-masing untuk menentukan berapa radiasi yang aman dan mengawetkan. Itu prinsipnya hanya membunuh mikrorganisme. Atau makhluk kecil pembusuk tadi dibunuh dengan radiasi,” terang Kepala Batan Profesor Djarot Sulistio Wisnubroto seusai peresmian Laboratorium Iradiator Gamma dan Asrama di STTN Batan, Babarsari.

Penelitian gudeg yang dilakukan di Laboratorium Iradiator Pasar Jumat, Jakarta, memungkinkan untuk ditarik ke Jogja dilanjutkan di STTN Batan. Tidak hanya gudeg, Laboratorium Iradiator STTN dapat meneliti buah-buahan seperti Salak untuk diawetkan. STTN diharapkan akan diperhitungkan secara nasional hingga internasional jika memberikan layanan iradiator. “Mungkin tidak ada perguruan tinggi termasuk di ITB UGM pun tidak punya fasilitas selengkap di STTN,” ujarnya.

Penelitian gudeg telah dilakukan sejak awal 2017, tetapi karena banyak komponen yang diteliti sehingga belum menghasilkan kepastian dosis radiasi. Peneliti harus menentukan lebih dahulu radiasi yang dibutuhkan untuk membunuh mikroorganisme di setiap komponen gudeg. Setelah masing-masing diperoleh dosis, kemudian digabungkan menjadi satu guna menghasilkan dosis radiasi secara umum yang bisa untuk sekali pakai terhadap semua komponen gudeg.

Lantaran belum mendapatkan data dosisnya belum bisa menetapkan biaya yang dibutuhkan bagi pengusaha gudeg untuk mengawetkan melalui radiasi. “Kalau sudah didapat dosisnya, nah itu baru bisa dihitung [biayanya],” ucap Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Batan Profesor Efrizon Umar.

STTN akan mengupayakan pemanfaatan laboratorium itu untuk pengembangan kemampuan dosen dan mahasiswa. Selain laboratorium iradiator, STTN memiliki dua fasilitas baru yaitu asrama tiga lantai yang digunakan untuk menampung mahasiswa baru mulai 2018. Serta laboratorium distributed control system (DCS) yang merupakan suatu sistem pengendali distribusi yang dapat dikendalikan semua orang dengan cepat dan mudah.

“Mahasiswa kami jadi mengetahui bagaimana cara meradiasi makanan, ini sangat berguna bagi pengembangan penelitian,” kata Ketua STTN Batan Edy Giri Rachman.

Editor: | dalam: Pendidikan |
Menarik Juga »