Kebijakan USBN Delapan Mapel Telah Melalui Kajian Panjang

Ilustrasi siswa SD ujianIlustrasi siswa SD ujian (Dok/JIBI/Solopos)

Kebijakan ini untuk membentuk karakter siswa

Harianjogja.com, JOGJA-Penetapan kebijakan delapan mata pelajaran (mapel) dalam Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) telah melalui pertimbangan dan uji publik. USBN dengan jamak mapel untuk membentuk karakter siswa agar tidak melecehkan suatu mata pelajaran.

Mantan Dirjen Dikdasmen Kemendiknas yang menjadi anggota Tim Ahli (Ad Hoc) BSNP era Kemendibud Profesor Suyanto menyatakan, perubahan kebijakan ujian menjadi USBN dengan menghadirkan delapan mata pelajaran merupakan bentuk pendidikan yang dinamis sehingga tidak selalu sama dari waktu ke waktu. Kebijakan itu diusulkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) ini bukan tanpa kajian.

Menurutnya berbagai kajian, riset telah dilakukan sebelum mengusulkan model ujian itu, bahkan telah menampung aspirasi para guru. Banyak ahli yang terlibat dalam proses itu dan tidak dilakukan secara sembarangan bahkan uji publik telah dilakukan BSNP.

“Itu sudah melalui proses aspirasi guru, karena guru menganggap mata pelajaran yang tidak di-UASBN-kan itu murid merasa melecehkan saja,” terangnya kepada Harianjogja.com, Sabtu (6/1/2018).

Ia menambahkan, jika anak mulai melecehkan suatu mata pelajaran, maka akan menjadi kebiasaan melecehkan hal lain di kemudian hari. “Mungkin yang dilecehkan selanjutnya bukan soal mata pelajaran, misalnya saja diajak dolan ke tempat simbahnya tidak mau,” ujar dia.

Selain itu, kebijakan itu dapat membentuk karakter siswa dalam membangun sikap respons anak pada orang lain. Ia menilai, ada penurunan karakter yang signifikan, anak di era modern saat ini dibandingkan anak saat puluhan tahun silam dalam hal menghargai orang lain. Menurutnya, pembentukan karakter dapat dibentuk dengan berbagai cara, harus terintegrasi tak terkecuali proses ujian, karena sekolah yang menyatakan berkurikulum membentuk karakter belum tentu cocok dengan siswa. “Zaman dulu murid pada guru respons luar biasa, sekarang kalau ketemu di jalan bisa jadi siswa tidak menyapa,” ujar dia.

Memasukkan delapan mapel tersebut, lanjutnya, sebagai solusi atas fenomena murid melecehkan mapel yang tidak masuk dalam ujian nasional. Ujian selanjutnya menjadi tagihan terhadap siswa yang diharapkan dapat mempelajari dan menghargai mapel tersebut karena masuk dalam USBN.

Selain itu, fungsi ujian untuk memberi insentif kepada proses pembelajaran dan tidak sekadar untuk melihat kompetensi lulusan. USBN juga membuat siswa mempersiapkan diri, sekaligus sebagai evaluasi bagi guru jika ada pokok bahasan tertentu yang masih lemah dengan melihat hasil ujian tersebut. Sehingga, guru dapat mengevaluasi dari sisi pendekatan, metode hingga waktu pembelajaran.

“Kalau di negara maju sampai waktu detail proses pembelajaran itu dipikirkan, bahkan di Amerika, pelaksanan ujian tidak dilakukan setelah hari libur seperti hari Senin, mengapa? Karena pikiran anak belum siap, dia masih liburan saja, itu dunia anak yang harus diperhatikan,” jelasnya.

Guru Besar UNY ini mendorong, para siswa untuk tetap santai menghadapi USBN, tidak perlu sibuk mengikuti tambahan pelajaran seperti les. Karena ujian seharusnya menjadi hal biasa dilakukan siswa di sekolah untuk melihat daya serap mereka terhadap suatu pokok bahasan. “Bahasa sederhananya begitu [ulangan harian], tetapi bahasa menakutkannya USBN,” ucap pakar pendidikan ini.

Editor: | dalam: Pendidikan |
Menarik Juga »