GAGASAN
Pelayanan Medis Olahraga

Rumi Iqbal DoewesRumi Iqbal Doewes (Istimewa)

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (18/10/2017). Esai ini karya Rumi Iqbal Doewes, dosen di Program Studi Kepelatihan Olahraga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah king.doewes@staff.uns.ac.id.

Harianjogja.com, SOLO–Pencinta sepak bola Indonesia pantas berduka. Penjaga gawang Persela Lamongan Choirul Huda meninggal dunia setelah terlibat insiden dalam lanjutan pertandingan Liga 1.

Choirul Huda bersama rekan-rekannya di Persela pada Minggu (15/10) sore bertanding melawan Semen Padang di Stadion Surajaya, Lamongan, Jawa Timur, pada laga pekan ke-29 Liga 1.

Pertandingan dimulai pukul 15.00 WIB. Pemain kelahiran Lamongan itu meninggal pada usia 38 tahun di RSUD dr. Soegiri, Lamongan. Insiden terjadi satu menit sebelum turun minum. Choirul Huda bertabrakan dengan rekannya sendiri, bek Ramon Rodrigues.

Keduanya saat itu sama-sama berusaha menghalau bola dari jangkauan pemain Semen Padang. Saat mencegah serangan pemain Semen Padang Marcel Sacramento, Choirul Huda yang mencoba menangkap bola terkena kaki Ramon. Setelah benturan keras tersebut Choirul Huda sebenarnya masih sadar. Dia berlutut memegangi dadanya dan kemudian tidak sadarkan diri.

Choirul Huda dan Persela tak terpisahkan. Ia menjadi kiper utama klub tersebut sejak 2002. Meski saat ini usianya sudah 38 tahun, kiper asli Lamongan itu sering kali menjadi pilihan utama, siapa pun pelatihnya. Ia nyaris tanpa pesaing di bawah mistar gawang Persela.

Selanjutnya adalah: Ia jadi pilihan utama karena kemampuannya mumpuni

Editor: | dalam: Kolom |
Menarik Juga »